“Sugeng tindak, Daneshmand.” Demikian gumam saya, tadi siang, menjelang shalat Jumat, 10 Oktober 2025. Sedih.
“Sugeng tindak?” Apa maksudnya? “Daneshmand”, siapakah tokoh itu? “Sugeng tindak” yang saya maksudkan adalah “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Sedangkan yang saya maksudkan dengan “Daneshmand” adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali: seorang pemikir dan sufi kondang pada Masa Pertengahan. Seorang tokoh yang juga mendapat sebutan Hujjatul Islam.
Saya bergumam demikian ketika pada akhir novel, yang hari ini saya rampungkan penerjemahannya, menyajikan akhir perjalanan hidupnya: berpulang karena diracun ketika sedang berceramah.
Duh! Ya, ia berpulang di Tus, Iran dengan meninggalkan seorang istri, Khaloub (seorang mantan budak Romawi), dan dua putri: Aisha dan Fatima.
Kisah hidup dan pergolakan hidup yang sangat menarik tokoh yang pernah menjadi seorang profesor kondang, di Perguruan Nizhamiyah, ini dihadirkan kembali dalam sebuah novel berbahasa Arab dengan tebal 636 halaman. Judulnya “Daneshmand”. Ternyata, selain Hujjatul Islam, ia juga terkenal dengan sebutan “Daneshmand” yang berarti “Profesor Sangat Kondang!”
Novel yang ditulis oleh Ahmed Vaal Al-Din ini, asal Mauritania, sangat menarik. Kisah hidup dan pergolakan pikiran Daneshmand disajikan sangat rinci dan menarik. Termasuk, tidak kurang dari enam pergolakan pikirannya.
Sehingga, karena pergolakan-pergolakan pikiran tersebut, ia tinggalkan jabatannya sebagai profesor kondang, dengan kehidupan yang serba wah di Baghdad, menjadi seorang darwis atau sufi yang mengenakan jubah penuh tambalan dan hidup sangat seadanya.
Juga, dalam novel itu, diceritakan kisahnya mengapa ia menyusun kitab puncaknya, Ihya’ Ulumiddin di Jerusalem. Selain itu, pergolakan-pergolakan yang terjadi pada masanya dihadirkan sangat menarik dan rinci dalam novel ini.
Untuk merampungkan penerjemahan novel sedap ini, selama sekitar empat bulan saya ikut “uzlah bersama” Imam Al-Ghazali. Selama itu, banyak kegiatan yang saya abaikan.
Entah kenapa, saya sangat “terpikat” dengan novel ini. Selain itu, saya yang pernah menerjemahkan 16 jilid karya puncak Imam Al-Ghazali, kitab Ihya’ Ulumiddin, dan sebuah buku tentang tokoh itu, yang ditulis seorang profesor di Universitas Al-Azhar Al-Syarif, Kairo, Mesir, Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zamzuq, Sang Sufi Sang Filosuf, menjadi memahami sang Imam mengalami pergolakan pikiran yang sangat berat.
Di sisi lain, dalam novel itu disajikan: bagaimana jejak langkah Al-Ghazali selalu diintai dan diawasi sebuah sekte yang dipimpin Hasan-i Sabbah: tokoh kelompok Assasins yang bermarkas di Benteng Alamut. Dan, akhirnya, sang Imam berhasil diracun dan berpulang di Tus.
Apapun, lewat novel ini, kita dapat menyimak secara lengkap kisah hidup Imam Al-Ghazali yang sangat menarik. Betul, sangat menarik, lo! Tunggu saja terbitnya!








