Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Diskriminasi Ras di Amerika dan Santainya Warga Indonesia

Bakti Suryo by Bakti Suryo
08/06/2020
in JURNAKULTURA
Diskriminasi Ras di Amerika dan Santainya Warga Indonesia

Perlakuan rasis menjadi isu sosial yang amat penting. Buktinya, muncul aksi solidaritas masyarakat terkait isu rasisme. Bahkan, di berbagai belahan dunia. Misalnya Australia dan Selandia Baru.

Jalanan Amerika dipenuhi demonstran dalam aksi solidaritas. Itu semenjak kematian pria kulit hitam bernama George Floyd pada Senin (25/5) di Minneapolis. Floyd ditahan polisi setempat karena laporan penggunaan uang palsu.

Saat penahanan, tampak seorang polisi berlutut di atas leher Floyd. Pria kulit hitam berusia 46 tahun itu berteriak “I can’t breath!“. Dia mengaku tidak bisa bernafas. Akibatnya, dia kehabisan nafas dan meninggal.

Tak lama berselang, aksi demonstrasi meledak. Gelombang protes masyarakat muncul menuntut keadilan. Peristiwa tersebut dinilai sebagai tragedi rasial. Bahkan, dianggap terburuk selama puluhan tahun terakhir.

Amerika sebagai negara maju, ternyata masih belum beres 100 persen. Kekacauan sipil dan perilaku diskriminasi masih kerap terjadi. Perlakuan rasis masih dilakukan, bahkan oleh seorang aparat negara.

Perlakuan rasis menjadi isu sosial yang amat penting. Buktinya, muncul aksi solidaritas masyarakat terkait isu rasisme. Bahkan, di berbagai belahan dunia. Misalnya Australia dan Selandia Baru.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya, isu ini masih dianggap enteng. Padahal, apa yang terjadi cukup memprihatinkan. Contohnya seperti yang dialami warga Papua dan Papua Barat.

Warga Papua sering jadi korban rasial. Perbedaan fisik membuat warga Papua yang merantau ke Pulau Jawa atau daerah lainnya di Indonesia jadi bahan olok-olokan.

Butuh solidaritas sesama untuk menciptakan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan cara “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sesuai dengan Pancasila.

Namun, apa yang terjadi? Netizen indonesia riuh justru sendiri di media sosial. Nampaknya, warga Indonesia belum terlalu ngeh dan paham mengenai rasisme itu sendiri.

Ejekan yang membawa suku dan ras masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ini sempat terjadi ketika ramai di media sosial mengenai istilah Jamet Kuproy yang merupakan singkatan dari Jawa Metal Kuli Proyek.

Istilah tersebut muncul ketika dua orang berjoget ria di medium TikTok. Keduanya tampil dengan dandanan unik. Terutama bagian rambut.

Ini sangat menyedot perhatian. Rambut gondrong mirip ninja Konoha, Sasuke. Bajunya gombrong ala hiphop dan celana skinny dedel duwel penuh sobekan.

Istilah Jamet dan kuproy menyasar pada satu identitas masyarakat, yaitu orang Jawa. Tentunya ini masuk dalam kategori tindkaan rasial. Ejekan yang ditunjukan pada satu kelompok tertentu.

Sepertinya, orang Jawa sendiri cukup santai. Tidak pusing menanggapi hal itu. Orang Jawa itu Njawani, memahami. Bahkan, ikut tertawa menanggapi video tersebut. Dikata Jamet atau Kuproy, bukan masalah. Yang penting adalah karya. Hahahaha.

Bahkan, dilingkaran pergaulan orang Jawa pun masih ada diskriminasi. Satu teman berkulit hitam, sudah dijuluki aneh-aneh. Entah disapa Blacky, Oli, Kecap, Petis, Cemani, Malika dan masih banyak lagi. Meski lumrah terjadi, ini termasuk tindakan rasial.

Melihat gejolak sosial di Amerika, masyarakat sadar akan isu rasial. Ini penting untuk diperhatikan. Namun, harus secara menyeluruh. Bukan saja karena viralnya peristiwa, melainkan karena pentingnya kemanusiaan.

Sudah saatnya memahami isu rasial ini di Indonesia. Jangan sampai budaya rasis terus-terusan lestari di Indonesia.

Tags: Diskriminasi RasialJawa
Previous Post

Menelisik Akar Kebijakan Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia

Next Post

5 Cara Sederhana Menghentikan Overthinking

BERITA MENARIK LAINNYA

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

29/09/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Membongkar Akar Trauma Franz Kafka dan Pembangkangan Max Brod demi Warisan Sastra bagi Peradaban

Membongkar Akar Trauma Franz Kafka dan Pembangkangan Max Brod demi Warisan Sastra bagi Peradaban

06/11/2026
Sadap: Mengambil dengan Melukai

Sadap: Mengambil dengan Melukai

05/11/2026
Membaca Madinah: Bagaimana Arab Saudi Mengembangkan Kota Nabi (2)

Membaca Madinah: Bagaimana Arab Saudi Mengembangkan Kota Nabi (2)

04/11/2026
Diakui UNESCO: Geopark Bojonegoro Mendunia, Bumi Harus Dijaga

Diakui UNESCO: Geopark Bojonegoro Mendunia, Bumi Harus Dijaga

03/11/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: