Dunia layar kaca atau pertelevisian punya sistematika dan proses yang misterius. Kita tidak pernah tahu bagaimana proses seorang tokoh bisa muncul dan menghias layar kaca, yang kemudian kita jadikan idola, bahkan panutan.
Jalannya tentu bisa bermacam-macam. Banyak jalur yang bisa dilalui. Mulai dari seni menyampaikan berita kepada publik hingga seni memandu diskusi. Seni drama layar kaca, hingga seni memotret kehidupan seperti reality show.
Nah, Nabs, mari obral-obrol soal dunia layar kaca dalam sudut pandang industri. Konten layar kaca adalah sesuatu yang kita konsumsi. Sedangkan saluran TV adalah produsennya.
Menurut Dave Wendland dalam artikel Forbes menunjukkan bahwa terdapat dua motif dalam produksi konten.
Pertama adalah kreativitas demi kreativitas itu sendiri. Dengan kata lain, produksi konten tidak didasarkan pada tren dan selera pasar saja. Bisa dikatakan bahwa idealisme yang ditekankan disini
Ada perbedaan mencolok antara karya-karya kreatif dan karya yang praktis dan bertujuan. Imajinasi memang merupakan keharusan dalam pembuatan konten. Namun, tujuan komunikasi atau kampanye harus dipahami dengan jelas.
Setelah tujuan dipahami, tugas kedua adalah menuangkannya dalam suatu kemasan. Kemasan tersebut bisa dalam bentuk visual, pesan, dan teks. Tugas ketiga, konten harus membantu menyampaikan cerita secara efektif.
Kedua, motivasi award-winning dalam membuat konten. Dalam hal ini produsen konten menempatkan diri pada resiko yang besar. Terutama jika tujuan untuk memenangkan penghargaan ini tidak sejalan dengan pesan kampanye atau komunikasi.
Produsen konten kreatif harus menyesuaikan dengan tren pasar. Terkadang, penyesuaian ini akan mempengaruhi idealisme dari konten. Mengapa idealisme konten bisa terancam? Nah ini, tidak dapat dipungkiri bahwa respon konsumen menjadi salah satu tolak ukur dalam suatu penghargaan.
Dengan berfokus pada konsumen, maka content creator akan berfokus pada tren pasar. Tidak jarang tren pasar inilah yang menyebabkan varian konten menjadi stagnan, itu-itu saja.
Pertanyaannya Nabs, apakah penghargaan sendiri itu penting bagi dunia layar kaca?
Penghargaan memang sangat penting, Nabs. Asalkan, penghargaan tersebut dihadiahkan pada mereka yang layak untuk mendapatkannya.
Penghargaan bagi dunia layar kaca adalah apresiasi bagi kerja tim. Termasuk kolaborasi antara produsen dan seniman di dalamnya. Penghargaan juga mendorong produsen untuk meningkatkan kualitas konten yang disuguhkan.
Di dunia internasional, penghargaan bagi dunia layar kaca telah membentuk euforia tersendiri.
Sebut saja Emmy Award, penghargaan bergengsi bagi dunia pertelevisian Amerika Serikat sejak 1959. Penghargaan ini dibuat oleh National Academy of Television Arts and Sciences .
Emmy Awards memberikan penghargaan bagi acara serial drama, komedi, variety show, dan lain-lain, tidak lupa individu yang berproses di dalamnya.
Dalam hal ini, hanya orang-orang tertentu di dalam akademi yang dapat menyumbangkan vote atau suara untuk nominasi dan pemenang penghargaan.
Penilaiannya pun diupayakan seobjektif mungkin, dengan memilih juri yang sudah mumpuni di bidangnya, dimana hanya aktor yang dapat menilai aktor, penulis yang dapat menilai penulis, dan seterusnya.
Dari perhelatan Emmy Award ini, kita bisa ambil setidaknya dua pelajaran nih, Nabs~
Pertama, memberikan suatu rekomendasi tersendiri bagi konsumen untuk menonton acara televisi tertentu. Contohnya adalah pemenang Emmy Award dalam kategori serial drama, Game of Thrones, salah satu serial drama yang paling populer sejak tahun 2011.
Penghargaan ini tidak hanya diamini oleh penonton kulon jauh atau daerah Amerika – Eropa saja. Konsumen dunia internasional hingga Indonesia juga mengacu pada rekomendasi ini. Jadi, penghargaan bagi dunia layar kaca seharusnya dapat menjadi rekomendasi yang anti-zonk dong.
Hmm, kalau konten layar kaca yang direkomendasikan oleh penghargaan pertelevisian Indonesia, bagaimana?
Kedua, menjadikan sebuah tolak ukur tersendiri bagi kemasan acara di layar kaca. Seperti halnya persaingan dalam perdagangan. Kualitas suatu produk seharusnya menjadi perlombaan diantara produsen. Semakin berkembang kualitas satu produsen, akan mendorong kualitas produsen yang lain.
Begitulah seharusnya penghargaan di dunia layar kaca. Penghargaan seharusnya diberikan pada produsen konten yang menginspirasi. Kemudian, inspirasi ini bisa dijadikan acuan suatu program layar kaca.
Ketiga, sistem penilaian harusnya objektif. Kita bisa mengambil sistem penilaian berdasarkan ahlinya seperti Emmy Award. Dari referensi ahli tersebut, kita bisa padukan dengan voting suara penonton layar kaca. Sehingga penilaian penghargaan tidak hanya mementingkan selera konsumen, namun juga berdasarkan kualitas kontennya sendiri.
Nah, di Indonesia sendiri, penghargaan di layar kaca dapat dilihat dari Panasonic Gobel Award. Malam puncaknya telah dilaksanakan pada 7 Desember 2018 yang lalu.
Menurut Nabsky gimana? Apakah pemenang penghargaan Emmy Award sudah cukup memberikan rekomendasi tontonan yang berkualitas? Apakah bisa dijadikan tolak ukur bagi produsen konten kreatif yang lain? Apakah sudah melalui proses penilaian yang objektif?
He he he.








