“Ustadz seorang dosen, ya?” Demikian tanya seorang profesor dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia bertanya demikian demikian kepada saya, beberapa tahun yang lalu, selepas saya memberikan paparan tentang perjalanan ke Tanah Suci dan Turki.
Bagi saya, pertanyaan demikian, merupakan salah satu pertanyaan yang sulit saya jawab. Ini karena saya tak punya profesi yang jelas. Saya sendiri bingung: saya tidak tahu, apa sejatinya profesi saya. Yang jelas, saya bukan seorang dosen.
“Saya ini merbot, Prof!” jawab saya. Tanpa sadar. Biasanya, ketika menjawab pertanyaan demikian, saya menjawab, “Saya guru ngaji ndeso.”
Merbot, profesi apa itu? Kata “merbot”, utamanya di Jawa, berarti “petugas yang setia merawat rumah Allah”. Karena kerjaan saya merawat pesantren dan sekolah, saya merasa nyaman disebut merbot.
Secara historis, kosakata “merbot” berasal dari kosakata Arab “marbuth”. Secara harfiah, “marbuth” berasal dari akar kata “ra-ba-tha” yang berarti mengikat. Nah, kemudian dalam kalangan kaum sufi, seorang marbuth adalah “orang yang terikat” dengan Allah Swt., hidup dalam kesederhanaan, dan kerap bermukim di zawiyah atau padepokan. Para marbuth, pada umumnya, adalah orang-orang yang saleh.
Namun, ketika kosakata marbuth mengembara ke Nusantara, utamanya ke Tanah Jawa, pelafalan marbuth berubah menjadi merbot. Artinya pun berubah: kosakata ini bukan lagi dikenakan pada seorang sufi yang saleh, tapi menjadi dikenakan pada petugas masjid yang setia dan “terikat” pada tugasnya dalam merawat rumah Allah.
Dengan kata lain, jika di Maroko marbuth atau marbout adalah penjaga ruhaniah masyarakat, sedangkan merbot di Nusantara adalah penjaga masjid. Dua profesi yang sama mulia dan terhormat. Dengan kata lain, ketika malam larut tiba, seorang marbout di Maroko berdoa di bawah langit berbintang, sedangkan di Indonesia seorang merbot menutup pintu-pintu masjid. Dua kosakata yang sama, tapi memiliki makna berbeda. Meski beda, namun hakikatnya sama: pengabdian yang tulus dan mulia.
Kini, berkaitan dengan jawaban saya sebagai merbot, pantaskah saya berprofesi merbot yang mulia tersebut? Tampaknya, jauh dari pantas!








