Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Masjid Al Aqsha: Dari Sujud Para Nabi hingga Ratab Tangis Penjajahan

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
28/02/2026
in Cecurhatan
Masjid Al Aqsha: Dari Sujud Para Nabi hingga Ratab Tangis Penjajahan

Kemegahan yang Abadi: Kompleks Masjid Al Aqsha

DI MUKA Bumi ini, dalam perasaan saya, ada sebuah tempat di mana langit terasa begitu rendah. Sehingga, doa-doa seakan berdesakan ingin segera naik menghadap Sang Pencipta. Itu bukan hanya tentang kubah emas yang berkilauan di bawah sinar rembulan. Atau tentang batu-batu tua yang menyimpan jutaan jejak telapak kaki para kekasih Allah. Itu tentang Masjid Al-Aqsha, sebuah nama yang bukan sekadar merujuk pada bangunan. Namun, pada sebuah entitas suci yang menjadi simpul rindu seluruh umat Islam.

Apalagi di bulan Ramadhan. Ya, di bulan Ramadhan, ketika malam-malamnya lebih baik dari seribu bulan, Masjid Al-Aqsha berubah wujud. Ia bukan lagi sekadar masjid. Ia adalah pentas sejarah, medan pertemuan antara para Nabi, saksi bisu perjalanan agung Isra’ Mi‘raj, dan sekaligus luka yang tak pernah kering di hati dunia. Memburunya di Bulan Suci adalah perjalanan menembus ruang dan waktu: ziarah yang dilakukan bukan hanya oleh kaki. Namun, juga oleh jiwa yang merindukan kedamaian, akan tetapi kerap terbentur pada kerasnya realitas penjajahan.

Di sinilah Para Nabi Pernah Bersujud

Siapapun yang pertama kali menginjakkan kaki di Komplek Masjid Al-Aqsha akan merasakan getar yang sulit dijelaskan. Luasnya sekitar 144 ribu meter persegi. Sehingga, menjadikannya salah satu komplek masjid terluas di dunia. Di dalamnya berdiri megah Kubah Batu (Qubbah Al-Shakhrah) dengan kemilau emasnya yang menyilaukan dan Masjid Qibli dengan kubah timah abu-abu yang menjadi ikon perlawanan Palestina.

Namun, Komplek Al-Aqsha bukanlah sekadar kumpulan bangunan indah. Ia adalah lembaran sejarah yang hidup. Para sejarawan mencatat bahwa fondasi Tempat Suci ini telah ada jauh sebelum Rasulullah Saw. lahir. Di sinilah Nabi Ibrahim a.s. menyebarkan ajaran tauhid. Di sinilah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. membangun Baitul Maqdis. Di sinilah Nabi Ya‘qub a.s. menghabiskan masa tuanya dalam munajat. Dan, ketika Rasulullah Saw. melakukan Isra’ dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha, beliau tidak sekadar “mengunjungi” sebuah bangunan. Namun, beliau menyambung mata rantai risalah para Nabi terdahulu.

Masjid Suci: Pertautan Rantai Para Nabi

Arkeolog menemukan bahwa beberapa struktur bawah tanah Komplek Al-Aqsha berasal dari 2.300 tahun lalu. Sedangkan balok-balok kayu yang digunakan dalam konstruksinya-seperti kayu cemara dan akasia-melalui penanggalan radiokarbon menunjukkan usia hingga abad ke-9 SM. Menariknya, jenis kayu akasia yang sama disebut dalam kitab suci digunakan Raja Sulaiman untuk membangun Bait Suci di bukit yang sama. Ini, seakan Allah sengaja menyimpan jejak-jejak para kekasih-Nya di setiap sudut masjid ini.

Selepas penaklukan Jerusalem oleh Umar bin Al-Khaththab pada tahun 15 H/636 M, sang Amirul Mukminin bersama seorang pendeta Yahudi yang baru masuk Islam, Kaab Al-Ahbar, berjalan menuju reruntuhan Tempat Suci. Kaab mengusulkan agar masjid dibangun di belakang Batu (Al-Shakhrah) agar bisa mencakup dua kiblat: menghadap Ka‘bah dan juga menghormati Batu yang dianggap suci oleh Bani Israil. Namun, Umar dengan tegas menolak. “Kita tidak diperintahkan untuk mengagungkan Batu itu,” kata Umar seraya memilih membangun masjid di selatan, dengan kiblat hanya menghadap Ka‘bah. Di tempat itulah kini berdiri Masjid Qibli.

Kisah ini mengajarkan satu hal: Al-Aqsha adalah milik kaum Muslim, dengan identitas yang jelas, tidak tercampur mitologi atau kepentingan apa pun selain untuk beribadah kepada Allah Swt. semata.

Memburu Lailatul Qadar di Bawah Todongan Senjata

Senja itu, saat matahari pelan tenggelam di balik bukit-bukit Jerusalem (Al-Quds), suara azan berkumandang. Gema Allahu Akbar meluncur dari menara Masjid Qibli, menyapa Kubah Batu (Dome of the Rock) yang mulai meredup, menyusup ke celah-celah pasar lama yang mulai sepi dan bergetar di Tembok Ratapan (Wailing Wall) yang menjadi simbol nestapa umat lain.

Suara yang sama, menurut catatan sejarah, telah menggema sejak Umar bin Al-Khaththab menerima kunci kota Jerusalem pada abad ke-7 Masehi. Di sanalah, seperti telah dikemukakan di muka, di tanah lapang yang dulunya terlantar, Umar memutuskan untuk membersihkan reruntuhan dan mendirikan sebuah Tempat Suci. Sejak saat itu, Al-Aqsha menjadi mercusuar. Para pedagang dari Yaman, para sufi dari Persia, para ilmuwan dari Andalusia, semuanya pernah terpana saat pertama kali menginjakkan kaki di pelatarannya yang luas.

Namun, di balik kemegahan itu, ada luka yang menganga. Luka itu bernama penjajahan. Ya, penjajahan. Sejak tahun 1967, ketika Israel menduduki Jerusalem Timur, Komplek Al-Aqsha berada dalam genggaman yang salah. Ia dikelola oleh otoritas Wakaf Islam Yordania. Namun, akses masuk dan keluarnya jamaah berada di bawah kendali tentara Israel. Ironi ini menjadi catatan merah dalam sejarah kemanusiaan modern.

Kini, kita bayangkan malam Lailatul Qadar di Al-Aqsha. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi, jamaah membanjiri dua masjid itu dengan kenyamanan penuh. Payung-payung otomatis membentang, pendingin ruangan bekerja sempurna, dan keamanan terjamin. Sementara di Al-Aqsha, suasana tak pernah semudah itu. Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Palestina mencatat dalam laporan bulanannya bahwa selama bulan September 2025 saja, pasukan pendudukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsha sebanyak 26 kali di bawah perlindungan ketat tentara, bertepatan dengan hari raya Yahudi. Para rabi, anak-anak, dan pemukim melakukan ritual Talmud dan meniup shofar di pelataran Tembok Buraq yang berdampingan dengan masjid. Sementara itu, di Masjid Ibrahimi di Hebron, azan dilarang sebanyak 92 kali dalam bulan yang sama.

Data yang lebih mengejutkan datang dari laporan kelompok yang menyebut diri mereka “Temple Mount Groups”. Mereka mengklaim bahwa selama tahun Ibrani yang lalu (Oktober 2024 hingga September 2025), sebanyak 58.310 pemukim menyerbu Komplek Masjid Al-Aqsha. Angka ini melonjak 14 persen dibanding tahun sebelumnya dan meningkat lima kali lipat dibanding satu dasawarsa sebelumnya.

Data dari kantor berita Palestina (WAFA) mencatat, pada malam-malam ganjil di Ramadhan 2017, sekitar 300.000 jamaah berhasil memadati Komplek Al-Aqsha. Mereka datang dari Tepi Barat, dari Jerusalem yang diduduki, dan dari berbagai penjuru dunia seperti Malaysia, Turki, Indonesia, hingga Afrika Selatan. Angka itu adalah sebuah perlawanan. Sebuah pernyataan eksistensi bahwa meski dipersulit, meski harus melewati pemeriksaan militer yang melelahkan, umat Islam tak akan pernah rela melepas masjidnya.

Seorang sutradara dokumenter, Abrar Hussain, yang merekam malam-malam itu, mengaku malam-malam itu adalah syuting terberat dalam hidupnya. Ia melakukan syuting dari subuh ke subuh berikutnya. “Saya merasa sangat terkekang di sana, paranoid dengan para penjaga. Rasanya seperti tidak dapat bernapas,” ujarnya, menggambarkan atmosfer mencekam di balik keheningan ibadah.

Di malam-malam itu, di tengah lautan manusia yang khusyuk bersimpuh, kadang terdengar isak tangis yang tak hanya karena takut kepada Allah. Namun, juga karena sesak melihat realitas. Di barisan depan, ada seorang anak muda Palestina yang lututnya masih babak belur terkena pukulan tentara saat demo di pintu gerbang beberapa jam lalu. Di barisan belakang, ada seorang nenek yang menggenggam kunci rumah nenek moyangnya di Jerusalem Barat: rumah yang tak pernah lagi bisa ia masuki sejak tahun 1948!

Mereka bersujud di atas sajadah yang sama. Namun, di atas tanah yang terus berusaha direbut.

Api yang Tak Pernah Padam

Selain itu, ada satu momen dalam sejarah Ramadhan di Al-Aqsha yang tak pernah dapat dilupakan. Yaitu, tanggal 21 Agustus 1969. Saat itu, di bulan Ramadhan, seorang ekstremis Yahudi asal Australia, bernama Denis Michael Rohan, membakar Masjid Al-Aqsha. Atau juga disebut Masjid Qibli.

Tempat Suci: Keindahan yang Abadi

Api berkobar hebat. Api menjilat dinding-dinding yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun. Kemudian, api melalap habis Mimbar Shalahuddin Al-Ayyubi yang legendaris: mimbar kayu indah yang diukir atas perintah Nuruddin Zanki dan dihadiahkan kepada Shalahuddin setelah pembebasan Jerusalem dari Pasukan Salib. Mimbar yang selama berabad-abad menjadi tempat khatib berseru tentang keadilan, jihad, dan tauhid, hangus menjadi arang hanya dalam hitungan jam.

Seluruh Dunia Islam berduka. Pembakaran ini menjadi pemicu berdirinya Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang kini beranggotakan 57 negara. Namun, di balik duka itu, tersimpan sebuah pengakuan yang mencengangkan. Golda Meir, Perdana Menteri Israel saat itu, pernah ditanya dalam sebuah wawancara, “Hari apakah yang paling menakutkan dalam hidup Anda?” Ia menjawab, “Hari pembakaran Masjid Al-Aqsha.” Lalu pewawancara bertanya lagi, “Lalu hari apakah yang paling membahagiakan?” Jawabannya menusuk relung hati umat Islam, “Respons para pemimpin Islam dan kaum Muslim setelah pembakaran tersebut. Ternyata, tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya.”

Kutipan ini adalah tamparan paling keras. Api yang membakar Al-Aqsha di bulan suci, mestinya membakar pula semangat untuk membebaskannya. Namun, api itu meredup. Dunia Islam sibuk dengan urusannya masing-masing. Al-Aqsha perlahan menjadi “isu pinggiran” yang hanya diingat saat bulan Ramadhan tiba, lalu dilupakan begitu Syawwal menjelang.

Sejak saat itu, renovasi dan perbaikan terus dilakukan. Mimbar baru kemudian dibuat di Yordania oleh Kerajaan Hasyimiyah Yordania untuk menggantikan mimbar Shalahuddin yang hangus. Namun, mengobati luka di hati umat tak semudah memperbaiki mimbar.

Di sisi lain, ada satu bagian dari Komplek Al-Aqsha yang menyimpan misteri dan kepedihan mendalam, yaitu Tembok Buraq. Menurut keyakinan kaum Muslim, di tembok inilah Nabi Muhammad Saw. mengikatkan Buraq sebelum naik ke Sidrah Al-Muntaha.

Dahulu, tembok ini menjadi batas alami antara area masjid dan permukiman. Namun, setelah Perang Juni 1967, tembok ini secara paksa diklaim dan diubah namanya menjadi Wailing Wall atau Tembok Ratapan dan kini diubah menjadi Tembok Barat (Western Wall), dijadikan tempat ritual umat Yahudi yang meyakini tembok itu sebagai sisa-sisa Haikal (Kuil) Sulaiman. Kini, di sepanjang tahun, termasuk di bulan Ramadhan, kita menyaksikan pemandangan ganjil: di satu sisi tembok, umat Islam beribadah di Masjid Qibli. Sementara di sisi lainnya, tentara berjaga ketat membatasi pergerakan kaum Muslim. Sebaliknya, kelompok-kelompok ekstremis Yahudi sesekali menerobos masuk pelataran masjid dengan pengawalan polisi.

Berkaitan dengan hal itu, Profesor Zaif Hertzogh, seorang pakar arkeologi dari Universitas Tel Aviv, pernah mengingatkan bangsanya sendiri. Ia mengatakan, “Setelah bertahun-tahun negara Israel berdiri, sudah waktunya mengubah budaya. Orang-orang Israel sudah sepantasnya mencari bukti-bukti secara kritis. Bukan sekadar menerima dongeng-dongeng yang tercantum dalam Torat, lalu menganggapnya sebagai hakikat sejarah.”

Peringatan dari ilmuwan Yahudi ini menunjukkan bahwa klaim di atas tanah suci kerap kali dibangun di atas mitos. Bukan fakta.

Rindu yang Tak Sampai

Berburu malam Ramadhan di Al-Aqsha dari masa ke masa adalah menyaksikan bagaimana selembar sajadah bisa terbentang sangat panjang. Di ujung sajadah itu, di masa lalu, ada Nabi Ya‘qub a.s. yang membangun fondasi, Nabi Daud a.s. yang merenovasi, dan Nabi Sulaiman a.s. yang menyempurnakannya. Di tengah sajadah itu, ada Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umawiyah yang pada tahun 685 M mendirikan bangunan megah yang kini kita kenal sebagai Masjid Al-Aqsha.

Di atas sajadah yang sama, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi bersujud syukur setelah pembebasan besar pada tahun 1187 M. Dan di ujung sajadah lainnya, hari ini, ada seorang anak kecil Palestina yang belajar Al-Quran di salah satu sudut masjid, sementara di luar masjid pesawat tanpa awak Israel berdengung di langit.

Mereka semua adalah pemburu malam yang sama. Mereka semua adalah para peziarah yang meyakini pesan Rasulullah Saw., “Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid: Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha.”

Di sudut lain dunia, di Dunia Islam, jutaan pasang mata menatap layar ponsel. Mereka menyaksikan siaran langsung shalat Tarawih dari Al-Aqsha. Kadang siaran terputus. Kadang gambar hanya buram. Namun, hati mereka tetap terpaut. Mereka adalah para pemburu malam yang tak dapat hadir secara fisik. Mereka terhalang paspor. Terhalang ongkos. Juga, terhalang blokade.

Namun, barangkali, inilah ujian cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tak sampai, namun tak pernah padam. Cinta yang membuat seorang ibu di Jawa Tengah menangis saat mendengar ayat-ayat suci bergema dari tanah Palestina. Juga, cinta yang membuat seorang remaja di Malaysia menyisihkan uang jajannya untuk menyerahkan infaq membela Al-Aqsha.

Memburu malam Ramadhan di Al-Aqsha bukan hanya tentang berada di sana secara fisik. Ini tentang memastikan bahwa ketika malam Lailatul Qadar tiba, doa-doa kita juga sampai ke sana. Ini tentang menyalakan lilin di hati kita, agar Cahaya Al-Aqsha tak pernah padam ditelan kegelapan zaman.

Dengan kata lain, saat malam, saat kita menunaikan shalat Tarawih, mungkin kita bisa memejamkan mata sejenak, membayangkan diri kita sedang berada di pelataran Al-Aqsha yang luas. Bayangkan kita bersujud di tempat di mana para Nabi pernah bersujud. Bayangkan air mata kita bercampur dengan air mata ribuan Muslim yang sedang berjuang di sana. Dan bayangkan, di malam Lailatul Qadar, doa kita naik bersama doa mereka, memohon kepada Allah Swt. agar Tanah Suci itu segera merdeka.

Ini karena Al-Aqsha bukan hanya milik bangsa Palestina. Ia adalah milik seluruh kaum beriman. Ia adalah mahkota ibadah, simpul sejarah, dan luka yang tak boleh kita biarkan menganga tanpa air mata!

 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaMasjid Al AqshaZiarah Masjid Al Aqsha
Previous Post

Warga Klepek Ramaikan DAM Sukosewu dengan Lapak Takjil Ramadan

Next Post

Seorang Tua Wafat dan Sebuah Zaman Retak

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: