Kita tentu tak asing dengan nama James Marshall “jimi” dengan melodi blues rock nya, Briand Harold sebagai gitaris grup band terbaik sepanjang masa, James Patrick, Dewa Budjana dan juga Eross Candra, kan?
Mereka adalah beberapa gitaris handal yang, menurut saya, telah diakui keahlianya dalam hal memetik bunga senar gitar hingga melahirkan melodi instrumental yang indah.
Nabs, kamu kebayang nggak, bisa seperti mereka? Boro-boro bisa, lha wong alat nya saja kamu gapunya hehehe. Eh, jangan takut, Nabs. Coba baca kisah temanku ini. Ohya, temanku bernama Tono. Nama lengkapnya Kartonyono, hehehe enggak-enggak. Berikut kisahnya:
Setelah adzan Dzuhur, Tono cuma ngopi di warung depan sekolah. Pas dia ngelirik ke kiri, eh ngelihat gitar yang selonjoran di atas kursi. Dia pun iseng memainkan gitar itu, dengan langsung genjrang-genjreng tanpa dasar ilmu memadai.
Seperti suara piring pecah, Tono dengan tanpa malu genjrang-genjreng gitar dan menikmati alunan nada dari hasil genjrenganya sendiri. Dan, yaa, putuslah senar gitar yang dimainkan Tono.
Singkat cerita, Cak Huda, preman bertato pemilik gitar yang juga ngopi di tempat yang sama, mengetahui kejadian itu. Tono pun disemprot kemarahan oleh Cak Huda. Sebab, Cak Huda sangat menyayangi gitarnya itu.
Tapi, dari kejadian itu, Tono kian dekat dengan Cak Huda. Tiap kali Tono bolos sekolah dan nongkrong di warung, dia sering nyamperin Cak Huda. Tono pun akhirnya dikasih tahu Cak Huda kunci dasar menggenjreng gitar.
Iya, Tono mulai senang bermain gitar. Sayangnya, Cak Huda hanya memberitahu kunci dasar C saja. Selain kunci itu, Tono harus cari-cari sendiri. Ngasih tahunya cuma kunci dasar C. Tapi ngomel dan memarahinya sampai ABCDEFG, hm.
Belajar memang selalu getir dan tidak menyenangkan. Tono tahu itu dan dia tidak kecewa. Dengan rasa penasaran yang masih sama, dia belajar dari guru penyabar yang telaten mengajarinya.
Ya, Tono menganggap mesin pencari Google adalah guru penyabar yang telaten mengajarinya. Tiap hari, sepulang sekolah atau saat malam hari, Tono belajar kunci dasar tanpa lelah. Meski gitar yang dia pakai adalah gitar pinjaman.
Saat sore hari, Tono langsung berkumpul dengan teman-temannya seperti biasa. Tono langsung berlatih main gitar sesuai arahan Google. Tantangan Tono adalah, bagaimana dia belajar main gitar, dengan tidak berpacu pada satu lagu.
Namun sayang, dengan durasi hampir dua jam, jemari Tono hanya mampu memainkan satu lagu saja. Itu pun sempat kram dan gringgingen. Kritikan pun deras menghujam dirinya.
Nyanyinya satu lagu, tapi kritikannya dinyanyikan berlagu-lagu. Sampai Tono sempat berpikir, andai kritikan itu dikasih nada, pasti sudah jadi satu album lagu kompilasi.
Tapi dengan kegetiran itu, Tono masih tak gentar. Bagi Toni, kritik itu dia jadikan sebagai pil pahit agar dia lebih giat berlatih dan bisa memainkan gitar dengan baik.
Berkat sikap Tono yang kuat menelan pil pahit kritikan dan kemauan belajar yang amat bandel itu, jemari Tono menunjukkan hasil. Usaha tidak mengkhianati hasil. Kini, Tono malah bisa main gitar beneran.
Tono sering diajak bermain musik sebagai gitaris. Dari mulai event perpisahan sekolah, acara kondangan, hingga festival antar daerah. Tak jarang, dari hobi iseng itu dia mampu mengumpulkan uang.
Meski Tono tak akan semasyhur James Marshall, Briand Harold atau James Patrick, setidaknya dia membuktikan satu hal paling penting: dia bisa melakukan sesuatu dalam hidupnya.
Bisa jadi, Tono adalah kamu atau saya atau siapapun ya, Nabs. Hehe








