Pada pohon, penyadapan menyayat batang. Pada informasi, penyadapan menyayat ruang komunikasi. Pohon terluka pada jaringan biologis, manusia terluka pada jaringan kepercayaan.
Kasus penyadapan Presiden melibatkan para jenderal petinggi Polri, menghadirkan ironi dan membuka ruang untuk membaca kembali makna sadap. Sebuah kata merujuk pada tindakan mengambil sesuatu melalui torehan luka yang sengaja dibuat.
Sadap, menyadap, penyadapan: tiga bentuk kata berangkat dari akar makna sama; mengambil sesuatu dari sumbernya melalui luka yang dibuat. Pada pohon, menyadap berarti melukai batang untuk mengeluarkan getah. Pada informasi, menyadap berarti menembus ruang komunikasi, mengeluarkan rahasia di dalamnya.
Keduanya memperlihatkan pola tindakan serupa: ada sumber, ada intervensi, ada sesuatu diambil, dan ada batas diterobos. Bedanya, pohon mengalami luka pada jaringan biologis. Sementara manusia mengalami luka pada privasi, kepercayaan, dan kebebasan.
Di sinilah makna sadap menjadi menarik. Ia bukan semata tindakan memperoleh sesuatu, melainkan tindakan memperoleh sesuatu dengan memasuki wilayah tertutup. Ada unsur penetrasi, pengambilan, bahkan kemungkinan eksploitasi.
Sebab, sebagaimana pohon dapat rusak akibat torehan berlebihan, ruang privat dapat terluka ketika batas-batasnya diterobos tanpa hak dan kewenangan.
Sadap pada mulanya dapat dibayangkan melalui tindakan sederhana: menyayat batang pohon untuk memperoleh getah. Seorang penyadap tidak sekadar mengambil sesuatu yang tersedia di permukaan.
Penyadapan harus membuat luka, dan mencipta jalan bagi getah. Ada intervensi terhadap sesuatu yang hidup. Ada luka yang sengaja dibuat agar sesuatu yang tersembunyi di dalamnya dapat diperoleh.
Pohon menjadi sumber, torehan menjadi jalan, dan getah menjadi hasil pengambilan. Dalam praktiknya, penyadapan membutuhkan kecermatan. Sayatan terlalu dalam dapat merusak jaringan. Torehan tidak tepat dapat mengganggu keberlangsungan produksi getah.
Artinya, mengambil sesuatu dari sumber kehidupan selalu berhadapan dengan batas antara pemanfaatan dan perusakan.
Pola serupa dapat ditemukan dalam penyadapan informasi. Dalam penyadapan informasi, seseorang menembus ruang komunikasi untuk memperoleh percakapan, pesan, atau data yang tidak dimaksudkan diketahui pihak lain. Yang satu membuka lapisan biologis, yang lain menembus lapisan privasi. Keduanya bekerja dengan prinsip mengambil sesuatu dari sumbernya melalui celah yang sebelumnya tertutup.
Perbedaannya terletak pada bentuk luka yang ditimbulkan. Pada pohon, luka penyadapan dapat terlihat sebagai sayatan pada batang. Pada manusia, luka penyadapan informasi tidak meninggalkan bekas pada tubuh, namun dapat merusak kepercayaan. Pohon kehilangan sebagian getahnya melalui torehan; manusia dapat kehilangan rasa aman ketika mengalami proses penyadapan.
Di sini, sadap memperlihatkan watak ganda. Ia dapat menjadi tindakan produktif ketika dilakukan dengan pengetahuan, batas, dan tanggung jawab. Namun, ia juga dapat berubah tindakan eksploitatif ketika pengambilan dilakukan tanpa perhitungan. Penyadapan pohon yang berlebihan dapat mematikan pohon. Penyadapan informasi yang melampaui batas dapat melukai martabat manusia.
Dengan demikian, persoalan sadap sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang diambil, melainkan bagaimana sesuatu diambil, dari siapa atau dari mana ia diperoleh, dan luka apa yang ditinggalkan setelah pengambilan berlangsung. Sebab, tidak semua yang dapat diambil berarti boleh diambil. Tidak semua celah harus dibuka, dan tidak setiap rahasia boleh dibaca.








