Adakalanya Allah menyembunyikan pelajaran besar dari kisah-kisah kecil. Tidak wah. Tidak terlalu spektakuler. Seperti halnya sebuah kisah yang dialami oleh kekasih-Nya, KH. Abdul Hamid bin Abdullah Umar (1914-1982) pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan.
Sore itu, halaman Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan tampak lengang, hanya gemerisik daun pisang dan pohon mangga yang melambai-lambai di halaman belakang pesantren. Sang Surya semakin condong ke arah barat. Siap kembali ke peraduan. Sinarnya kemerah-merahan jatuh diatas atap rumah KH. Abdul Hamid yang sederhana.
Namun, ketenangan pondok terusik oleh peristiwa ganjil yang terjadi tiga hari belakangan: jemuran di pekarangan belakang rumah Kiai Hamid raib. Sarung, baju koko, sajadah tak luput dari incaran tangan-tangan jail. Tangan yang tak pernah dikenal. Para santri mulai curiga. Mereka segera bermusyawarah. Maka, disusunlah sebuah siasat; malam itu beberapa santri harus mengintai di balik pohon mangga. Sampai pencuri tertangkap. Termasuk Gus Zaky Ubaid―santri senior yang masih terhitung kerabat Kiai Hamid. Tak ubahnya sebuah operasi intelejen berskala kecil.
Malam itu, dibawah cahaya bulan dan temaram lampu gantung pondok, terdengar derit pelan dari pagar bambu yang digeser. Sesosok bayangan tiba-tiba menyelinap masuk pekarangan. Langkahnya ringan. Tangannya segera meraih sehelai sarung milik kiai.
“Ketangkap kau!” teriak Gus Zaky Ubaid sambil melompat dari balik pohon mangga. Santri-santri lain keluar dari persembunyian masing-masing. Pencuri itu terjebak. Sebelum sempat melarikan diri, ia sudah dikepung santri-santri. Mereka segera menyergapnya.
“Hajar aja gus!”
“Biar kapok sekalian!”
“Hajar!”
“Ayo Hajar!”
Tangan-tangan mulai teracung. Sebelum energi kemarahan benar-benar meledak, suara nan lembut namun penuh wibawa―lamat-lamat terdengar. Dan semuanya berubah seketika.
“Loh wonten tamu to?” (Loh ada tamu ya?)
Santri-santri menoleh. Gus Zaky tercekat. Dari pintu lorong, keluar sosok sepuh berjubah putih dengan sorban melingkar rapi di kepalanya―wajah sosok itu teduh, tenang dan menyejukkan. Itulah KH. Abdul Hamid atau yang acapkali disapa Mbah Hamid Pasuruan.
“monggo, monggo mlebet” (mari, mari silahkan masuk), ujar Kiai Hamid sembari menggerakkan tangan kanannya―mempersilahkan pencuri itu masuk ke rumah.
Pencuri itu mematung. Santri-santri terbengong. Tak ada yang berani membantah.
Kiai Hamid menggiring pencuri itu kedalam rumahnya. Di ruang tamu, si pencuri duduk dengan kaku. Di hadapannya, Kiai Hamid menyuguhkan minuman dan makanan tak ubahnya kepada tamu agung. Lantas sosok yang dikenal luas sebagai wali itu mengajaknya omong-omong ringan. Keduanya pun bercengkrama.
Ketika pencuri itu pamit, Kiai Hamid mengantarnya sampai halaman. Sebelum memakai kedua sandalnya, Kiai Hamid menepuk bahunya dan berkata lembut,
“Lintu dinten menawi wonten wekdal, mampir mriki malih njih!” (Lain hari, jika ada waktu mampir kesini lagi ya!)
Pencuri itu mengangguk. Air matanya hampir saja tumpah, jika ia tidak ingin menahan rasa malu bercampur haru. Lalu ia berjalan pergi, membelah kesunyian malam―menyusuri gang-gang sempit di sekitar Pesantren Salafiyah. Sementara santri-santri yang menyaksikan peristiwa itu hanya terdiam, sebuah peristiwa lain dari yang lain itu. Dan, malam itu berlalu dalam keheningan yang sarat akan makna. Langit terasa lebih luas dari biasanya. Jemuran tetap bergoyang, tertiup angin yang berhembus pelan-pelan, Tak ada bentakan, taka ada hajaran. Hanya ada dialog hati dan kemurahan yang menampar lebih keras dari sekadar pukulan.
-0-
Kisah ini tidak dalam rangka membenarkan pencurian, apalagi menolak penghakiman. Tidak. Kisah ini merupakan metafora sederhana―mengajarkan bagaimana keadilan seharusnya bermuara pada kasih sayang. Ketika Kiai Hamid tidak membalas keburukan dengan tindakan yang lebih buruk lagi, sejujurnya ia tengah memberi pesan, “bahwa kebaikan tidak bisa lahir dari dendam dan amarah, tapi dari pemahaman.” Dan, Kiai Hamid justru mengambil jalan tengah, jalan yang kini nyaris punah: “memanusiakan manusia.” Inilah jenis entitas yang semakin langka di negeri yang kerap memadukan moralitas vis-à-vis kemarahan. Dimana, maling ayam bisa dihakimi, dilukai rama-ramai dan semena-mena―sementara koruptor kelas kakap bisa tersenyum sembari mengenakan rompi orange dan melambaikan tangannya dihadapan kamera.
Dus, memanusiakan manusia bukanlah kelemahan. Ia dalah manifestasi dari kekuatan. Seperti yang pernah dilontarkan oleh Goethe, ‘If you treat an individual as he is, he will remain how he is. But if you treat him as if he were what he ought to be and could be, he will become what he ought to be and could be.’ (Jika kamu memperlakukan seseorang sebagaimana adanya, ia akan tetap begitu. Tapi jika kamu memperlakukannya sebagaimana ia seharusnya akan sebaiknya, ia akan menjadi yang seharusnya dan sebaiknya).
Pada gilirannya, belas kasih bukan untuk meniadakan keadilan―justru menggenapinya. Dalam dunia yang marak akan ketimpangan sosial, ekonomi, dan ketidakadilan hukum, barangkali―kelembutan dan kasih sayang adalah bentuk keberanian paling sunyi. Betapa sunyinya pesan itu, sampai-sampai kita tidak mau lagi untuk mendengarnya. Wallahu a’lam.








