Sendang Banyu Urip bukan sekadar tanah grumbul di sudut desa. Namun jejak dan petunjuk tentang bagaimana sebuah tempat menamai dirinya.
Sendang Banyu Urip yang berada di Dusun Joho, Desa Braboan, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, mungkin hanya terlihat sebagai tanah grumbul di pinggir jalan. Namun, ia menyimpan banyak fakta peradaban, termasuk peran penting sebagai penyeimbang ekosistem bumi.
Keteduhan benar-benar terasa, di kawasan yang selama ini dikenal akan hawa panasnya. Pepohonan raksasa gagah berdiri, tabah memayungi mata air kecil di bawahnya. Sementara gemlegher suara flare terdengar ritmis, menggemakan harapan dan kecemasan di saat bersamaan.
Lokasi Sendang Banyu Urip tak jauh dari lapangan Migas. Meski berada di luar pagar, jaraknya hanya 500 meter dari gerbang utara. Tak ayal jika suara flare terdengar begitu jelas. Namun, teduhnya suasana, segarnya atmosfer udara, hingga banyaknya pepohonan yang mendongakkan kepala, membawa kesejukan teramat istimewa.
Sendang Banyu Urip memang tak begitu menarik perhatian publik. Ia hanya tanah grumbul yang di bawahnya terdapat sumber mata air. Namun, tempat ini menjadi istimewa karena menyimpan bermacam biodiversitas flora dan fauna. Bagi tempat yang amat dekat dengan lapangan Migas, keberadaannya tentu punya nilai amat berharga.
Data dihimpun Tim Riset Jurnaba (TRJ) menunjukan, di tempat ini ada banyak pepohonan berusia tua seperti; Pohon Aren, Asam Jawa, Beringin Krasak, hingga Pohon Ara. Dari jenis maupun usia, keberadaan pepohonan ini memang jadi pertanda, bahwa masa silam tak pernah benar-benar hilang.

Asam Jawa, Pohon Aren, Beringin Krasak, hingga Pohon Ara, adalah uborampe penyelaras peradaban, identitas masyarakat Medang Kamulan yang hidup di Pegunungan Kendeng. Pohon-pohon itu tak sekadar tumbuh begitu saja, tapi berpola dan kerap ditanam kembali, ketika sudah mati.
Empat beringin raksasa membentuk format mandala, memayungi lahan dan menggemburkan struktur tanah di bawahnya. Akar melilit kuat, memeluk tebing dan memecah lapisan akuifer, meloloskan air dari bawah, agar merembes ke permukaan tanah. Inilah metode Medang Kamulan dalam memelihara air kehidupan.
Baca Juga: Medang Kamulan, Cikal Bakal Masyarakat Njipangan
Mandala Suci Tanpa Candi, adalah identitas khusus yang disemat untuk Lemah Citra, bukit berkapur mengandung lenga, yang menjadi tempat sekaligus pusat keberadaan Citralekha — para begawan dan cendekiawan kuno yang hidup pada masa Medang Kamulan. Keberadaan mereka lestari bukan dalam bentuk fisik, namun dalam metode dan konsep memperlakukan alam.
Sumber mata air yang berada di bawah pohon-pohon besar itu, juga membawa kabar gembira. Meski debit airnya kini semakin mengecil, faktanya masih menyimpan bermacam insecta — kumbang air, belalang, larva nyamuk, hingga barisan berudu masih banyak terlihat. Dan kehadiran hewan-hewan itu, sering dikaitkan dengan indikator kualitas air yang baik.
Hari ini, Sendang Banyu Urip mungkin hanya dikenal sebagai ruang grumbul di sudut desa — tempat di mana mobilitas manusia tak begitu menaruh perhatian kepadanya. Namun 200 tahun lalu, tempat ini adalah episentrum kehidupan sosial. Namanya bahkan menjadi petunjuk penting atas antropologi masyarakat di wilayah ini.

Dari data maps KTILV di atas, terlihat jelas bahwa Banyu Urip bukan sekadar sendang. Tapi nama sebuah dusun yang luas. Sementara titik sendang adalah tanah ulayat. Tanah masyarakat. Tanah kolektif yang tak bisa dimiliki individu. Tanah yang menjadi pancer sosial, sitinggil keramat untuk berinteraksi dan bersosial masyarakat.
Wajib diketahui, 200 tahun lalu, kawasan ini terdapat tiga dusun. Ketiganya adalah Dusun Banyu Urip, Dusun Braboan, dan Dusun Tanggungan. Tiga dusun ini kemudian djadikan satu menjadi Desa Braboan. Hari ini, Desa Braboan memang terdapat tiga dusun. Di antaranya adalah Dusun Joho, Dusun Braboan, dan Dusun Tanggungan. Ya, Dusun Joho adalah nama baru. Belum lama. Sebelumnya, tempat ini bernama Dusun Banyu Urip. Pertanyaannya, kenapa Dusun Banyu Urip hilang dan diganti Dusun Joho?
Jawabannya mungkin sederhaha. Sebab, kemajuan zaman memicu penghargaan manusia terhadap alam cenderung mengalami penurunan. Tapi mungkin, jawabannya juga tidak sederhana. Sebab, menghilangkan nama adalah metode paling ampuh untuk menumpas peradaban manusia.
Sendang Banyu Urip, diakui atau tidak, adalah jejak masa silam yang masih membawa manfaat hingga kini. Ia adalah gambaran nyata dari ageman kuno masyarakat Medang Kamulan yang berbunyi: Lengo Urup Banyu Urip, Lengo Diurupi, Banyu Diuripi.
Di era ketika perubahan iklim membuat musim tak menentu dan ketersediaan air semakin rapuh, sendang akan memainkan peran vital sebagai stabilisator ekologis. Ia berperan menjaga cadangan air tanah dan menjadi indikator kesehatan akuifer. Jika sendang mengering, ini tanda keseimbangan air tanah terganggu.
Sendang bukan sekadar air yang muncul ke permukaan. Tapi sistem ekologis yang bekerja diam-diam menjaga kehidupan, sejak ratusan tahun silam. Sendang akan menjadi penopang, ketika krisis air bersih datang. Ini alasan kenapa setiap tempat yang memiliki sendang harus disyukuri. Dalam artian, dirawat dan diruwat dengan azaz manfaat.








