Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Toto Rahardjo: Sanepo Organisme Pendidikan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
05/07/2025
in Figur
Toto Rahardjo: Sanepo Organisme Pendidikan

Toto Rahardjo: Sanepo Organisme Pendidikan

“Kita tidak kekurangan anak pintar. Kita kekurangan ekosistem yang menumbuhkan kecerdasan yang membumi” (Toto Rahardjo). 

Toto Rahardjo atau Pak Toto, merupakan satu di antara Begawan Kampus PerDikAn, dan Dewan Guru INSIST yang sempat kami temui. Ia adalah pengarah program Indonesian Volunteers for Social Movement (INVOLVEMENT) — sebuah program pendidikan rutin dan reguler yang dihelat Kampus PerDikAn.

Di Kampus PerDikAn, Pak Toto sohor sebagai filsuf Jawa-kontemporer yang kerap mengajak kami berpikir mendalam, memahami perihal kecil sebagai sanepo (semiotika) kehidupan. Ia juga mengajak kami berdiskusi mengenai sesuatu, dari sisi dekonstruktif — sudut sempit penglihatan, antara kontradiksi dan ketidakpastian.

Pak Toto adalah guru yang dekat dengan para muridnya. Di usianya yang cukup sepuh, Pak Toto masih telaten menemani saya berdiskusi hingga larut malam. Mungkin karena kami memiliki minat yang sama dalam membincang ruwetnya Dunia Pendidikan, atau karena kami memang hobi cangkrukan.

Saat Pak Toto bertanya, “Riz, rokokmu apa?” misalnya, sesungguhnya ia bukan sekadar menanyakan merk rokok. Tapi menanyakan dialektika apa yang sedang saya siapkan, untuk kami diskusikan dan perbincangkan bersama. Baginya, rokok hanyalah “pintu masuk” menuju percakapan panjang, melintasi waktu hingga larut malam.

Baca Juga: Noer Fauzi Rachman, Bangun Sarang dan Jahit Jaringan 

Pak Toto menganggap murid adalah sedulur. Bukan wadah kosong yang harus diisi, tapi mata air yang perlu dijaga alirannya. Di tiap perjumpaan, Pak Toto kerap mengajak kami belajar menakar air mata, mendengarkan semut, dan memahami kenapa daun gugur tak menyebabkan kegaduhan.

Ya, metode pembelajaran yang Pak Toto tampilkan pada kami, mengingatkan saya pada kecenderungan para Begawan dalam mengelola tanah Perdikan (bumi Sima Swatantra), khususnya dalam menciptakan sebuah ekosistem Bhinnasrantaloka (harmoni alam, Tuhan, dan manusia).

Dalam kaidah lokal Bumi Njipangan, istilah Begawan dimaknai sebagai figur yang sudah Beg Gawane (sudah penuh bawaannya). Artinya, sikap “kebegawanan” hanya akan muncul kala tak lagi serakah pada alam. Orientasi gerak para Begawan adalah menciptakan Bhinnasrantaloka (harmoni), bukan lagi mengambil atau merusak Sumber Daya.

Pada kami, Pak Toto selalu menunjukan kecenderungan sikap tawazun (seimbang) dalam segala hal, dan tasamuh (toleransi) pada perbedaan. Namun ia selalu memihak nilai keadilan: tidak netral, tapi tidak mendukung pada salah satu pihak. Dan itu disampaikan melalui sebuah kedekatan.

Selain dekat dengan para muridnya, Pak Toto juga figur yang peduli pada perihal kecil. Terbukti. Ia tak hanya mengantar saya sampai gerbang stasiun Tugu Jogja. Tapi kerap menelpon untuk memastikan bahwa saya tak keliru masuk gerbong kereta, dan tak salah memilih tempat duduk. Ia, bahkan meminta saya segera berkabar ketika sudah sampai ke tujuan.

Satu hal yang cukup saya kagumi dari Pak Toto adalah kemampuannya menulis esai. Tiap kali duduk-duduk bersama saya, Pak Toto masih menyempatkan diri menulis. Saya akan terkaget ketika tiba-tiba, Pak Toto telah menyelesaikan sebuah esai, lalu meminta saya untuk jadi pembaca pertama dan mengomentarinya.

Kepada saya, Pak Toto kerap bercerita tentang utopia Dunia Pendidikan. Tentang ou (tidak ada) dan topos (tempat) — dua kata Yunani pembentuk istilah utopia — yang bermakna: tempat (ideal) yang tidak ada. Saya menyebutnya Utopiullah, angan yang harus disandarkan pada Sang Pencipta.

Namun perlahan, Pak Toto bisa merealisasikan sedikit demi sedikit utopia itu. Ia, bahkan sohor sebagai pandega Pendidikan Alternatif. Sanggar Anak Alam (SALAM), konsep pendidikan yang dia dan istrinya kembangkan selama 25 tahun terakhir ini, misalnya, telah menjadi percontohan di Indonesia.

Pak Toto dengan inovasi sekolah SALAM, sudah amat masyhur dan banyak yang mengulasnya. Saya tentu tak perlu menggarami laut dengan menulisnya lagi. Saya, justru lebih tertarik menulis Pak Toto dari sisi lain yang jarang diulas, yaitu figur Pembangun Ekosistem.

Organisme Perkauman

Bagi saya, Pak Toto adalah figur Pembangun Ekosistem; Bapak Komunitas, Bapak Lembaga, atau bisa juga Bapak Perkumpulan. Tangan dinginnya banyak membidani lahirnya organisasi. Dari yang Transformasi Sosial, Pendidikan Kerakyatan, Kelompok Kebudayaan, hingga Jama’ah Majelis Keilmuan. Pak Toto adalah spirit, nyawa yang membersamai dan menandai tumbuhnya sebuah ekosistem.

Toto Rahardjo: Sang Penggalang Perkauman (sumber foto: Cantrik PerDikAn)

Di lain sisi, Pak Toto adalah penggalang (organizers), yang kerap menggalang dan menginisiasi bermacam lini pergerakan. Semacam meng-implementasikan konsep Anfa’ahum Linnas dengan cara membangun Perkauman; dari Gerakan Sosial, Pendidikan Kerakyatan, hingga Gerakan Kesenian —  yang merupakan pilar penting Kebudayaan. Ia bisa menempatkan diri di bermacam perkauman, dengan tetap membersamainya secara elegan.

Pak Toto memang sering mendaku diri sebagai autodidak yang tak ber-afiliasi pada instansi pendidikan apapun. Namun bagi saya, ia adalah organisme yang menjadi “afiliator” bagi banyak instansi pendidikan. Serupa organisme, keberadaannya memang nyaris tak berbunyi. Namun, nyawa dan pertumbuhan di dalamnya benar-benar terasa membersamai.

Seperti namanya yang Toto Rahardjo, ia kerap membangun semacam “pranata keselamatan” bagi banyak pihak. Kecenderungan itu tergambar dalam berbagai kegiatan yang dia inisiasi. Maka bukan kebetulan jika ia memiliki pseudonim: Mbah Salam — yang juga bermakna keselamatan.

Kiprah dan Karya

Dalam bidang Transformasi Sosial, Pak Toto merupakan pegiat awal yang membersamai berdirinya lembaga penerbitan INSISTPress pada 1998, sebagai pelengkap keberadaan INSIST. Ia juga jadi fasilitator Pendidikan Populer di Jawa, NTT, dan Papua, menjadi Direktur di Research Education and Alternative Dialogue (REaD), serta menjadi Ketua Dewan Pendidikan INSIST.

Di bidang Pendidikan, Pak Toto adalah fasilitator Pendidikan Kerakyatan yang pernah menjadi Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia (YPRI), mendirikan Akademi Sanggar Anak Alam (SALAM), menjadi pengarah di Laboratorium SALAM, serta masih aktif dalam proses mengajar di Kampus PerDikAn.

Dalam bidang Kelompok Kebudayaan, dia merupakan pendiri Akademi Kebudayaan Yogya (AKY), Pendiri Gamelan Kiai Kanjeng, ikut menginisiasi Dapoer Seni Djogdja (DSD), hingga turut serta menggagas berdirinya Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED). Selain itu, Pak Toto juga dikenal sebagai sesepuh dan Masyarakat Maiyah.

Pak Toto juga penulis, penyunting, dan pengantar buku yang produktif. Bukunya yang sohor adalah Sekolah Biasa Saja. Sementara buku dia tulis bersama kawan seperjuangannya — Pak Roem Topatimasang dan Pak Mansour Fakih — yang berjudul Mengubah Kebijakan Publik dan Pendidikan Popular, menjadi buku saku bagi para aktivis sosial.

Benih Aktivisme

Pak Toto lahir dan tumbuh di Banjarnegara. Perkenalannya dengan Dunia Aktivisme, bermula saat ia melancong ke Yogyakarta. Pak Toto masih menjumpai tokoh-tokoh intelektual seperti Umar Kayam, Kuntowijoyo, WS. Rendra, dan YB Mangunwijaya — para figur yang kelak menginspirasinya.

Kedekatannya dengan YB Mangunwijaya, punya dampak besar bagi bermacam gerakan sosial yang kelak ia lakukan. Khususnya dalam bidang Pendidikan Kerakyatan. Itu terbukti dari terbentuknya Dinamika Edukasi Dasar (DED) yang ia kerjakan bersama Romo Mangun.

Pergaulannya dengan Emha Ainun Najib (Cak Nun), menjadi gerbang yang kelak mengantarnya pada berbagai gerak kebudayaan. Termasuk menyelenggarakan pementasan Lakon Pak Kanjeng, mendirikan Gamelan Kiai Kanjeng, membangun Kesekretariatan Progress, hingga menjadi pembina Masyarakat Maiyah.

Sementara aktivitasnya dalam gerakan sosial, khususnya gerakan Transformasi Sosial, terbangun saat ia bergabung dengan Mansour Fakih dan Roem Topatimasang, dua kawan yang ia bersamai kala mengembangkan Komunitas INSIST menjadi INSISTPress dan Kampus Perdikan.

Pendopo PerDikAn, Juni 2025 

Tags: INSIST JogjaINSIST PerDikAnKampus PerDikAnMakin Tahu IndonesiaToto Rahardjo
Previous Post

Memaknai Kemuliaan Merbot

Next Post

Pondok Pesantren Al Hikmah Tuban Gelar Pawai Marching Band Meriah di Desa Temayang Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika
Figur

Prof. Dr. Abdus Salam, Ilmuwan Muslim Pertama yang Meraih Hadiah Nobel Fisika

02/12/2025
Ummu Kultsum, Sang Bintang Timur dari Negeri Piramid
Figur

Ummu Kultsum, Sang Bintang Timur dari Negeri Piramid

11/11/2025
Omar M. Yaghi: Anak Petani Palestina yang Menerima Hadiah Nobel Kimia 2025
Figur

Omar M. Yaghi: Anak Petani Palestina yang Menerima Hadiah Nobel Kimia 2025

15/10/2025

Anyar Nabs

Filosofi Ficus dan Amanat Menjaga Alam

Filosofi Ficus dan Amanat Menjaga Alam

11/12/2025
Football Silaturaga: Ajang Silaturahim-olahraga Pertamina EP Sukowati dan Jurnalis Media Bojonegoro

Football Silaturaga: Ajang Silaturahim-olahraga Pertamina EP Sukowati dan Jurnalis Media Bojonegoro

10/12/2025
Saat Bencana Menjadi Administrasi

Saat Bencana Menjadi Administrasi

10/12/2025
Bulan Terakhir di Tahun yang Bangsat

Bulan Terakhir di Tahun yang Bangsat

10/12/2025
  • Home
  • Tentang
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: