Dukuh Pagung merupakan dukuh kecil yang menyimpan berjuta cerita. Beberapa di antaranya kisah mistis saat Bulan Ramadhan tiba.
Gema orang ngaji terdengar di beberapa penjuru Dukuh Pagung. Rita, Aiysah, Jaju, Samad, dan kawan-kawan ngaji Al-Qur’an di langgar yang dekat dengan gapura. Berbagai bunyi petasan sesekali terdengar.
Gorengan polo pendem, teh, kopi, dan air mineral menjadi saksi bisu kala mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Saking asyiknya mereka ngaji Al-Qur’an, tak terasa waktu menunjuk pukul 23.15 WIB. Kemudian datang Paimin atau yang akrab disapa Mbah Min.
Mbah Min melihat Rita, Aisyah, Jaju, Samad, dan kawan-kawan mengaji. Setelah mereka selesai mengaji, mereka tidak langsung pulang ke rumah tetapi jagongan terlebih dahulu.
“He..nek wes tadarus, ndang muleh, oleh turu langgar, tapi ojo turu bagian imam”. Jaju yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, amat sangat penasaran dengan kalimat yang diucapkan oleh Mbah Min.
Kemudian Mbah Min berkata, “Dek biyen, pas jamanku turu langgar, koncoku seng jenenge Mat Soim tahu turu ndek bagian imam. Ladalah, kok pas digoleki bocah-bocah ape oklik, gak enek.”
“Lha terus, Mat Soim ndek ndi, Mbah?” Tanya Jaju.
“Sek Ju, tak nyruput kopi ndisek (sruuuut…..ahhhhh). Lha, mari ngono digoleki cah-cah ndek langgar, warung kopi, lan panggon liyane, gak temok. Ladalah, ujug-ujug jedor muni, dug
..dug..dug”.
Aisyah, Jaju, Samad, Rita, dan kawan-kawan, mendengarkan dengan seksama kisah dari Mbah Min. Memancing rasa penasaran Samad, “Terus piye, Mbah?”
“Tolong..tolong…tolong…, suara ndek njero jedor. Dadakman, Mat Soim melungker ndek njero jedor. Sakwise bocah-bocah oklik, jedor sing biasane dienggo tanda ape azan didedel. Mat Soim ndek njero jedor”.
Rita, Jaju, Samad, dan Aisyah serentak bertanya, “Kok iso, yo Mbah?”
“Yo iso to. Makane nek awakem ape turu, ojo sak nggon-nggon, nek iso sak durunge turu wudhu ndisek mari ngono moco dungo sak durunge turu”.
Rita, Jaju, Samad, Aisyah, dan kawan-kawan, mengangguk-angguk. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 01.23 WIB.
“Oh, yo. Nek lewat omah suwung cedak langgar iki, santai ae, gak usah mlayu”. Pesan Mbah Min kepada mereka.
Rumah yang tak berpenghuni tersebut, telah dikontrakan. Selama satu tahun pemasangan papan “rumah dikontrakan”, belum ada yang berminat untuk menghuni rumah tersebut.
Menurut cerita yang berkembang di Dukuh Pagung, kerap terjadi beberapa hal yang janggal. Pernah seorang warga dukuh Pagung, melihat tuyul yang bermain di halaman rumah yang penuh dengan dedaunan itu.
Rumah milik keluarga Sukiman itu dekat dengan pohon bambu. Ketika melintas di depan rumah, suara bambu kerap membuat bulu kuduk berdiri.
Mbah Min menceritakan, keluarga Sukiman merupakan keluarga menengah ke atas. Konon, harta dan kekayaan Sukiman berasal dari usaha Sukiman setelah bertapa beberapa bulan di sebuah bukit dan pemakaman di Dukuh Pagung.
Keluarga Sukiman jarang keluar rumah. Saban keluar rumah, Sukiman selalu meletakkan tangannya ke belakang bak menggendong sesuatu. Begitu pun dengan Bu Sukiman, kata beberapa orang Dukuh Pagung, Bu Sukiman kerap bicara sendiri.
Mbah Min menuturkan, Sukiman meninggal dunia karena bunuh diri. Sedangkan Bu Sukiman menghembuskan napas terkahir karena sakit yang bukan hanya sekadar sakit.
Sudah beberapakali Bu Sukiman masuk dan keluar rumah sakit, anehnya kata beberapa dokter, Bu Sukiman hanya kelelahan dan hanya perlu istirahat yang cukup.
Rita, Jaju, Samad, Aisyah, dan kawan-kawan, agak takut ketika akan melangkahkan kaki untuk pulang. Kemudian mereka tidak jadi pulang, melainkan menyaksikan kawan-kawan yang lain, bermain sepak bola di jalan raya.
Tapi karena mereka bosan, akhirnya memberanikan diri untuk pulang dan melewati rumah yang tak berpenghuni itu. Langkah demi langkah, pelan namun pasti. Ketika mereka hampir sampai di depan rumah yang tidak berpenghuni, terdengar suara dedaunan yang terinjak.
Jantung mereka berdegup kencang, tepat di depan rumah itu, suara yang belum diketahui wujudnya, terdengar kian lama kian punya ritme jelas. Saking penasarannya, Rita pun menyalakan lampu dari gawai. Dia hanya menemui dua ekor kucing yang sedang asyik memberi motivasi satu sama lain.
Degup jantung mereka reda seketika. Mereka kemudian melanjutkan langkah kaki menuju pintu rumah masing-masing. Dari beberapa penjuru Dukuh Pagung, sudah terdengar suara oklik dan bunyi “sahur…sahur…sahur..sahur”.








