Tak hanya kaya akan minyak, taman, dan banjir genangan. Kota Bojonegoro juga punya banyak manuskrip dan turats peradaban masa silam.
Kemampuan terbesar manusia adalah bergosip dan berimajinasi. Begitu kata Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind. Awalnya saya mengira Yuval hanya bercanda. Tapi setelah saya pahami, sepertinya Yuval kok ada benarnya juga.
Buktinya, binatang bisa mendeteksi bahaya saat mereka melihat bentuk dan keberadaan bahaya tersebut. Sementara manusia bisa menceritakan dan mendeskripsikan bahaya, yang bahkan belum jelas keberadaan dan bentuknya.
Teori Yuval tentu bisa kita kembangkan sendiri dengan bermacam metafora. Mulai dari; dinosaurus punah karena tak suka berdiskusi, ayam jadi KFC karena tak suka berkonsolidasi, atau burung bangau tak dapat royalti dari pabrik kecap, karena tak bisa melayangkan surat somasi.
Apapun itu, contoh-contoh di atas menunjukan betapa mulianya ditakdir menjadi manusia. Hal itu pula yang membuat kami berempat menggelar diskusi dadakan pada sore (11/5) ini. Diskusi ini digelar agar kami tak punah atau tak jadi ayam kentucky.
Diskusi sederhana ini, dihadiri Dosen muda dan akademisi UNUGIRI Bojonegoro, Usman Roin; dai kondang sekaligus Dosen Kaprodi PAI UNUGIRI Bojonegoro berjuluk Sohib Gubuk Taqrib Al Danderi, Su’udin Aziz; Redaktur NUonline Pusat, Mahbib Khoiron; dan saya sendiri.
Kak Usman, Kak Udin, dan Kak Mahbib bukan sekadar kakak pramuka akademisi biasa, tapi pemuda-pemuda progresif yang concern dalam bidang ilmu pengetahuan. Masyhur sebagai para aktivis peradaban.
Kami berdiskusi tentang cara memprediksi masa depan dengan tolok ukur masa lalu. Bukan, bukan berarti kami semua tak bisa move on karena pernah patah hati, bukan. Ingat! masa lalu tak hanya meninggalkan kenangan, tapi juga ilmu pengetahuan.
Ini penting untuk diketahui agar kita memahami sebuah kaidah: bahwa peninggalan pendahulu bukan sekadar warisan harta dan kenangan, tapi juga pelajaran dan enigma yang mengandung banyak pesan masa depan.
Enigma tentang masa depan, biasanya terdapat dalam manuskrip dan turats (peninggaalan ulama terdahulu). Kota Bojonegoro punya banyak manuskrip dan turats yang, sayangnya, kurang mendapat perhatian dari Dinas Arsip dan Perpustakaan. Karena itu, kita sendiri yang harus perhatian.
Kita harus tahu bahwa Bojonegoro tak hanya kaya akan minyak, taman, dan banjir genangan, tapi juga kaya akan manuskrip dan turats yang sangat penting bagi peradaban ilmu pengetahuan. Di sinilah, kerja-kerja filologi sangat dibutuhkan.
Turats selalu identik dengan naskah karya ulama klasik. Ini bukti Kota Bojonegoro punya peradaban islam yang cukup tua. Hanya, karena tak pernah dibahas dan disiskusikan, ia seperti tak pernah ada.
Giat filologi (memahami turats dan manuskrip) sangat penting untuk memahami peradaban masa lalu dan memproyeksi masa depan. Sebab, di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan dan pesan para ulama nusantara.
Tak sembarang kota ditemui peninggalan manuskrip klasik. Hanya kota yang memiliki peradaban ilmu pengetahuan saja, yang berpotensi memilikinya. Dan kota Bojonegoro memiliki itu semua.
Kami ingin agar ada giat filologi yang membahas, mengkaji, dan memamerkan manuskrip-manuskrip karya para ulama nusantara yang ada di Kota Bojonegoro. Itu salah satu di antara beberapa alasan kami berdiskusi sore tadi.
Kami sangat berkeyakinan bakal ada pameran dan kajian manuskrip (turats) di Kota Bojonegoro. Tapi entah kapan, kami masih belum tahu. Sebab keyakinan itu masih menjadi enigma masa depan, di dalam hati kami semua.








