Saat ini, makin banyak pelaku usaha kreatif. Bermodalkan ide dan rasa penasaran, kreativitas baru pun bermunculan. Salah satunya, produk batik Godongku Ecoprint.
Bojonegoro merupakan salah satu kota yang tidak luput dari industri kreatif. Ini ditandai dengan munculnya berbagai macam UMKM yang ada. Salah satunya Godongku Ecoprint.
Kali ini tim jurnaba.co mendatangi Godongku Ecoprint. Godongku adalah salah satu workshop yang membuat produk ecoprint. Letaknya berada di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, Bojonegoro.
Ecoprint sendiri merupakan teknik membuat warna dan pola pada kain dengan bahan alami.
Kepada Widya Septiyaningrum dan Adityo Dwi Wicaksono, founder Ecoprint tersebut banyak bercerita terkait apa dan bagaimana cara kerja proses pembuatan batik tersebut.
Berbekal ketelatenan menonton YouTube, pria yang enggan disebut namanya ini mengaku mendapat inspirasi pembuatan batik berbasis bahan alami.
“Buat saya, ecoprint adalah karya hati, tidak asal menempel daun di atas kain saja”, kata pria kelahiran 1963 ini.
Dia mulai membikin Ecoprint sejak awal 2017 lalu. Di setiap karya Ecoprint yang dia bikin, terdapat kisah eksplorasi dedaunan dan bebungaan. Baik dalam segi bentuk, efek warna, maupun prosesnya.
Nah, tidak berhenti pada proses teknis saja lho, Nabs. Dalam menuangkan bahan menjadi kain Ecoprint, dia selalu memiliki tema tertentu. Hal ini sangat didukung latar belakangnya yang seorang pelukis dan seniman.
Dia menganggap kain sebagai kanvas. Sehingga, dia menjadikan setiap karya Ecoprint sebagai ungkapan seni. Karena itu, proses dalam menghasilkan satu kain Ecoprint tidak menentu.
Secara umum, kain ecoprint bisa jadi setelah proses empat belas hari. Namun, yang bikin lama, dia selalu melakukan kurasi dan revisi ketat pada hasilnya. Sebab, tidak hanya menawarkan keunikan. Namun juga tema kisah yang dituangkan.
Dia mencontohkan, kisah yang ia tuangkan pada karyanya yang bertajuk Semak Belukar. Ternyata itu terinspirasi dari seringnya dia blusukan keluar masuk hutan untuk mencari daun.
“Sering tertusuk ranting runcing, duri pohon. Bahkan kepleset pas menek pohon untuk mrutisi daun”. Katanya.
Godongku sendiri juga membuka workshop di tempatnya. Banyak orang luar kota yang datang silih berganti datang ke workshop tersebut. Mereka datang untuk saling sharing ilmu dan belajar bersama.
Sebelum memulai bisnis ecoprint, dia pernah menjalankan bisnis lainnya. Salah satunya, membikin aksesoris yang terbuat dari kawat tembaga. Perpaduan kawat tembaga dan batu obsidian sebagai pemanis aksesoris ini menghasilkan karya yang mengagumkan.
Mulai dari gelang, kalung, pendant, cincin dan lain sebagainya. Karena jiwa seni yang besar serta rasa keingintahuan, lanjutnya, ide itu pun tercetus.
Awalnya, dia mengenal aksesoris melalui YouTube. Melalui kreativitas dan keuletan, dia pun berhasil menuangkan imajinasinya lewat kawat tembaga tersebut. Bentuk karya yang unik ini tergantung juga dari kekuatan imajinasi tiap orang.
Nah, Nabs, dari tokoh dibalik kain Ecoprint Godongku, kita bisa belajar banyak hal. Pertama, kita tidak boleh menyerah pada keterbatasan dan kekurangan. Keterbatasan akses informasi, misalnya. Justru menjadi pemantik bagi proses kreatif kita.
Kedua, tidak mudah puas pada hasil yang sudah dicapai. Seperti kisah dibalik kain Godongku. Diproses, dikurasi, dan ditambahkan detail, berulang kali. Hingga menjadi satu karya dengan makna dan kisah yang utuh.











