Zaman ini, tidak lagi dapat dipungkiri bahwa menjaga pergaulan sangatlah tidak mudah. Apalagi bila kita sudah berbaur dengan masyarakat luas. Sudah pasti Kita akan bebas berinteraksi dengan lawan jenis.
Khususnya bagi remaja, yang pastinya berada pada fase atau masa-masa puberitas, sangat rawan sekali dengan kasus pacaran dan lain sebagainya, yang sebenarnya mereka sudah tahu akan diharamkanya pacaran dalam ranah agama islam.
Bahkan dalam berteman pun kita harus pandai-pandai memilih mana yang berpengaruh buruk dan yang memberikan pengaruh baik bagi kita. Seperti pada kitab Ta’liimul Muta’allim, fasal ketiga, dijelaskan bahwa penting bagi seseorang untuk memilih teman.
Seperti pada suatu syi’ir yang artinya, yen ono konco olo lakune ndang adohono # yen ono konco bagus enggal ndang konconono.
Yang bisa kita dalam bahasa Indonesia adalah, apabila ada teman yang baik, maka cepat-cepatlah berkawan denganya dan jika ada teman yang buruk cepat-cepatlah menjauhinya.
Maka dari itu, menjaga pergaulan adalah poin terpenting dan menjadi PR tersediri bagi para orang tua untuk bisa mengarahkan anak-anakya pada arah yang benar.
Para orang tua terkadang terlalu memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bergaul dengan teman-temanya. Padahal pergaulan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap seseorang.
Bahkan pergaulan itu di ibaratkan seperti tatanan buah dalam sebuah piring atau wadah. Jika salah satu dari buah tersebut busuk, maka buah yang bagus akan terkontaminasi oleh bakteri disekitarnya. Sehingga busuklah buah itu seperti buah-buah disekitarnya.
Begitu juga dengan seseorang yang imanya masih lemah dan mudah untuk tertulari sifat-sifat orang disekitarnya. Beda lagi jika seorang itu telah berbekal iman yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh. Atau bisa jadi dia mengajak orang-orang disekitarnya menjadi lebih baik.
Sangatlah penting menjaga pergaulan di era milenial seperti sekarang ini. Karena bila tidak, akan banyak sekali kerusakan moral dipenjuru negara ini. Dan yang paling mengerikan bila sampai pada perzinaan.
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan mengarahkan anak-anak muda untuk belajar di pondok pesantren. Dengan begitu mereka tidak akan dengan mudahnya berbaur antara kaum adam dan kaum hawa.
Mungkin mondok itu bukan hal yang begitu “Keren” bagi sebagian orang. Namun faktanya, santri tidak hanya dibekali dengan ilmu agama. Mereka juga diajari cara bersosial yang diperbolehkan dalam Islam, berwirausaha, dan juga perkembangan Informasi dan Teknologi.
Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Al Manshur Bulu, Balen. Bojonegoro.








