Sebab mandiri bukan berarti menolak dunia, melainkan menolak tunduk pada kerapuhannya.
Segalanya bermula dari senyap. Jalanan yang biasanya berdebu oleh lalu-lalang manusia tiba-tiba kosong. Di layar televisi, wajah-wajah pemimpin dunia berbicara dengan nada getir: “kita harus menutup.”
Maka pintu-pintu dikunci, bandara dibungkam, dan kehidupan seakan direduksi menjadi statistik.
Pandemi datang seperti gelombang tanpa arah. Ia bukan sekadar virus, melainkan cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya peradaban yang kita banggakan.
Di negeri-negeri yang selama ini dielu-elukan sebagai “maju”, ekonomi runtuh bagai istana pasir diterpa pasang. Pasar yang selama ini dianggap dewa penyelamat tiba-tiba tak berdaya; mesin-mesin industri berhenti berdengung, dan manusia kembali memeluk dapur, kebun, dan perapian—mencari makna dari roti yang dibuat dengan tangan sendiri.
Namun, dari reruntuhan itu, satu pelajaran menguap ke udara: bahwa ketergantungan adalah bentuk perbudakan paling halus. Bahwa modernitas, dengan segala kemewahannya, menyimpan kerapuhan yang bahkan seekor mikroba bisa mengguncangnya.
Di negara kita, yang terbiasa menunggu komando, tanda bahaya itu sering tak terdengar. Kita sibuk membicarakan “normal baru”, padahal yang kita butuhkan mungkin “akal baru”—cara berpikir yang tak lagi bergantung pada pusat, tapi tumbuh dari akar.
Petani kecil, nelayan, pengrajin—mereka yang selama ini dianggap pinggiran—justru bertahan dengan cara paling sederhana: menanam, mengeringkan, menukar hasil panen dengan tetangga. Di tengah sunyi, mereka mengajarkan kembali makna kemerdekaan: berdiri di atas kaki sendiri. Sementara di layar digital, sebagian dari kita menunggu “stimulus”, “subsidi”, atau “bantuan tunai” yang tak kunjung tiba.
Kini, lima tahun telah berlalu sejak dunia menutup diri. Banyak negara belum pulih sepenuhnya; beberapa bahkan mulai retak dari dalam. Instabilitas politik meluas seperti bayangan panjang dari krisis yang belum usai. Di balik angka pertumbuhan dan jargon pemulihan, ada kegelisahan yang tak dapat disembunyikan: apakah kita benar-benar belajar sesuatu?
Barangkali inilah saatnya untuk merenung sebelum semuanya terlambat—sebelum kita kembali menjadi bangsa yang hanya bisa menyesal di kemudian hari. Karena hidup bukanlah menunggu negara menyelamatkan kita, melainkan kemampuan untuk bertahan ketika dunia berhenti berjalan.
Mungkin sudah saatnya kita belajar dari hal-hal kecil: dari sebutir singkong yang tumbuh tanpa banyak air, dari tangan-tangan yang kembali menumbuk padi di lumbung, dari dapur yang menyala bukan karena listrik, tapi karena harapan.
Di sanalah, di antara aroma tanah basah dan napas kerja keras, bangsa ini mungkin menemukan lagi jiwanya yang lama hilang—jiwa yang tahu bahwa bertahan hidup bukanlah perkara bertahan dari bencana, melainkan menemukan makna baru di tengah keruntuhan.
Segalanya bermula dari senyap. Suara kendaraan mereda, deru pabrik berhenti, bahkan udara terasa canggung menunggu arti dari kata “karantina.” Pada Maret 2020, dunia menutup diri. Pintu-pintu kota digembok, perbatasan diselimuti ketakutan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, umat manusia bersembunyi dari sesuatu yang tak kasatmata. Namun, bukan hanya virus yang menyebar — kepanikan, ketimpangan, dan kesadaran baru ikut menjalar.
Sistem ekonomi global, yang selama ini kita percayai seperti agama, mendadak tersungkur. Di Eropa dan Amerika, rak-rak pasar kosong, antrian panjang di dapur umum menjadi pemandangan harian. Mereka yang dulu merasa kebal, kini menunduk di hadapan kenyataan bahwa kemakmuran bisa lenyap dalam sekejap.
Di negeri ini, kita menyaksikan sesuatu yang ganjil: kota-kota lumpuh, tapi di pelosok desa, orang-orang justru belajar bertahan. Mereka menanam kembali singkong, memelihara ayam, menjemur gabah di halaman. Seolah sejarah berputar, membawa kita kembali ke masa-masa ketika ketahanan tidak dibeli dari pasar, melainkan ditanam di pekarangan sendiri.
Kita pernah melewatinya. Ketika Jepang datang pada 1942, rakyat dipaksa menanam padi di setiap jengkal tanah, menukar hasil bumi demi hidup. Di tengah penindasan, mereka diam-diam menanam harapan. Lumbung-lumbung desa menjadi benteng pertahanan yang tak tercatat dalam sejarah resmi. Mereka bertahan bukan karena pemerintah memberi makan, tetapi karena naluri purba untuk hidup lebih kuat dari rasa takut.
Lalu krisis 1998 datang membawa rupa lain dari kepedihan. Harga melambung, uang kehilangan makna. Banyak yang jatuh, tapi di banyak kampung, perempuan-perempuan memutar kembali roda kecil kehidupan: membuat tempe, menenun, berjualan nasi bungkus. Solidaritas tumbuh diam-diam di antara reruntuhan ekonomi.
Dan kini, setelah pandemi mengguncang, pola itu terulang — hanya kali ini, musuhnya bukan penjajah berseragam atau kebijakan moneter yang keliru, melainkan sistem global yang rapuh oleh keserakahan sendiri. Pandemi hanyalah kaca pembesar: ia memperlihatkan betapa dunia modern tidak lagi berpijak pada ketahanan, tapi pada ilusi stabilitas.
Kita berbicara tentang ketahanan pangan, tapi sawah-sawah sudah menjadi perumahan. Kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi, tapi lupa bertanya: tumbuh untuk siapa?
Sementara itu, di dapur-dapur sederhana, rakyat menanak nasi dengan sabar, menyimpan air hujan, menumbuk cabai, dan menakar ulang makna kecukupan.
Mungkin bangsa ini masih punya sesuatu yang dunia kehilangan: kemampuan untuk mulai dari nol. Kemampuan untuk tidak malu mengandalkan tangan sendiri. Itulah warisan yang mengalir dari nenek moyang yang hidup di bawah bayang kolonialisme, yang menanam di tanah tandus tapi tetap bisa memberi makan.
Lima tahun berlalu sejak dunia menutup diri. Di banyak negara, politik retak, demokrasi kehilangan wibawa. Tetapi barangkali kita masih punya kesempatan — jika saja kita mau belajar dari yang paling sederhana: dari cangkul yang kembali menyentuh tanah, dari anak muda yang menanam sayur di lahan sempit, dari perempuan yang menolak lapar dengan kreativitasnya.
Sebab mandiri bukan berarti menolak dunia, melainkan menolak tunduk pada kerapuhannya. Dan kemerdekaan, barangkali, bukan perkara bendera di tiang tinggi, melainkan kemampuan untuk tetap hidup meski dunia berhenti berjalan.[]
Nitiprayan 12 Oktober 2025








