“Bangunlah sarang-sarang dan jahitlah jaringan-jaringan, itu Panggilan Tanah Air untuk merawat porak-porandanya kampung halaman kita, Indonesia” Begitu kira-kira pesan Noer Fauzi Rachman kepada para muridnya.
Noer Fauzi Rachman — yang akrab disapa Pak Oji atau Bang Oji atau Om Oji — merupakan satu di antara beberapa sesepuh Dewan Guru, sekaligus salah satu Begawan Kampus PerDikAn. Ia figur yang menangani bidang Pendidikan dan Pengembangan Jaringan Indonesian Society for Social Transformation (INSIST).
Om Oji adalah satu di antara sejumlah guru utama yang mengajar kami di Kampus PerDikAn. Kepada kami, ia kerap mengingatkan perihal mendasar yang kerap terlupakan — seperti apa itu gerakan sosial, pengorganisasian, aktivisme, serta kenapa hal-hal itu harus dilakukan. Dalam istilah yang sedikit lebih mendalam, ia mengajarkan pada kami tentang makna dan hakekat sebuah pergerakan.
Baca Juga: Dony Hendrocahyono, Data Lapangan dan Kondusivitas Ruangan
Berpikir Skala Bumi, adalah adagium yang kerap ia sampaikan pada kami. Bahwa kami yang hidup di pojokan bumi manapun, sesungguhnya punya peran dan dampak yang sama terhadap keberadaan ekosistem alam, ruang hidup manusia. Karena itu, ia sering berkeliling ke sejumlah tempat untuk membangun paradigma dan simpul-simpul pergerakan.
Om Oji figur yang kerap mendorong kami untuk terus membaca. Baik membaca literatur, maupun kondisi lapangan. Ia menekankan pentingnya keseimbangan teori dan implementasi. Baginya, teori tanpa implementasi hanyalah angan-angan. Sementara implementasi tanpa teori adalah kengawuran. Kemampuan membangun teori, harus seimbang ketelatenan ber-implementasi.
Kiprah dan Karya
Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung itu, menyelesaikan pendidikan Doktoral (Ph.D) di University of California, Berkeley, bidang Environmental Science, Policy and Management pada 2011 silam. Namanya masyhur sebagai tokoh agraria akhir 1980-an, yang berkiprah di sejumlah Gerakan Sosial di Indonesia.
Di antaranya adalah mendirikan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA); menginisiasi Perhimpunan Lingkar Belajar Pembaruan Agraria dan Desa (KARSA); menjadi Direktur Eksekutif Sajogyo Institute Bogor (2012-2015) dan kini menjadi Dewan Pembinanya; menginisiasi Serikat Petani Pasundan (SPP) dan jaringan Sekolah Petani Pasundan (SPP), yang berkembang hingga kini. Ia juga aktif dalam Perkumpulan Pembaruan Hukum dan Masyarakat (HuMa).
Selain mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung, Om Oji juga mendirikan dan mengasuh Pondok Cikedokan, sebuah Pusat Ekologi Sosial yang terletak di kaki Gunung Mandalawangi Garut, Jawa Barat. Di tempat itu, Om Oji bersama para santrinya membangun ekosistem pendidikan berbasis metode Agroekologis. Tak heran jika ia juga dikenal sebagai Kiai Pengasuh Pondok Cikedokan.
Tak hanya beraktivitas sebagai seorang pengajar, Om Oji juga penulis yang amat produktif. Puluhan buku dan jurnal telah ia tulis, sunting, serta antar ke khalayak, sebagai bukti kehadiran aktivisme dalam kehidupan masyarakat. Di Indonesia, ia termasuk figur yang mempopulerkan istilah “Skolar Aktivis” sebagai bagian penting dari siklus pergerakan.
Baca Juga: Skolar Aktivis, Pegiat Transformasi Sosial Ekologis
Di antara karyanya yang cukup populer adalah; Panggilan Tanah Air, Land Reform dan Gerakan Agraria Indonesia, Petani dan Penguasa, Bersaksi untuk Pembaruan Agraria, serta Masyarakat Hukum Adat. Ini belum termasuk jurnal, buku risalah, dan sajian makalah presentasi yang jumlahnya juga amat banyak.
Secara personal, Om Oji adalah figur yang kerap mensuplai buku-buku bacaan pada saya, mengajari dan membimbing saya dalam memahami riset etnografi, serta memperkenalkan saya pada Pak Roem Topatimasang dan Pak Toto Rahardjo, dua kawan seperjuangannya di INSIST dan Kampus PerDikAn.
Satu hal yang selalu saya ingat dari Om Oji adalah perihal referensi. Ia sangat ketat dalam referensi. Baginya, ilmu pengetahuan, dalam hal ini temuan akademik, harus ditopang referensi agar mampu berdiri. Ia mengibaratkan referensi sebagai proses berdiri di atas Bahu Raksasa, sehingga tak mudah roboh saat diterjang alpa.
Perihal teks dan bacaan, Om Oji sangat detail terhadap maksud dan intonasi. Pengasuh Pondok Cikedokan itu amat telaten menyimak dan mendengar hasil pembacaan murid-muridnya. Sema’an —membaca dan mendengar bersama-sama — masih menjadi metode belajar yang ia tradisikan sampai kini.

Nanos Gigantum Humeris Insidentes (2020), adalah salah satu karya Om Oji mengulas bagaimana membuat sebuah notasi bibliografi — tentang mekanisme dan tata cara bersandar pada Bahu Raksasa. Seingat saya, itu adalah buku pertama yang Om Oji berikan pada saya, sebelum ia memberi buku-buku lain setelahnya.
Terkait buku dan tulisan, Om Oji memiliki dua kalimat keramat yang selalu ia pesankan pada kami. Bahkan, kerap pula ia bubuhkan pada berbagai buku yang telah ia baca. Keduanya adalah; (1). “Tiap-tiap naskah memiliki nyawa dan kakinya sendiri, kita tidak akan bisa menduga kemana dan kepada siapa sajakah tulisan itu tiba”, dan (2). “Naskah yang baik, bisa hidup melebihi umur penulisnya”.
Dua kalimat keramat itu, tak hanya sering ia ucapkan secara langsung kepada saya ataupun kawan-kawan. Tapi juga ia tuliskan. Bahkan, ia bubuhkan secara langsung pada pengantar buku berjudul Peradaban Nggawan (2025) — sebuah buku etnografi sejarah, yang saya tulis atas lisensi ketat dari Om Oji.
Benih Aktivisme
Om Oji memang lahir di kota Jakarta. Namun, ia membawa spirit pedesaan dari orang tuanya. Ibunya adalah Siti Munawarah, seorang guru agama di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ciputat. Ayahnya adalah Abdurrohman Sholeh, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kakeknya, KH Sholeh Hasyim, adalah peletak embrio NU Bojonegoro. Namun, Om Oji menjauhkan diri dari monarki-feodalisme-keagamaan, dan memilih jalan egalitarian.
Semenjak kecil Om Oji dekat dengan pelajaran Islam, melalui buku-buku dan tulisan yang dimiliki kedua orang tuanya. Ia belajar Fiqih dan tata bahasa (termasuk Imlak, Nahwu, Shorof) dari kedua orang tuanya. Kecintaannya pada buku dan literatur (Islam), terbangun sejak ia berada di rumah. Saat duduk di bangku SMP, kedekatannya pada literatur kian meningkat. Sebab, kala itu dia jadi anggota OSIS yang mengurusi majalah dinding.
Kedekatannya pada dunia Land Reform dan Agraria, terbangun saat ia kuliah di Universitas Padjajaran Bandung. Di antara para guru yang cukup mempengaruhinya adalah Prof. Dr. Sajogyo, Prof. Dr. Sediono Tjondronegoro, dan Dr. (HC) Gunawan Wiradi, tiga figur yang ia sebut sebagai guru utama.
Keterlibatannya pada dunia sosiologi dan etnografi pedesaan, kian menumbuh saat belajar di University of California, Berkeley. Om Oji merupakan murid langsung dan asisten dari Nancy Peluso, akademisi dan periset Kehutanan Indonesia, yang jadi pengajar di University of California, Berkeley.
Ketertarikannya pada dunia aktivisme — khususnya Transformasi Sosial Ekologis, Pendidikan Kerakyatan, dan Pemberdayaan Desa — kian meningkat, ketika Mansour Fakih (alm), Roem Topatimasang, Toto Rahardjo, dan Ahmad Mahmudi menginisiasi ekosistem pergerakan sosial bernama INSIST, yang kelak melahirkan Kampus PerDikAn.
Bangun Sarang, Rawat Kampung Halaman
Dalam hal Transformasi Sosial Ekologis, satu hal yang sering ia pesankan pada kami adalah membangun sarang. Bagi Om Oji, sarang (markas) adalah basis material yang harus dimililiki sebuah entitas pergerakan. Sebab, sarang punya peran penting sebagai tempat konsolidasi dan pengembangan kreativitas organisasi.

Keberadaan Sarang Pergerakan, memang tak mungkin ada dengan sendirinya. Karena itu ekosistemnya harus dibuat dan diciptakan. Keberadaan Sarang Pergerakan, sudah sepatutnya diciptakan di tiap-tiap titik wilayah, sebagai bagian dari benteng penjaga keseimbangan sosial-ekologis.
Baca Juga: Sarang Agroekologi, Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati
Sarang Pergerakan, kata Om Oji, jadi pusat penyadaran, ketahanan, serta pemeliharaan keanekaragaman hayati dan budaya lokal. Om Oji selalu mengingatkan: melindungi dan menguatkan ekosistem bumi, merupakan sistem holistik yang bisa dimulai dengan membangun sarang-sarang.
Om Oji berkeiling ke berbagai daerah untuk membangun simpul pergerakan, tak hanya di wilayah Jawa Barat, tapi juga Jawa Timur, termasuk di Bojonegoro, dalam rangka membangun kesadaran para aktivis muda, untuk mau terlibat dalam merespon Panggilan Tanah Air. Tak heran jika Om Oji menginisiasi sejumlah simpul pergerakan di berbagai daerah.
Porak-porandanya kampung halaman kita (Indonesia), kata Om Oji, adalah Panggilan Tanah Air agar kita mau merawat dan mengurusnya. Karena itu, sarang-sarang (pusat pendidikan) harus dihidupkan, simpul-simpul harus dipertautkan, obor dekolonisasi harus dinyalakan. Itu dilakukan dalam rangka mengembalikan marwah Indonesia sebagai Negeri Kepulauan Terbesar, dan Pusat Maritim Dunia.
Kampus PerDikAn, 11 Juni 2025








