Setiap kawasan memiliki sedimentasi budaya berupa tradisi kesenian masyarakat. Di wilayah kaki Gunung Pandan, terdapat kesenian Genthik — sebuah teater tradisional yang mengajak masyarakat untuk menjaga ekosistem Gunung Pandan.
Genthik Pandan memang tak begitu terkenal di luar. Selain keberadaannya cukup jauh dari akses perkotaan, selama ini Genthik Pandan hanya dimainkan secara sederhana di acara-acara hajatan warga sekitar. Sehingga, gemanya tak begitu terdengar di luar.
Genthik Pandan selama ini hanya dikenal di sekitar wilayah Kecamatan Sekar dan Gondang. Meski begitu, sebagai bagian dari seni kerakyatan, Gentik Pandan sudah ada sejak lama. Genthik Pandan lahir seiring dibangunnya pemukiman masyarakat di kaki Gunung Pandan.
Data dikumpulkan Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (KERISKELOKA), menyebut, Genthik Pandan menjadi salah satu (untuk tak mengatakan satu-satunya) teater tradisional yang lahir dan tumbuh dari rahim kebudayaan masyarakat kaki Gunung Pandan. Bahkan, keberadaannya pun masih lestari hingga kini. Saat ini, Genthik masih lestari di Desa Bareng dan Deling Kecamatan Sekar Bojonegoro.
Genthik Pandan lahir atas respon alam dan kebutuhan hiburan. Terisolasinya wilayah Pandan dari daerah luar, serta tidak adanya medium hiburan, memicu munculnya akal-budi masyarakat untuk menciptakan ruang ekspresi berupa kesenian. Sebuah ruang yang juga menjadi titik kumpul masyarakat dalam rangka melepas penat pasca kegiatan bertani. Ini alasan Genthik Pandan kerap dimainkan saat malam hari.
Pada awal abad 20 M, Gentik Pandan mengalami popularitas yang cukup tinggi. Banyak desa-desa di kaki Gunung Pandan menggelar kesenian tersebut. Sebab, Gentik Pandan menjadi hiburan utama masyarakat kaki Gunung Pandan. Sebagai kesenian yang lahir dan tumbuh dari masyarakat akar rumput, Gentik Pandan tentu membawa narasi kehidupan sehari-hari. Narasi yang jauh dari gemerlapnya kemewahan Istana.

Kesenian Genthik Pandan masih bertahan sebagai seni lokal ketika orang-orang Belanda memenuhi wilayah Sekar dan Gondang sebagai petugas Jawatan Kehutanan, sekitar 1920 M. Kemudian pada 1942 M, ketika Jepang merebut Jawatan Kehutanan dari Belanda, Genthik Pandan juga masih lestari sebagai kesenian tradisi berbasis kerumunan masyarakat lokal.
Namun, seperti semua jenis kesenian rakyat lainnya, Genthik Pandan sempat mati pada zaman G 30 S PKI (1965) — sebuah zaman di mana kerumunan massa dan kesenian dibunuh dari muka bumi. Pada masa “kehancuran seni” itu, Gentik Pandan ternyata tidak benar-benar mati. Ia bersembunyi di balik magma purba bebatuan pegunungan Pandan. Ia juga tersimpan dalam ritual-tradisi-kultur para petani di wilayah ekosistem Gunung Pandan.
Pada tahun 1980-an, saat suasana kesenian mulai kembali dihidupkan, seni Genthik Pandan kembali dipertunjukan di wilayah Sekar dan Gondang. Kesenian Genthik menjadi hiburan bagi masyarakat kala listrik belum terpasang di wilayah tersebut. Kesenian rakyat yang lahir dari rahim masyarakat kaki Gunung Pandan ini, masih bertahan melalui giat-giat hajatan warga sekitar.
Fragmen Genthik Pandan
Seperti umumnya seni penampilan, Gentik Pandan terdiri dari sejumlah elemen, di antaranya:
1. Penari (6 penari yang semuanya dimainkan perempuan). Keberadaan 6 penari ini, menjadi elemen penting pertunjukan Genthik Pandan. Sebab, selain menampilkan tari jaran kepang, mereka juga melakukan gerak tari selendang.
2. Gendruwan (genderuwa atau setan yang menggoda). Gendruwan adalah tokoh antagonis yang berwujud seram dan berusaha menggoda para penari. Dalam seni Genthik Pandan, peran Gendruwan cukup penting sebagai penggerak jalannya kisah drama.
3. Dua orang Tembem (penasehat penari). Keberadaan Tembem dalam kesenian ini, memiliki peran penting sebagai penasehat dan pelindung para penari, dari godaan buruk Gendruwan (hantu pengganggu).
4. Dalang yang bertugas sebagai narator. Membuka dan menutup penampilan.
5. Sinden perempuan yang bertugas membuka penampilan dengan tembang-tembang suluk.

Dalam setiap penampilannya, Genthik Pandan juga dilengkapi bermacam alunan musik. Di antara kelengkapan musiknya meliputi: peralatan pelog (ketipung, kendang, gong besar, saron, hingga gambang). Sementara penabuh musiknya sejumlah 8 hingga 10 orang. Genthik Pandan biasa digelar pada malam hari. Umumnya dimulai pada pukul 21.00 hingga dini hari.
Pesan Ekologis Genthik Pandan
Setiap tampilan seni tentu membawa pesan-pesan berbasis kearifan. Pesan-pesan itu, tentu bisa dibaca melalui bermacam sudut pandang. Bahkan, serupa umumnya bentuk kesenian, pesan-pesan harus dilahirkan dan dimunculkan sendiri melalui berbagai sudut pandang.
Kesenian tradisional selalu muncul sebagai representasi sebuah lingkungan sosial. Keberadaan Genthik Pandan, tentu punya hubungan kuat dengan posisi geografisnya yang memang dekat Gunung Pandan. Maka bukan kebetulan jika rupa keseniannya, bukan Kesenian Pesisiran, melainkan seni Pegunungan.
Dalam kaidah ekologis, para Penari (yang kebetulan semuanya perempuan itu), tentu melambangkan spirit feminisme Gunung Pandan. Sebuah entitas yang melahirkan dan merawat bermacam kehidupan. Di lain sisi, keelokan alamnya juga memicu siapapun untuk menguasainya dengan bermacam cara.
Tokoh Gendruwan (Genderuwo atau hantu) yang menggoda dan menakut-nakuti, tentu menggambarkan gelagat buruk nafsu manusia yang selalu ingin menguasai bermacam Sumber Daya. Tokoh Gendruwan, tentu bisa dimaknai sebagai korporasi atau oknum pemerintah yang berupaya merusak ekosistem alam.
Sementara dua orang Tembem (penasehat), bisa diibaratkan sebagai para pelindung alam. Masyarakat yang mau dan mampu menjaga, melestarikan, dan memberi perlindungan terhadap ekosistem lingkungan alam yang ada di tempat tersebut.
Sebagai teater tradisional yang lahir dari rahim ekosistem Gunung Pandan, Genthik Pandan tentu membawa pesan-pesan semiotika untuk menjaga dan merawat ekosistem Gunung Pandan sebagai bagian penting dari poros ekologis manusia.








