Tanggal 15 Desember bertepatan ulang tahun salah satu tokoh penting Indonesia. Ialah Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Ia menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai penguasa lautan Indonesia.
Identitas Indonesia sebagai negara kepulauan tentu tidak akan tercipta tanpa lautan yang menyatukannya. Dari luas total wilayah 7,81 juta km2, 2,01 juta km2 merupakan daratan. Sedangkan porsi lebih besar, yaitu 3,25 juta km2 adalah lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Bayangkan, betapa kayanya Indonesia. Luas samudra yang dibalut kecantikan pertemuan darat dan laut. Kedalamannya yang tak tersentuh manusia. Dan kekayaan biota yang tak ternilai dengan emas permata. Dari kesemuanya, saat ini, Susi Pudjiastuti lah yang bertugas mengamankannya.
Nah, sudah terbayang belum, betapa posisi Susi sangat penting dalam kedaulatan negara. Beberapa kebijakannya juga menjadi nyentrik nan kontroversial.
Namun, efektif untuk mencapai tujuan. Misalnya ungkapan “tenggelamkan”, dan “makan ikan”. Dalam beberapa kesempatan, ia juga mendapatkan apresiasi dari dalam maupun luar negeri.
Susi adalah perempuan yang kaya pengetahuan. Tidak hanya pengetahuan teoritik, namun berdasar pada pengalaman. Menurut permenungan saya, terdapat dua laku Susi yang perlu kita teladani. Baik sebagai figur penting negara, maupun sebagai individu.
Pertama, tentang keuletannya dalam perjuangan membangun bisnis. Kedua, tentang laku feminis. Tidak hanya dalam ucapan, namun prinsip dan tindakan. Ketiga adalah keyakinannya pada konstitusi, di balik lakunya yang nyentrik.
Pertama adalah keuletannya dalam membangun bisnis. Momentum awal bisnisnya adalah ketika ia harus putus sekolah. Diakibatkan karena keaktifan di gerakan Golput. Ia menjual perhiasan yang dimiliki. Dengan mengantongi modal 750 ribu, Susi memulai bisnis di bidang perikanan.
Bisnisnya semakin berkembang. Tidak hanya jual beli ikan. Kemudian merambah ke pengolahan hasil laut. Serta bisnis aviasi, yang ide awalnya didorong oleh sulitnya distribusi produk.
Dalam perjalanannya, Susi menjadi sosok perempuan yang selalu tepat dalam mengimplementasikan solusi. Ia memiliki kepekaan yang strategis. Laku ini tidak hanya mendorong laju bisnisnya saja. Namun juga membentuk prinsip yang saat ini mendasari lakunya sebagai menteri.
Masih berbicara tentang prinsip. Susi memiliki sosok perempuan idola yang dijadikan panutan. Mereka adalah Kartini dan Perdana Menteri Jerman, Angela Merkel. Ini yang mendasari permenungan saya tentang laku kedua yang patut kita teladani dari Susi. Yaitu laku feminis, yang tidak hanya dalam ucapan.
Dalam agenda Minister Live yang digalakkan oleh Tirto.id, Susi menceritakan tentang kekagumannya pada pemikiran Kartini. Pemikiran perempuan yang berani, dan tetap relevan hingga saat ini.
Ia berkomentar, bahwa perempuan Indonesia zaman ini masih terkungkung norma-norma. Ia juga menyerukan ajakan bagi perempuan agar lebih berani. “Liberate your mind!” katanya.
Dalam seruan ini, ia menjelaskan, bahwa perempuan sekarang harusnya berhenti berpikir tentang batasan. Lebih baik langsung saja berpikir apa yang mau dilakukannya, apa yang bisa dilakukannya.
Susi juga mengaku mengidolakan model kepemimpinan Angela Merkel. Terutama terkait perpaduan sikap peka, logis, dan pragmatis. Oleh sebab itu, Susi dalam hal ini juga mengimplementasikan sikap yang sama. Tidak peduli label nyentrik dan kontroversial yang menyertainya, ia tetap melaksanakan tugas kementerian dengan caranya sendiri.
Nabs, dari sinilah saya memandang bahwa Susi bukan hanya seorang pemikir feminis. Namun juga mengimplementasikannya dalam banyak hal yang inspiratif. Ia juga menambahkan pandangannya.
“Tidak ada perempuan tidak boleh berani, perempuan sama dengan laki-laki. Hanya fungsi fisiknya saja yang berbeda” tukas Susi.
Nah, bahasan ketiga adalah prinsipnya di balik laku nyentrik dan kontroversial sebagai menteri. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Jakarta Post, Susi bercerita. Bahwa selama ini berlaku nyentrik dan kontroversial bukan karena ambisi pribadi.
Namun karena hal tersebut harus dilakukan demi menegakkan konstitusi negara. Ia juga menambahkan, bahwa wajah suatu negara tidak dibentuk dari tokoh perseroangan. Namun apa yang tertulis dalam konstitusi.
Pernahkah terpikir bahwa sosok menteri yang paling chill. Menyukai momen syahdu ngopi sambil paddling di tengah laut. Justru memiliki keyakinan yang kuat akan konstitusi bangsa.
Jadi, jangan nilai orang dari tampak luar saja. Banyak sisi lain yang harus dilihat melalui tahap permenungan, untuk dapat menemukan laku yang patut diteladani.
Akhir kata, jangan berhenti jadi inspirasi lebih banyak perempuan tangguh lainnya, Bu. Sugeng ambal warsa… Kapan-kapan, bolehlah main ke Bojonegoro untuk paddling di Bengawan Solo. Hihihi.








