Perlakuan rasis menjadi isu sosial yang amat penting. Buktinya, muncul aksi solidaritas masyarakat terkait isu rasisme. Bahkan, di berbagai belahan dunia. Misalnya Australia dan Selandia Baru.
Jalanan Amerika dipenuhi demonstran dalam aksi solidaritas. Itu semenjak kematian pria kulit hitam bernama George Floyd pada Senin (25/5) di Minneapolis. Floyd ditahan polisi setempat karena laporan penggunaan uang palsu.
Saat penahanan, tampak seorang polisi berlutut di atas leher Floyd. Pria kulit hitam berusia 46 tahun itu berteriak “I can’t breath!“. Dia mengaku tidak bisa bernafas. Akibatnya, dia kehabisan nafas dan meninggal.
Tak lama berselang, aksi demonstrasi meledak. Gelombang protes masyarakat muncul menuntut keadilan. Peristiwa tersebut dinilai sebagai tragedi rasial. Bahkan, dianggap terburuk selama puluhan tahun terakhir.
Amerika sebagai negara maju, ternyata masih belum beres 100 persen. Kekacauan sipil dan perilaku diskriminasi masih kerap terjadi. Perlakuan rasis masih dilakukan, bahkan oleh seorang aparat negara.
Perlakuan rasis menjadi isu sosial yang amat penting. Buktinya, muncul aksi solidaritas masyarakat terkait isu rasisme. Bahkan, di berbagai belahan dunia. Misalnya Australia dan Selandia Baru.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya, isu ini masih dianggap enteng. Padahal, apa yang terjadi cukup memprihatinkan. Contohnya seperti yang dialami warga Papua dan Papua Barat.
Warga Papua sering jadi korban rasial. Perbedaan fisik membuat warga Papua yang merantau ke Pulau Jawa atau daerah lainnya di Indonesia jadi bahan olok-olokan.
Butuh solidaritas sesama untuk menciptakan “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan cara “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sesuai dengan Pancasila.
Namun, apa yang terjadi? Netizen indonesia riuh justru sendiri di media sosial. Nampaknya, warga Indonesia belum terlalu ngeh dan paham mengenai rasisme itu sendiri.
Ejekan yang membawa suku dan ras masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ini sempat terjadi ketika ramai di media sosial mengenai istilah Jamet Kuproy yang merupakan singkatan dari Jawa Metal Kuli Proyek.
Istilah tersebut muncul ketika dua orang berjoget ria di medium TikTok. Keduanya tampil dengan dandanan unik. Terutama bagian rambut.
Ini sangat menyedot perhatian. Rambut gondrong mirip ninja Konoha, Sasuke. Bajunya gombrong ala hiphop dan celana skinny dedel duwel penuh sobekan.
Istilah Jamet dan kuproy menyasar pada satu identitas masyarakat, yaitu orang Jawa. Tentunya ini masuk dalam kategori tindkaan rasial. Ejekan yang ditunjukan pada satu kelompok tertentu.
Sepertinya, orang Jawa sendiri cukup santai. Tidak pusing menanggapi hal itu. Orang Jawa itu Njawani, memahami. Bahkan, ikut tertawa menanggapi video tersebut. Dikata Jamet atau Kuproy, bukan masalah. Yang penting adalah karya. Hahahaha.
Bahkan, dilingkaran pergaulan orang Jawa pun masih ada diskriminasi. Satu teman berkulit hitam, sudah dijuluki aneh-aneh. Entah disapa Blacky, Oli, Kecap, Petis, Cemani, Malika dan masih banyak lagi. Meski lumrah terjadi, ini termasuk tindakan rasial.
Melihat gejolak sosial di Amerika, masyarakat sadar akan isu rasial. Ini penting untuk diperhatikan. Namun, harus secara menyeluruh. Bukan saja karena viralnya peristiwa, melainkan karena pentingnya kemanusiaan.
Sudah saatnya memahami isu rasial ini di Indonesia. Jangan sampai budaya rasis terus-terusan lestari di Indonesia.








