Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Jam Karet dan Kampanye Taat Waktu

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
10/10/2019
in JURNAKULTURA
Jam Karet dan Kampanye Taat Waktu

Boleh dikatakan, hampir setiap orang di negeri ini pandai mengenakan jam tangan. Mereka akan mengenakannya pada pergelangan tangan kanan, dan sebagian yang lain di sisi pergelangan tangan kiri. Persis seperti itu.

Cara-cara seperti itu lazim membuat seseorang terlihat lebih menarik. Bahkan, seringkali mampu membingkai penampilan menjadi tingkatan sempurna yang paripurna.

Namun begitu, rupanya tingkatan kesempurnaan itu, di tahapan yang lain, juga menimbulkan masalah. Kecermatan dalam mengenakan arloji, ternyata tidak serta-merta seiring dengan ketepatan seseorang untuk menaati aturan waktu di jam.

Orang-orang kita, termasuk saya, rentan mengamalkan jam karet. Dalam aturan yang tak tertulis, jam karet bermakna menjadikan waktu lentur dan molor. Lantas berimbas pada keterlambatan, penyesalan, atau kekecewaan.

Walhasil, deretan kata seperti “maaf”, “sayang sekali”, “ah nyaris saja”, atau “seandainya saja tadi lebih cepat” akan bejubel dan menyesaki telinga dan menghantam kepala, dan itu buruk sekali untuk kesehatan jasmani dan rohani.

Tetapi, sebenarnya apa yang menjadikan kita tidak bisa menaati waktu?

Seorang teman seringkali sebal dengan saya. Di sebuah siang yang disesaki cahaya langit, ia mengajak saya bertemu di warung kopi kegemarannya. Kami berjanji pukul 11.30 WIB, dan karena cerita yang begitu panjang, saya sampai di lokasi nyaris pukul 12.30 WIB.

Penyebab keterlambatan itu, dari analisa sederhana serta renungan yang untuk disebut singkat saja belum, saya mendapati bahwa terkadang estimasi waktu yang saya berikan tidak realistis.

Begitu juga ada hal-hal yang sebenarnya cukup menyita waktu, tidak saya sampaikan dan imbasnya saya seperti membuat jam begitu longgar.

Tentu saja itu adalah satu hal yang saya alami dan perlahan saya sesali. Mengapa untuk waktu yang amat banyak dan kesempatan yang panjang, saya tidak bisa mengaturnya barang sedikit saja. Dan justru membuat saya dilema dan dilanda penyesalan berhari-hari.

Penulis Susy Ong lewat karyanya berjudul Seikatsu Kaizen mengatakan, Jepang, sebagai negara yang saat ini dikenal lewat ketepatan waktu serta disiplinnya, semula mirip dengan Indonesia. Mereka akrab dengan ngaret, molor, dan tidak taat waktu.

Namun semua keadaan itu berubah sejak pemerintah melakukan kunjungan ke negara-negara Barat pada 1871-1873. Mereka berkunjung di pabrik, sekolah, sampai kantor pemerintahan.

Dan betepa terkejutnya mereka, bahwa di lingkungan tersebut orang-orang Barat gemar menaati waktu. Atau dengan kata lain, menerapkan kedisiplinan.

Dari situlah, sewaktu kembali ke Jepang, mereka mengajak kelas menengah untuk mengampanyekan disiplin waktu. Dan sekarang, hasilnya mungkin setiap orang di dunia ini akan buru-buru menyebut Jepang untuk urusan disiplin dan ketepatan waktu.

Sebagai permasalahan yang mendasar, ketepatan dalam menunaikan waktu memang harus diselesaikan. Banyak cara yang bisa dilakukan, tetapi jika terasa berat sebaiknya dilakukan dari hal terkecil yang bisa dijangkau.

Misalnya, membuat kampanye kecil agar kita tepat waktu dan disiplin. Saya telah memulainya lewat tulisan ini. Saya kira, sekarang giliran Anda.*

Tags: DisiplinTepat Waktu
Previous Post

Suporter Persibo Turut Tentukan Sikap atas Hukuman Komdis PSSI Jatim

Next Post

Melihat Dampak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

BERITA MENARIK LAINNYA

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan
JURNAKULTURA

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

13/08/2026
Rasa Pahit yang Diam-Diam Menyelamatkan Kita
JURNAKULTURA

Rasa Pahit yang Diam-Diam Menyelamatkan Kita

06/08/2026
Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah
JURNAKULTURA

Tak Ada Narasi Tunggal dalam Mendefinisikan Sejarah

23/07/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

Tanah, Ingatan, dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai

15/08/2026
Penutupan KKN Unigoro: Ketika Batik Lantung Menjadi Jejak yang Ditinggalkan di Drenges

Penutupan KKN Unigoro: Ketika Batik Lantung Menjadi Jejak yang Ditinggalkan di Drenges

15/08/2026
Gelar Paripurna Istimewa, DPRD Bojonegoro Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden RI

Gelar Paripurna Istimewa, DPRD Bojonegoro Ikuti Pidato Kenegaraan Presiden RI

14/08/2026
Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

Ruang Ambang: Alasan Mengapa Batas Desa, Jembatan, dan Persimpangan Jalan Diangkerkan

13/08/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: