Pencari kebenaran memiliki kredo bahwa semakin tahu akan kebenaran, semakin merasa bodohlah ia. Semakin tersingkap rahasia kebenaran, semakin banyak hal yang tidak diketahui.
Tagline iklan yang sampai sekarang menjadi top of mind buatku adalah iklah salah satu produk wafer: Berapa lapis? Ratusan, lebih. Ada yang tahu iklan apa itu? Cukup disimpan dalam senyum saja jika tahu. Oh pasti, kita seumuran.
Tidak hanya wafer, kebenaran juga berlapis-lapis. Satu kebenaran akan menjadi pintu masuk pagi pencarian kebenaran lainnya. Pencari kebenaran tidak akan merasa puas dan sombong. Ia akan semakin bersemangat untuk mencari kebenaran baru.
Pencari kebenaran memiliki kredo bahwa semakin tahu akan kebenaran, semakin merasa bodohlah ia. Karena semakin tersingkap rahasia kebenaran, maka sejatinya semakin banyak hal yang tidak diketahui. Lapis-lapis kebenaran.
Kebenaran di sini serupa dan sebangun dengan ilmu. Ilmu yang benar akan mengantarkan pemiliknya sampai kepada kebenaran. Di titik itulah, ilmu dan kebenaran menjadi hikmah. Barangsiapa diberi hikmah, kata Allah, artinya dia diberi kebaikan yang banyak. Ilmu yang benar akan menuntun ke arah hikmah.
Syarat ilmu menjadi hikmah adalah amal. Ilmu haruslah diamalkan agar menjadi hikmah. Tahu kebenaran, berlakulah sesuai kebenaran. Tahu hal yang salah, laku diri diarahkan agar tidka terjerumus ke dalam jurang kesalahan.
Demikianlah lapis-lapis kebenaran: Ilmu, amal, dan hikmah. Jembatan antara ilmu dan hikmah adalah amal. Jembatan antara ilmu dengan amal adalah menerima, menginsafi, internalisasi, dan akomodasi kebenaran. Akomodasi, seperti yang kuingat di kelas sosiologi saat SMA, adalah upaya individu menerima dan menjadikan nilai-niali dari luar diri menjadi pikiran, perasaan, perbuatan, dan karakter diri.
Kebenaran dan ilmu oleh karena itu tidaklah untuk kebenaran dan ilmu itu ansich. Kebenaran dan ilmu adalah untuk menerima dan menginternalisasi nilai sebagai dasar beramal. Kebenaran dan ilmu adalah pondasi kesuksesan dalam beramal. Pencari ilmu adalah seorang yang berkomiten dengan amal.
Benar, kebenaran dan ilmu adalah penyingkap dan penghapus syubhat. Ketidakjelasan suatu perkara, venar-salah, baik-buruk, indah-buruk, dapat disingkap oleh hadirnya ilmu. Masalahnya, selain syubhat, ada penyakit lain bernama syahwat.
Syahwat ini adalah penghalang antara ilmu dengan amal. Berapa banyak yang tahu akan kebenaran, tetapi melanggar. Begitupun, berapa banyak yang mengetahui perkara salah, tetapi tetap lanjut dilakukan? Sebabnya syahwat. Sebabnya nafsu.
Kiai Dahlan berpesan agak panjang perihal ini. “Manusia tidak menuruti, tidak memedulikan sesuatu yang sudah terang benar bagi dirinya. Artinya, dirinya sendiri, pikirannya sendiri, sudah dapat mengatakan itu benar, tetapi ia tidak mau menuruti kebenaran itu karena takut mendapat kesukaran, takut berat dan bermacam-macam yang dikhawatirkan, karena nafsu dan hatinya sudah terlanjur rusak berpenyakit akhlak (budi pekerti), hanyut dan tertarik oleh kebiasaan buruk.”
Poin penting di sini adalah bukan alpanya kebenaran dan ilmu, melainkan alpanya kesadaran diri mentapi dan berkomiten dengan kebenaran dan ilmu yang telah diketahui. Kebenaran dan ilmu yang diketahui dikhwatirkan akan memisahkan dirinya dari kesenanangan, dijauhi teman, dan diasingkan.
“Dalam agamaku,” kata Kiai Dahlan, ” Terang benderang bagi orang yang mendapat petunjuk, tetapi hawa nafsu (menuruti kesenangan) merajalela di mana-mana, kemudian menyebabkan akal manusia menjadi buta.”
Setiap diri manusia yang diidealkan oleh Kiai Dahlan adalah mereka yang bersemangat untuk mencari kebenaran dan ilmu, serta lebih semangat lagi mengamalkan kebenaran dan ilmu tersebut. Dengan semangat itu, seseorang akan tampil sebagai muslim yang baik: “Condonganya nafsu ruhani naik kepada kesempurnaan tertinggi yang suci dan luhur, bersih dari pengaruh kebendaan.








