Pada 22 Januari 1977 silam, Hidetoshi Nakata lahir ke dunia. Pesepakbola asal Jepang ini dikenal sebagai pemain yang nyentrik. Dengan gaya flamboyannya, Nakata kerap disebut sebagai versi Asia dari David Beckham.
Jika ditanya, siapa pemain Asia paling berpengaruh di kancah persepakbolaan Eropa? Maka Hidetoshi Nakata bisa disodorkan sebagai jawabannya. Sosok satu ini dianggap sebagai pembuka jalan bagi pesepakbola Asia untuk tampil di kompetisi Eropa.
Nakata dikenal dan selalu identik dengan 2 hal. Pertama adalah permainannya di atas lapangan. Kedua adalah gaya berpakaiannya yang sungguh stylish. Karena stylish dan flamboyan, dia kerap disebut sebagai versi Asia dari David Beckham.
Nama Nakata mencuat pada 1998 lalu. Ketika itu, Nakata jadi salah satu pemain utama timnas Jepang di ajang Piala Dunia 1998 di Perancis.
Pada kompetisi empat tahunan itu, Nakata memang jadi pemain paling menonjol. Selain karena skillnya yang mumpuni, juga karena dandanannya yang nyentrik. Tanpa ragu, Nakata mewarnai rambutnya ketika memperkuat Jepang di Piala Dunia 1998.
Alasannya sederhana. Supaya pemandu bakat tim Eropa bisa dengan mudah mengenalinya. Meski Jepang saat itu gagal total di Piala Dunia 1998, Nakata berhasil mencuri perhatian lewat aksinya itu.
Setelah tampil impresif di Piala Dunia 1998, Nakata dipinang oleh klub Serie A, Perugia. Dia jadi pemain Jepang kedua yang tampil di kompetisi Eropa setelah Kazuyushi Miura pada 1994.
Nakata tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Perugia. Ia tampil memukau bersama Perugia pada musim 1998/1999. Pemain yang punya tinggi 175 cm tersebut sukses membukukan 10 gol di musim perdananya di Serie A Italia dan menyelamatkan Perugia dari jerat degradasi.
Semusim setelahnya, Nakata tampil lebih impresif. Walaupun catatan golnya tak sebaik di musim pertama, pada tahun keduanya ini Nakata mampu membawa Perugia ke posisi 10 di klasemen akhir Serie A Italia 1999/2000.
Berkat aksi impresifnya di Perugia, Nakata akhirnya dipinang oleh klub besar Italia, AS Roma. Keberadaan Nakata di AS Roma itu jadi berita besar di Jepang. Pasalnya, AS Roma adalah tim yang berpotensi jadi juara Serie A.
Nakata pun menunjukkan aksinya bersama AS Roma. Dia jadi bagian penting dari keberhasilan AS Roma dalam meraih gelar Scudetto. Nakata jadi orang Asia dan Jepang pertama yang pernah mengangkat trofi juara Serie A Italia.

Hidetoshi Nakata hanya tampil semusim bersama AS Roma. Eks pemain Bellmare Hiratsuka itu dibeli oleh klub Serie A lainnya, yakni AC Parma dengan harga 28 juta euro. Membuatnya jadi pemain Asia termahal sepanjang sejarah.
Setelah tampil bersama Parma dan mengantarkan klub tersebut meraih gelar Coppa Italia, Nakata kemudian berpetualang ke beberapa klub Eropa lain. Seperti Bologna, Fiorentina dan Bolton Wanderes.
Setelah memperkuat Bolton Wanderes, Nakata secara mengejutkan menyatakan pensiun dari sepakbola. Itu jadi kabar yang mengejutkan karena saat itu usia Nakata baru menginjak 29 tahun. Usia yang masih tergolong produktif untuk ukuran pesepakbola.
Apa yang dilakukan Nakata setelah gantung sepatu? Alih-alih jadi pelatih atau kembali bergelut di dunia yang tak begitu jauh dari sepakbola, Nakata justru melanjutkan karir sebagai seorang pragawan atau model.
Nakata tak bisa menyembunyikan rasa cintanya terhadap dunia fashion. Selama jadi pesepakbola, Nakata kerap mengenakan pakaian menarik dengan gaya khas. Beberapa media menjulukinya sebagai David Beckham-nya Jepang.
Dia kemudian menggeluti dunia modeling di Jepang. Sebagai sosok yang sudah punya nama besar, tak sulit bagi Nakata untuk mengawali dan menjalani karir sebagai model. Bahkan, Nakata sempat jadi model pakaian dalam dari brand besar dunia, Calvin Klein.
Tak cukup sampai di situ saja. Nakata juga sering wara-wiri di catwalk memperagakan busana. Dia begitu menikmati peran dan profesi barunya sebagai model.
Nakata memang jadi sosok unik yang pernah muncul di persepakbolaan dunia. Dia jadi salah satu sosok berpengaruh, tak cuma di dunia sepakbola, tapi juga di budaya populer.








