Tampak 11 pemuda duduk di karpet lesehan yang agak lusuh. Aku berada di antaranya. Ampas kopi hampir mengering. Sebatang rokok masih menyala di tangan kiriku. Menunggu habis sebagai tanda sebelum berangkat ke Kayangan Api.
Kamis (12/12) malam itu kami hendak melakukan trip. Jalan-jalan menikmati suasana malam Bojonegoro. Seperti yang biasa dilakukan orang Jawa, begadang di malam Jum’at. Bedanya, kami nikmati dengan kumpul bersama dan bersilaturahmi.
Singkat cerita, sampailah kami di lokasi tujuan. Tepatnya di Kayangan Api pada pukul 22.25 wib. Kami disambut gerbang bernuansa Jawa. Mirip sepasang candi yang megah. Sangat mendukung suasana malam itu.
Pendopo dipilih sebagai tempat pertama. Sebagai maksud menaruh barang bawaan. Air minum, kopi, susu, jagung, ayam dan beberapa bungkus snack. Barang bawaan terduduk sedemikian rupa. Kami lekas beranjak.
Rombongan dipimpin seorang praktisi spiritual muda. Namanya Mohtarom. Lebih akrabnya disapa Mas Tarom. Dia mengarahkan kami ke salah satu sudut. Dengan bantuan sinar bulan, terlihat area yang cukup luas. Berlantai paving dengan pohon tumbang membentang di tengahnya.
Kami berkumpul melingkar. Satu dari kami diarahkan maju. Namanya Dahlan. Dia berdiri mendekat ke samping pohon tua tersebut. Dengan satu aba-aba, Tarom memberi komandi kepada kami.
“Lihat pada bagian kepala dan kaki Dahlan, perhatikan apa yang terlihat,” ucap Tarom.
Sebagian kami terheran. Temasuk saya. Dalam dua detik, saya melihat kepala Dahlan memudar lalu hilang. Tentu bukan kepala sebenarnya, melainkan visual bayangan kepala yang ditangkap mata saya. Bukan rasa takut yang muncul. Malahan, rasa penasaran.
“Lho, hilang. Kok bisa ya? Kakinya mengecil itu,” ucap salah satu dari kami.
Belum sampai terjawab, adegan dilanjutkan. Dahlan kembali ke barisan. Tarom mengambil segenggam daun, dilemparkannya ke tanah. Sedikit tarikan nafas, segumpal tanah di mana jatuhnya daun itu, dia ambil. Dia taruh di atas telapak tangan Dahlan, lalu digenggamkan jarinya.
Dahlan merasa ada getaran di genggamannya. Selang sebentar, Tarom meminta Dahlan membuka genggaman tangannya. Dengan bantuan senter hape, di tangan Dahlan tersebut tampak benda hitam dan padat. Disinyalir, benda tersebut adalah pusaka berupa ‘kembang kanthil’. Sejenis perhiasan masyarakat Jawa dahulu.
“Ndeh, kok iso lho? Baru ini aku bisa lihat secara langsung,” kata Tompez merespon apa yang terjadi.
Selanjutnya, mediasi dengan makhluk gaib coba dilakukan. Dahlan mengajukan diri sebagai mediator. Tanpa perintah, tanpa paksaan. Tarom mengajukan satu syarat kepada Dahlan.
“Kuncinya adalah ikhlas. Ikuti rasanya dan jangan ditolak, ngalir saja dengan ikhlas,” kata pria kelahiran 1989 tersebut.
Dahlan mengiyakan sebagai tanda dia paham. Mediator berdiri di hadapan kami yang membentuk setengah lingkaran. Dengan sedikit tarikan nafas Tarom, tiba-tiba Dahlan terduduk. Matanya terpejam.
Tarom membuka mediasi dengan salam. Dahlan yang terpejam dan (tampak) tidak sadar diri menjawab dengan suara besar dan tebal. Suara yang tidak biasanya kami dengar dari Dahlan. Jelas ini bukan kesadaran Dahlan pribadi. Ini adalah energi alam yang masuk pada kesadaran Dahlan.
“Bojonegoro dan masyarakatnya dari dulu ya seperti ini. Panas atau dingin itu berada di pikiran manusianya masing-masing. Bukan di alamnya. Karena itu, berhubunganlah dengan welas asih terhadap sesama. Itu yang membuat hidup terasa lebih baik,” pesan Dahlan dalam kesadaran lain, saat mediasi tersebut.
Proses mediasi selesai. Dahlan kembali pada kesadarannya. Dia merasa mendapat pengalaman baru. Perasaan yang menurutnya aneh dan unik terhadap dirinya.
Saat itu, Dahlan merasa dalam kesadaran penuh, tapi ada perasaan lain yang bergerak dalam dirinya. Misalnya, ucapan yang tidak begitu dipahami, tetapi ingin sekali dia katakan. Perasaan yang cukup susah untuk dibahasakan.
Selanjutnya, kami beranjak menuju sebuah gazebo. Dinding dan pintunya terlihat kecil. Namun, ternyata cukup untuk kami masuki bersama. Tidak semua, hanya kami berdelapan.
Kami masuk dan duduk melingkar di dalam gazebo. Tanpa penerangan, ruangan begitu gelap. Bermodal senter hape, kami menerangi bagian atas gazebo. Setidaknya, cukup untuk melihat posisi duduk kami di dalam. Tarom kembali memberi arahan dengan satu komando.
“Pandang wajah teman kalian satu per satu secara bergantian, mulai dari Fian,” kata pria asal Desa Sumbertlaseh tersebut.
Pertama, kami semua memandang Fian. Kami mendapat visual yang hampir mirip. Pun sama miripnya ketika memandang kawan kami yang lain. Ada yang menghilang, ada yang matanya gelap, ada yang tampak seperti alien, ada pula yang tampak berwibawa.
Terakhir dalam sesi di gazebo, kami mendapat arahan menatap Tarom. Visual yang diterima mata kami pun mirip. Di keremangan gazebo, terlihat sosok dengan orang tua bermuka rusak. Wajahnya hampir rata. Mengingatkan kami semua pada tokoh Voldemort di serial Harry Potter.
Kami keluar dari gazebo menuju pendopo Kayangan Api. Menurut Tarom, itu semua adalah gambaran diri. Kondisi psikologis yang auranya mampu memunculkan energi. Sehingga secara visual tampak aneh.
“Yang dilihat tadi adalah visual psikologis. Energi yang satu frekuensi akan tertarik. Menunjukkan sosok lain melalui gambaran visual,” kata Tarom.
Selesai itu, kami semua ke pendopo Kayangan Api. Kami beristirahat untuk makan bekal dan minum kopi. Sambil mengobrol dan saling bercerita pengalaman unik ini. Obrolan yang sangat mendalam tentang kehidupan. Seperti ceramah, tetapi dengan suasana hangat persahabatan.
Memang, kegiatan seperti ini sangat seru bagi saya. Juga teman-teman saya. Selain baru, ini juga bukti bahwa konten horror di televisi atau youtube ada benarnya. Cukup menjawab rasa penasaran tentang konten horror yang viral di youtube.
Namun, tergantung mana yang ingin dinikmati. Hiburannya, pembelajarannya, sejarahnya atau yang lainnya. Alam semesta sudah menyediakan apa yang dibutuhkan. Tinggal diolah untuk menjalani hidup yang semakin baik.
Kayangan Api, satu dari sekian potensi alam Bojonegoro. Bukan hanya potensi alam yang baik untuk dikembangkan. Tapi juga baik untuk menjadi pembelajaran.
Bumi adalah taman guru yang indah. Tempat manusia belajar tentang kehidupan. Taman yang harus dijaga bersama. Mulai dari ibu, guru, dosen dan semua yang dijumpai.
Seperti yang dikatakan Candra Malik saat mengisi ceramah Suluk Badran (30/11/2019) di Padepokan Noesantara, Sukoharjo. Katanya: Orang tua juga guru. Pohon juga guru. Gunung dan laut juga guru. Bulan dan bintang juga guru. Dunia ini adalah taman guru yang indah. Taman yang harus kita jaga bersama agar tetap menjadi taman.








