Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Futuhat Jipang

Totok Supriyanto by Totok Supriyanto
25/03/2024
in Cecurhatan
Futuhat Jipang

Agama Islam pertama kali dipraktikkan di kota-kota dagang di pesisir pantai, yang bangkit seiring mudahnya lalu lintas maritim dampak perluasan kekuasaan Majapahit, dan semakin penting karena industri kelautan itu membutuhkan kapal dan pelabuhan yang lebih baik.

Mungkin pelemahan otoritas istana itu diawali secara alami akibat pendangkalan pelabuhan negara “Hujung Galuh”, Surabaya. Namun sungguh, keberadaan kaum muslim yang mulai menjadi mayoritas di bagian pesisir Jawa tampaknya bertepatan dengan melemahnya Kekaisaran, kekuatan itu surut selain tak mampu untuk mengendalikan keturunan keluarga-keluarga raja yang berkuasa di wilayah pesisir, tetapi juga karena agama baru yang mereka jalani.

Faktor agama akhirnya sering dijadikan alasan bagi kota-kota dagang yang baru diprakarsai itu – yang pada dasarnya masih kerabat keluarga Raja – mencari hak mereka sendiri. Hal ini memerlukan pelarian dan pembenaran berupa penghapusan era rezim lama atau pengkafiran “kaidah 4” yang menjadi dasar kekuasaan Majapahit, sehingga cara yang paling radikal adalah: transisi ke agama Islam.

Bagaimanapun, kita tahu bahwa Majapahit bukanlah negara agama, dan masih berada di bawah kekuasaan Raja Multikultur pada kuartal pertama abad keenam belas. Oleh karena itu, agama Hindu sama sekali tidak diakhiri oleh tindakan kaum Muslim. Kemungkinan besar terutama pada awal era baru, “Siwaisme” justru masih mempunyai kekuatan yang cukup untuk merebut kembali kota muslim yang terletak cukup jauh dari mereka.

Dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun kerajaan Islam di Jawa Timur, misalnya Ampel, menjadi ibu kota baru bagi umat Islam, hanya wilayah Demak yang terpencil, yang sering dikatakan dilindungi oleh “Rawah-Besar” justru menjadi titik awal era baru itu, ini menunjukkan bahwa masyarakat masih dipengaruhi oleh “imunitas lama” dengan cukup signifikan, tentang kultur yang beragam dan tatacara penuh toleransi.

Bagi para saudagar-saudagar Muslim, upaya untuk menindas kekaisaran yang hancur ini dengan menggunakan ekspedisi yang sangat mahal dirasa tidak ada gunanya lagi. Karena persoalan kerajaan telah terselesaikan, ornamen-ornamen kerajaan telah terbagi, begitu pula bangunan-bangunan penting, berserta pusaka-pusaka. Hal ini menghilangkan kemungkinan bahwa para pedagang muslim itu akan dikenakan upeti dan pajak oleh kekuatan Kekaisaran, oleh kekuatan yang sudah ketinggalan zaman, dan oleh sistem kasta yang dirasa kaku.

Negara kuat yang lama jaya itu mulai berakhir, tetapi betapa kecilnya kemungkinan bagi masyarakat keluarga raja – jika dibiarkan sendiri – untuk membentuk negara persemakmuran yang terorganisir dengan baik. Membiarkan konsep konsentrisme dan sulur-sulur pemerintahan melemah secara drastis setelahnya, terlebih dari segi kemaritiman. Terlihat betapa tidak disiplinnya Unus untuk membawa armadanya ke Malaka di kemudian hari, sehingga mereka segera mengalami kerugian, karena tidak ada otoritas pusat yang kuat untuk menaunginya.

Futuhat Jipang

Barulah pada periode Pajang, upaya baru dilakukan untuk mendirikan kerajaan Islam terkuat. Dan apa yang dapat kita saksikan? Kerajaan ini didirikan lagi-lagi di pedalaman Jawa, dengan Jipang sebagai titik tolaknya. Jipang yang mewarisi kekuatan “Rawah-Besar” dan “Siwaism” sekaligus, jauh di luar kota-kota dagang pesisir yang sangat ramai dan kotaraja rezim lama.

Fakta itu memberi informasi bahwa terdapat suatu arus balik dengan keadaan ramai di pasar-pasar niaga, yaitu dengan penerapan suatu metode asimilasi baru, penggabungan terhadap gagasan-gagasan lama dan baru, menjaga tradisi masyarakat yang masih terwakili secara kuat ke dalam Kebudayaan Keraton, dan pendekatan “Futuhat” bagi mereka yang mungkin tidak dapat hidup tanpa itu.

Bahwa atas kesamaan laporan Pararaton 1398 dan dalam tulisan-tulisan Babad Jawa, maka tampak masuk akal jika 1400 Saka dikata sebagai indikasi awal jatuhnya Majapahit. Namun rezim Kekaisaran lama itu, yang gugur karena kaum politisasi agama, adalah rezim yang paling pertama untuk mengandalkan kekayaan bahan sumberdaya dan tradisi lama yang ditinggalkan oleh kota masa lalu yang hebat.

Bukankah luar biasa bahwa mereka mungkin harus menggunakan sisa-sisa bangunan tertua untuk kota mereka, sisa-sisa dari masa ketika Medang, Kahuripan, Majapahit memulai sejarahnya dalam keadaan yang sulit dengan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar, pelabuhan, dan eksplorasi?

Semoga tunas “Kamulan” yang berat itu menjadi simbol bagi anak cucu Jawa dalam membentuk sejarah, betapa hidup di masa lalu yang kelam dan merajuk berpangku tangan justru akan membawa kehancuran.

Tags: Futuhat JipangMakin Tahu IndonesiaTlatah Njipangan
Previous Post

PC ISNU Bojonegoro Sowan Ideologis ke Padangan

Next Post

Prof Dr. Aboe Amar, Pendiri ISNU dari Padangan Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: