Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Critical Thinking dan 5 Alasan Kamu Membutuhkannya

Bakti Suryo by Bakti Suryo
06/04/2020
in JURNAKULTURA
Critical Thinking dan 5 Alasan Kamu Membutuhkannya

Menurut penulis buku berjudul Rentang Kisah, Gita Savitri Devi berpikir kritis merupakan sebuah proses.

Whatsaap Group (WAG) cukup sering membuat jengkel. Terlebih WAG keluarga besar. Banyak share artikel bersliweran tanpa jelas jeluntrungan-nya. Ujungnya, satu-dua anggota grup eyel-eyelan.

Artikel sebaran WAG bisa sangat berbahaya. Terlebih jika itu berunsur hoax atau kebohongan. Tiwas eyel-eyelan sampai berantem, ternyata tidak benar. Rugi putus silaturahmi kan?

Sama halnya dengan media pemberitaan dan media sosial. Tetap saja potensi sebaran hoax terjadi. Arus informasi begitu deras. Ini peluang bagus untuk menebar propaganda dan terror.

Jurus jitu melawan hoax adalah dengan critical thinking. Gini aja, dalam Bahasa Indonesia artinya berpikir kritis. Bukan keadaan kritis seperti adegan di sinetron. Jangan gagal paham. Ini beda.

Critical thinking maksudnya berpikir secara kritis. Ini sudah sering dibahas para filsuf dan psikolog. Istilah lainnya yaitu reclective thinking. Pada 1910, seorang Educational Reformer asal Amerika Serikat, John Dewey mendedinisikan istilah tersebut.

“Reclective Thinking is an active, persistent and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it, and the further conclusions to which it ends.”

Menurut penulis buku berjudul Rentang Kisah, Gita Savitri Devi berpikir kritis merupakan sebuah proses. Melansir channel youtube miliknya, Gita berbagi alasan dan manfaat berpikir kritis (18/3).

1. Kebebasan dalam berpikir.

Kritis dalam berpikir membuat kamu merasa bebas. Terutama dalam membuat keputusan dan menentukan sikap. Keputusan yang kamu ambil adalah 100 persen milik kamu. Tanpa terpapar dan terintervensi kepentingan orang lain.

“Jadi kita melakukan sesuatu benar-benar atas keputusan kita sendiri,” kata perempuan yang kini tinggal di Jerman tersebut.

2. Percaya diri dengan opini dan pemikiran sendiri.

Kamu akan merasa yakin dengan opini kamu. Itu karena kamu percaya terhadap hasil pemikiran sendiri. Tentunya setelah mereduksi bias dari dalam diri. Misalnya suka atau tidak suka terhadap topik dan isu.

“Kita menjadi percaya diri dan yakin terhadap keputusan sendiri,” ucap youtuber tersebut.

3. Menjadi lebih open minded

Pikiran akan lebih terbuka. Sudut pandang terhadap isu semakin luas. Tidak terpenjara dalam kebebalan sehingga informasi yang diterima lebih banyak. Bisa jadi semakin bijaksana dalam merespon isu.

“Kita aware akan argumen atau ide lain yang sama-sama valid,” terangnya.

4. Meningkatkan kemampuan dan fungsi literasi

Literasi bukan hanya baca-tulis. Ini juga berhubungan dengan kemampuan seseorang. Terutama dalam menangkap dan melempar informasi. Berpikir kritis meminimalisir potensi gagal paham.

“Banyak orang bisa baca dan tulis, tapi yang masih rendah adalah functional literacy-nya. Untuk simple narative aja, banyak orang gagal paham, bahasanya,” jelas perempuan berhijab tersebut.

5. Terhindar dari manipulasi

Manipulasi informasi bisa kamu hindari. Misalnya hoax, pengalihan isu atau agenda setting media. Berpikir kritis akan membiasakan diri melakukan identifikasi informasi. Sehingga, bias yang ada bisa kamu kurangi seminimal mungkin.

Menghadapi arus informasi saat ini, berpikir kritis tentu diperlukan. Ini demi menghindari gagal paham. Ya agar tidak malu-maluin kalau salah, apalagi ditambah ngeyel. Jadi, kita bisa memilah mana yang benar, valid atau tidaknya informasi.

Tags: Critical Thinking
Previous Post

Kopi Dalgona, Corona dan Yasonna

Next Post

Alone At Last dan Distorsi Musik Emo Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan
JURNAKULTURA

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

13/08/2026
Rasa Pahit yang Diam-Diam Menyelamatkan Kita
JURNAKULTURA

Rasa Pahit yang Diam-Diam Menyelamatkan Kita

06/08/2026
Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah
JURNAKULTURA

Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah

23/07/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

15/08/2026
Penutupan KKN Unigoro: Ketika Batik Lantung Menjadi Jejak yang Ditinggalkan di Drenges

Penutupan KKN Unigoro: Ketika Batik Lantung Menjadi Jejak yang Ditinggalkan di Drenges

15/08/2026
Gelar Paripurna Istimewa, DPRD Bojonegoro Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden RI

Gelar Paripurna Istimewa, DPRD Bojonegoro Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden RI

14/08/2026
Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

13/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: