Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Gus Dur dan Habib Rizieq; Satu Mobil, Satu Kiblat, Beda Tempat

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
13/07/2025
in Cecurhatan
Gus Dur dan Habib Rizieq; Satu Mobil, Satu Kiblat, Beda Tempat

Gus Dur dan Habib Rizieq

Sebuah mobil Kijang Super berwarna hijau meluncur dengan tenang―sekitar 30 km/jam. Mobil itu melintasi jalur lintas selatan, dari Kota Malang menuju Blitar. Jok tengah mobil diatur sedemikian rupa―sehingga penumpang bisa saling berhadap-hadapan.

Yang lebih unik lagi, penumpangnya tidak biasa; Gus Dur dan Habib Rizieq. Gus Dur berada di sisi kanan sambil duduk selonjor. Habib Rizieq duduk ngapurancang di sebelah kiri, sembari meletakkan kedua tangan di atas paha.

Si Sopir merasa kikuk dan janggal. Dalam hatinya bertanya-tanya, bagaimana mungkin dua tokoh yang sering berseberangan itu bisa duduk dalam satu mobil? Tiba-tiba Gus Dur nyeletuk dalam Bahasa Jawa, seperti membaca kegelisahan hati Si Sopir.

“Aku iki karo Habib Rizieq sak mobil ning bedho enggone” (Saya dengan Habib Rizieq ini satu mobil namun berbeda tempatnya), ujar Gus Dur sambil tersenyum.

Peristiwa ini tidak terjadi di dunia nyata, hanya mimpi yang pernah saya alami pada tahun 2022. Si sopir adalah saya sendiri. Meski sebatas mimpi, namun telah membuka pintu perenungan dan refleksi yang mendalam bagi saya.

Semacam pintu ke sebuah ruangan yang selama ini terkunci: bahwa kita terlalu sering meletakkan perbedaan di atas panggung konflik, bukan dialog. Kita selalu beranggapan dunia ini adalah panggung sandiwara, sehingga perlu menciptakan tokoh protagonis di satu sisi dan antagonis di sisi lain. Hitam dan putih.

Maka, Gus Dur dan Habib Rizieq pun kerap kita posisikan dalam dikotomi itu: pluralis versus puritan, pejuang toleransi versus penjaga moral. Sesungguhnya, menyandingkan Gus Dur dengan Habib Rizieq bukan sesuatu yang apple to apple. Baik dari konteks jasa terhadap bangsa, maupun dari segi usia.

Gus Dur sudah menjadi pemikir ketika Habib Rizieq baru lahir. Gus Dur sudah jadi Bapak Bangsa ketika Habib Rizieq baru berpikir enaknya mau jadi apa ya. Namun sekali lagi, tulisan ini berangkat dari mimpi. Layaknya kecenderungan mimpi, ia kadang tidak harus sesuai dengan keseimbangan realitas.

Gus Dur yang dikenal sebagai bapak kemanusiaan, bersikap egaliter dan selalu memperjuangkan hak-hak minoritas, demokrasi, dan keadilan sosial. Gus Dur mencintai kebebasan, tapi juga mengerti batas-batas.

Karenanya Gus Dur tidak sibuk menyeragamkan, tidak takut berbeda. Bahkan dalam kekuasaan sekalipun, Gus Dur menolak untuk mengeraskan kendali. Sebagai presiden ia membiarkan orang-orang yang berseberangan untuk mengkritiknya, bahkan menjatuhkannya.

Di sisi lain, Habib Rizieq Shihab digambarkan dalam narasi publik sebagai sosok feodalis-agamis-konfrontatif dan garang. Acapkali tampil sebagai oposisi Gus Dur. Sosok yang berangkat dari idealisme Islam―yang mendasarkan perjuangannya pada keyakinan, bahwa syariat harus ditegakkan.

Sementara Habib Rizieq adalah suara keras dari kegelisahan. Datang dari sikap frustasi melihat kemaksiatan, ketimpangan, dan bagaimana agama kehilangan tempat di ruang publik. Meski kadang dia juga tahu, Indonesia adalah negara berbudaya. Sehingga agama tidak dilihat dari wujud formalnya, tapi esensi nilai-nilainya.

Tapi bukankah keduanya digerakkan oleh iman yang sama, cinta yang sama kepada agama dan negara? Gus Dur ingin Islam yang lembut, yang memeluk semua. Habib Rizieq ingin Islam yang teguh, yang menjaga batas. Dua wajah yang saling mengisi, bukan saling meniadakan.

Keduanya adalah anak zaman―lahir dari tanah ibu pertiwi yang sama, meski di tempa dalam dapur pemikiran yang berlainan. Keduanya―dengan caranya masing-masing, adalah bagian dari mobil yang sama. Mereka bisa saja berbeda tempat duduk, tetapi tetap satu kendaraan. Dan kendaraan itu adalah Indonesia. Adalah Islam. Adalah kemanusiaan.

Perbedaan bukanlah ancaman, tetapi keniscayaan. Apalagi bagi bangsa Indonesia― perbedaan adalah sebuah kemewahan. Indonesia, sejak awal, adalah republik yang terbentuk dari keberagaman yang rumit. Ada sekian variabel pemikiran yang membentuk konstruksi Indonesia, Sukarno versus Natsir, Hatta versus Sukarno, Wahid Hasyim versus Leimena, Sjahrir versus Tan Malaka, dan lain sebagainya.

Belum termasuk sub kultur kebudayaan ras atau etnis. Karena itu, tak pernah ada satu versi Islam, satu versi nasionalisme, satu tafsir kebangsaan. Tetapi mereka merawat republik yang sama. Dari ketidaksatuan itu justru lahir persetujuan: Bhineka Tunggal Ika. Ini bukan soal siapa yang benar, tapi siapa yang bersedia untuk bersama-sama membentuk harmoni.

Hari ini, publik―dan media―sering menjadikan perbedaan sebagai bahan bakar konflik. Kita lebih senang memperpanjang perbedaan, ketimbang mencari titik temu. Memperbesar diksi seperti, “melawan”, “membongkar”, “membasmi”, tapi jarang menggunakan kata “mendengar”, “mendekat”, “mengenal.”

Dengan serta merta menghakimi dan terburu-buru menilai. Lantas merasa cukup mengenal seseorang hanya dari potongan video atau cuitan di media sosial. Tak lagi membaca secara utuh. Tak lagi membaca secara konteks. Akibatnya, dua tokoh tersebut diposisikan sebagai musuh bebuyutan, seolah tak mungkin dalam satu kendaraan.

Sekarang, saatnya kita harus mulai berdamai dengan kenyataan, bahwa Islam bukan satu wajah. Ia tidak tunggal. Ia bisa hadir dalam bentuk Gus Dur dan Habib Rizieq sekaligus. Dalam kelembutan dan ketegasan. Dan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kehendak-Nya. Tak perlu campur tangan manusia.

Mimpi yang saya alami sekadar bunga tidur―bisa dialami oleh siapapun. Mimpi manusia biasa, bukan orang saleh―apalagi nabi yang sudah pasti kebenarannya. Tapi seperti puisi, kadang mimpi lebih jujur dari realitas.

Ia tidak terbebani oleh fakta, justru membuka ruang bagi makna. Dari mimpi itu saya bisa belajar; bahwa berbeda bisa duduk berdampingan. Tak perlu sepakat, hanya duduk bersama. Bahwa Gus Dur dan Habib Rizieq pun bisa berada dalam kendaraan yang sama, bahkan jika mereka tidak ingin ke tujuan yang sama persis.

Mungkin mobil itu menuju ke masa depan muslim Indonesia. Atau masa depan yang lebih luas lagi; kemanusiaan. Wallahu a’lam.

Tags: Gus DurHabib Rizieq
Previous Post

‎Sendangharjo, Peradaban Alas Gebang Bojonegoro

Next Post

Membaca, itu Perlu Uswah Bersama-sama

BERITA MENARIK LAINNYA

Pelajaran dari Luka yang Sama
Cecurhatan

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: