Secara geografis, cekungan Jawa Timur Utara berada di antara Pesisir Timur-Laut pulau Jawa dan sederetan gunung berapi yang berarah Timur-Barat di sebelah selatannya. Wilayah ini sebagian besar merupakan Karesidenan lama Ratubangnegoro (Blora, Tuban, Rembang, Bojonegoro), menempati wilayah seluas 50.000 KM, atau dapat disebut sebagai wilayah sekitaran Lembah Lusi sampai dengan Lembah Bengawan.
Secara geologis, cekungan ini merupakan zona lemah akibat tumbukan atau tepatnya penunjaman Lempeng Samudra Australia di bawah Lempeng Asia. Terjadinya pemindahan jalur zona tumbukan yang terus-menerus ke arah selatan Indonesia, maka Cekungan Jawa Timur Utara terbentuk sebagai cekungan belakang busur (back arc basin).
Menurut Van Bemmelen (The Geology of Indonesia, 1949), yang melanjutkan studi geologi Belanda di pertengahan abad ke-19 M mengatakan bahwa Cekungan Jawa Timur Utara secara umum dapat dibagi menjadi tiga bagian besar, berturut-turut dari utara ke selatan adalah; Zona Rembang, Zona Randublatung dan Zona Kendeng.

Untuk memahami dengan tampilan morfologi yang lebih baik dan paling terbaru, adalah dengan
mengambil data citra dari Satelit yang mengudara di atasnya, diantaranya adalah Satelit Landsat 8 dan data SRTM (Shuttle Radar Topography Mission).

Guratan morfologi yang naik turun tersebut pada dasarnya bukan merupakan proses fulkanik, tetapi lebih merupakan proses tektonik, yang secara ilmu geologi disebut hasil dari peristiwa alam dengan istilah lipatan atau Fold. Lipatan adalah deformasi (perubahan formasi) lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga batuan pindah dari kedudukan semula membentuk lengkungan.
Lipatan atau Fold, berdasarkan bentuk lengkungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu Antiklin dan Sinklin. Antiklin merupakan punggung lipatan berbentuk concav dengan cembung ke atas, sementara Sinklin adalah sebaliknya.

Maka tidak menjadi aneh jika kemudian di atas puncak bukit di wilayah ini, dari Semanggi, Janjang, Kedewan, ataupun Pandan sering ditemukan fosil hewan laut, seperti fosil kerang yang gigi Hiu Purba jutaan tahun yang lalu (Era Neogen), dan pada lembahnya, termasuk di Getas, Trinil, Ngandong, berupa fosil Gajah dan Homo Sapien berumur ribuan tahun yang lalu (Era Holosen).
Dari gambar 3, Ledok dan Kedinding merupakan bagian puncak dari Antiklin, yang merupakan perangkap struktural paling utama dalam eksplorasi hidrokarbon di Zona Rembang. Sesuai dengan pendapat dari Panjaitan, dalam Buletin Sumber Daya Geologi Volume 5, 2010, sumber daya “Lna” (migas) bermigrasi dan merambat naik dari “Lembah Lusi” dan “Lembah Bengawan” melalui patahan-patahan (wrech-fault), mensuplai daerahdaerah tinggi hingga ke lapisan atas pada jalur tinggian, seperti Ledok (Zona Rembang) dan Kedinding (Zona Randublatung).

**
Kajian Ilmiah Institut Bumi Budaya







