Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Di Sekitar Jendela Makrifat 

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
03/12/2022
in Fiksi Akhir Pekan
Di Sekitar Jendela Makrifat 

Jangan terburu-buru buka jendela. Jangan hanya siapkan mata belaka.

Langit sore yang gelap menuju petang. Orang-orang lalu-lalang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menenteng pakaian setelah seharian dipanaskan di bawah mentari. Ada juga yang terpaku pada kitab suci.

Kitab suci mampu membuat mulut komat-kamit mengiringi terbenamnya mentari.

Jeda kegiatan perkuliahan, Alexandra mengisi waktu dengan menulis. Ditemani secangkir kopi Arab dan satu piring yang dihiasi oleh dua buah kebab.

Tahun ke-dua, Alexandra menempuh studi jurusan seni di sebuah perguruan tinggi yang berada di bawah cakrawala Baghdad.

Tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren, membuat Alexandra mudah memahami dinamika sosial dan budaya Baghdad. Dan khususnya tentang bahasa.

Dia akrab dengan pemikiran sufistik Imam Ghazali. Sejak berada di bangku aliyah, Alexandra sudah membaca beberapa buah pikir dari Imam Ghazali atau yang juga dikenal sebagai argumentator Islam dari Thus.

Hingga Alexandra memiliki keinginan untuk bertemu Imam Ghazali dalam mimpi. Namun, hingga Alexandra memasuki usia awal kepala tiga, Tuhan belum mengabulkan keinginannya.

Di sela-sela menyelesaikan tesis, Alexandra sering menghabiskan waktu di warung kopi, maktabah, dan menziarahi reruntuhan puing tua di Baghdad.

Ketika jenuh bergelut dengan tugas akhir, ia sesekali memandang langit. Terbayang wajah bapak dan ibu Alexandra yang lebih dulu memulai kehidupan yang abadi.

Sesekali Alexandra menundukkan kepala, mengusap mahkota kepala, dan memfokuskan pandangan mata ke cairan hitam yang menenangkan ‘kopi’.

Kopi menuntunnya mengarungi fase kehidupan yang amat sangat menyenangkan namun terasa gersang. Rembulan senantiasa menghiasi cakrawala selamanya.

Menginjakkan kaki di lokalisasi, menenangkan diri di sekitar stasiun kota, hujan-hujan di tengah malam dengan niat mensyukuri nikmat Tuhan.

Hingga wajah ibu Alexandra menyembul di cairan kopi yang dihidangkan di hadapannya. Baunya menyeruak dan mengisi bagian kecil ruangan warung kopi. Ibu Alexandra mengelurkan kalimat, “Mau jadi apa kau, nak?”.

Seketika Alexandra langsung mengangkat kepala dan malam jatuh di negeri 1001 malam.

Bersambung.

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

Kemiskinan Kronis dan Diversifikasi Ekonomi Lokal Bojonegoro

Next Post

Sebuah Tulisan tentang Siklus Ketidakpastian

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: