Meski tak pernah bertemu secara langsung, nama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) amat dekat dengan saya. Di telinga saya, Gus Dur serupa nama tetangga dekat atau bahkan sanak saudara.
Saya mendengar nama Gus Dur di usia sekolah dasar, ketika Bapak sering menyebut Gus Dur di tiap ceritanya. Selain hobi ngajak saya berziarah kubur ke makam para Wali, Bapak sering bercerita Wali-wali pada saya. Dan di tiap ceritanya, Bapak sering menyebut nama Gus Dur.
Nama Gus Dur serupa nama Pak Habibie bagi teman-teman saya. Jika orang tua teman-teman saya menyebut nama Pak Habibie untuk memotivasi mereka agar rajin belajar, Bapak justru sering menyebut nama Gus Dur agar saya tidak malas belajar.
Bapak sering meminta saya rajin belajar agar kelak saya bisa seperti Gus Dur. Meski sesungguhnya, di saat yang sama, saya belum paham kiprah karomah Gus Dur dan kenapa Bapak sering menyebut-nyebut namanya, selain ia sekadar Presiden.
Hingga dalam imajinasi masa kecil saya, kata ” Gus Dur” semacam istilah untuk menggambarkan kecerdasan atau kesuksesan seorang anak yang amat dibanggakan oleh kedua orang tuanya.
Pengetahuan saya tentang Gus Dur, lamat-lamat terbentuk ketika Bapak menempel foto, poster, hingga kalender bergambar Gus Dur di rumah. Saat itu, kian jelas bahwa Gus Dur adalah nama seorang tokoh yang tak hanya presiden, apalagi sekadar istilah.
Pertengahan 2001, saat Bapak masih aktif menjadi pengurus ranting sekaligus MWC NU Kecamatan, Bapak menjadi orang yang ujug-ujug amat sibuk sekali. Entah apa yang dia kerjakan. Beberapa saat setelah kesibukan yang aneh itu, Gus Dur lengser dari kursi presiden dan Bapak amat sedih sekali.
Di saat yang sama, saya juga bersedih karena pasca lulus sekolah dasar, Bapak berencana mengirim saya ke pondok pesantren yang lokasinya, waktu itu, terasa sangat jauh sekali. Uniknya, dalam kondisi seperti itu, bapak masih sempat-sempatnya bilang: awakmu kudu wani dipondokke, ben isa kayak Gus Dur.
Pertengahan 2001 itu, Bapak bersedih karena ia semacam tak rela Gus Dur lengser dari kursi presiden. Sedang saya juga bersedih karena semacam tak rela dikirim ke pondok pesantren. Kesedihan menyublim dari tubuh kami, menjadi rasa sedih kolektif yang menempel di tiap jengkal isi rumah.
Andai nama Gusdurian sudah ada sejak 2001, niscaya bapak adalah Gusdurian pertama yang saya kenal di muka bumi ini. Bapak, bahkan amat sangat Gus Dur sejak dalam pikirannya. Terlebih urusan bercanda dengan hidup.
Sesaat setelah divonis mengidap penyakit TBC stadium entah berapa dan harus dirawat di ruang isolasi RS selama hampir sebulan lebih, yang saat menjenguknya pun, saya harus pakai masker, Bapak sempat berniat berhenti merokok.
Namun setelah sepekan kembali berada di rumah, dengan santai dan penuh candanya, bapak kesana-kemari sambil sudah membawa rokok Surya 12 kesukaannya. Saat saya memergokinya, ia menatap saya sambil tersenyum dan seolah berkata: gitu aja kok repot!
Serupa Gus Dur, sesungguhnya Bapak sedang mengajarkan pada saya tentang keberanian membercandai hidup. Bercanda yang menyenangkan terhadap hidup. Bercanda yang kadang sulit atau bahkan tak bisa dipahami orang lain.
Dalam hal memberi nama anaknya pun, Bapak mengadopsi konsep akulturasi Gus Dur. Saat semua saudara Bapak memberi nama anak-anak mereka dengan kata-kata berbahasa Arab yang rumit pengejaannya, Bapak memberi nama semua anaknya cukup dengan istilah berbahasa Arab yang tersamar dan terakulturasi rapi ke dalam Bahasa Indonesia. Konon, agar yang diberi nama selalu membumi.
** **
Hari ini sepuluh tahun lalu, atau 30 Desember 2009, Gus Dur telah mangkat. Tentu Bapak amat bersedih. Apalagi, di bulan yang sama di tahun sebelumnya, tepatnya Desember 2008, adik saya yang notabene anak kesayangan Bapak, juga mangkat saat sedang menimba ilmu di Madiun.
Dari itu semua, saya belajar banyak dari Gus Dur. Dan saya banyak belajar dari Bapak. Dan saya belajar banyak dari adik saya. Dan saya banyak belajar dari Desember, bahwa segala yang berawal pasti menemui titik akhir — sebuah titik akhir yang sekaligus mengawali sesuatu nan baru.








