Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mata-Mata Spanyol yang Berhasil Memasuki dan Mencuci Kabah

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
04/02/2025
in Cecurhatan
Mata-Mata Spanyol yang Berhasil Memasuki dan Mencuci Kabah

“Waduh! Mata-mata Spanyol kok ikutan mencuci Ka‘bah!”

Demikian gumam saya. Kemarin siang: ketika saya menyimakkisah para penyusup ke Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Ternyata, ada sederet para penyusup non-Muslim yang berhasil menyusup ke  dua Kota Suci itu. Meski adalarangan bagi non-Muslim untuk memasuki dua Kota Suci itu.

Siapakah mata-mata Spanyol yang berhasil memasuki danmencuci Ka’bah itu?

Dia adalah Domingo Badia, seorang mata-mata Spanyol yang menyamar sebagai seorang Muslim dengan nama samaran Ali Bey al-Abbasi.

Dengan kepiawaiannya, mata-mata yang satu iniberhasil menyusup ke tempat-tempat suci di Dunia Islam. Malah, dia berhasil ikut serta dalam ritual pencucian Ka’bah.

Kini, mari kita telusuri kisahnya yang penuh intrik dan petualangan. Domingo Badia lahir pada tahun 1767 di Barcelona, Spanyol. Ayahnya seorang warga Catalan yang bekerja sebagai sekretaris gubernur Barcelona. Sedangkan ibunya berdarahBelgia.

Sejak kecil, Badia menunjukkan kecerdasan dan bakat yang luar biasa. Pada usia 14 tahun, dia pindah ke Granada,bersama ayahnya, yang kemudian memberinya tanggung jawab sebagai asisten administrasi di sebuah kota pesisir.

Kemudian, ketika berusia 19 tahun, Badia mengambil alih posisi ayahnya sebagai kepala kota tersebut.

Namun, jiwa petualangannya tidak dapat dibendung. Dia tertarik pada eksperimen ilmiah. Termasuk penelitian tentang gas dan pengaruhnya pada balon udara. Namun, proyek terbesarnya adalah sebuah perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya: ekspedisi ke Dunia Islam.

Mengubah Nama Menjadi Ali Bey Al-Abbasi

Pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1801, Badia mengajukan proposal perjalanan ke Afrika Utara. Dengan tujuan politik dan ilmiah. Segera, proposalnya disetujui Raja Spanyol, yang memberinya dana dan perlengkapan yang diperlukan.

Namun, persiapan ini tidaklah mudah. Badia harus mengubah total identitasnya.

Badia kemudian pergi ke London untuk bertemu dengan anggota African Society, selanjutnya ke Paris untuk mempersiapkan peralatan ilmiah yang dia perlukan.

Untuk melengkapi penyamarannya, dia malah melakukan khitan dan mengklaim dirinya sebagai anak keturunan Bani Abbasiyah dari Baghdad, Irak dan mengadopsi nama Ali Bey al-Abbasi. Setelah dua tahun persiapan, pada pertengahan 1803, dia berangkat ke Maroko dengan menyamar sebagai seorang Muslim.

Setiba di Maroko, Badia mengaku sebagai seorang Muslim keturunan Arab yang terpaksa tinggal di Eropa. Karenamenguasai bahasa Arab dan ilmu agama dengan baik, dia berhasil meyakinkan banyak orang Maroko. Lantas, pada tahun 1803, dia tiba di Tangier dan tinggal selama dua tahun sebagai tamu kehormatan Sultan Maroko.

Kemudian, dia melanjutkan perjalanan ke Alexandria, Mesir, di mana ia bertemu dengan seorang penulis terkenal Prancis, Vicomte de Chateaubriand, dan Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir kala itu.

Lantas, pada akhir 1806, Badia bergabung dengan kafilah haji yang menuju Makkah al-Mukarramah. Selepas menempuh perjalanan panjang dan berliku, dia akhirnya tiba di Kota Suci itu pada Januari 1807. Dia tinggal di dekat rumah Syarif Makkah, pemimpin kota yang saat itu berada dalam ketegangan antara kekuasaan Dinasti Usmaniyah dan kekuatan Saudi yang sedang bangkit.

Ikut Mencuci Ka‘bah

Nah, karena kedekatannya dengan Syarif Makkah, penguasaKota Suci itu mengajak serta Badia dalam acara pencucianKa’bah. Malah, dia pun diajak masuk ke dalam Ka’bah al-Musyarrafah. Dalam menggambarkan pengalamannya memasuki Masjidil Haram dan melihat Ka’bah, dia mengemukakan dengan penuh kekaguman.

“Pemandangan itu begitu megah dan tak terlupakan,” tulisnya dalam catatannya. Dia juga ikut serta dalam ritual pencucian Ka’bah, sebuah pengalaman yang ia anggap sebagai kehormatan besar.

Dalam catatannya, Badia mendeskripsikan detail Masjidil Haram, termasuk Sumur Zamzam, yang menurutnya memiliki air yang sangat bening dan sehat. Namun, dia juga mencatat adanya desas-desus bahwa air Zamzam pernah digunakan untuk meracuni musuh.

Dia malah mengemukakan bahwa fia diberi saran oleh orang-orang Maroko untuk tidak minum air Zamzam kecuali dari tangan mereka, agar terhindar dari racun. Dia juga mencatat keberadaan empat mazhab Sunni di sekitar Ka’bah. Masing-masing dengan tempat shalatnya sendiri. Dia menggambarkan suasana religius yang khusyuk, dengan muazin yang mengumandangkan azan dari menara-menara masjid.

Selepas melaksanakan ibadah haji, Badia melanjutkan perjalanannya ke Syam dan Istanbul. Namun, catatan sejarah tentang perjalanannya setelah itu tidak banyak diketahui. Yang jelas, Badia dikenal sebagai mata-mata yang sangat terampil. Ia bekerja untuk Spanyol, Prancis, dan bahkan diduga untuk Inggris.

Ketika Napoleon Bonaparte menguasai Spanyol dan menempatkan saudaranya, Joseph Bonaparte, sebagai raja, Badia berpindah loyalitas ke Prancis. Dia malah pergi ke Paris setelah kekuasaan Napoleon di Spanyol berakhir, dengan rencana kembali ke Timur untuk melanjutkan misinya. Namun, nasib berkata lain.

Pada Agustus 1818, dalam perjalanan menuju Makkah, Badia meninggal dunia dalam kondisi misterius di dekat Damaskus. Banyak sejarawan menduga, dia diracun oleh musuh-musuh Prancis, terutama Inggris.

Domingo Badia meninggalkan warisan yang kompleks. Dia adalah seorang petualang, ilmuwan, dan mata-mata yang berhasil menyusup ke jantung Dunia Islam. Catatan perjalanannya memberikan gambaran unik tentang kehidupan di Timur Tengah pada awal abad ke-19.

Namun, motivasi sebenarnya misterius. Apakah ia benar-benar tertarik pada ilmu pengetahuan, atau diahanya alat bagi kekuatan kolonial Eropa?

Yang pasti, kisah Domingo Badia, alias Ali Bey al-Abbasi, adalah bukti nyata betapa sejarah kerap  “dihiasi” tokoh-tokoh yang hidup di antara dua dunia, mengaburkan batas antara kawan dan lawan, serta meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan!

Tags: Domingo BadiaMata-mata SpanyolPencuci Kabah
Previous Post

Diki Alamzyah Dipilih Menjadi Koordinator GUSDURian Bojonegoro Menggantikan Hendro Sulistyo

Next Post

Genthik Pandan, Kesenian Rakyat Kaki Gunung Pandan Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: