Capres jagoannya kalah dan masih jomblo, tentu rasa kecewanya lebih berat dibanding yang capres jagoannya kalah tapi sudah tidak jomblo.
Menerima kekalahan memang tak enak dirasakan. Tapi, tahu nggak sih, Nabs, kalau kekalahan juga memiliki manfaat bagi pengembangan hidup. Tak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia. Bahkan jika itu kekalahan maupun kesia-siaan.
Jika saat ini kamu sedang merasa kalah — entah klub jagoan maupun capres jagoan — sangatlah manusiawi untuk merasa kecewa dan bersedih, tapi kalau bisa, jangan biarkan rasa terpuruk mendominasi mood dalam waktu yang lama.
Sebab, bagaimanapun, kesedihan dan keterpurukan dan keputusasaan dan kekecewaan tak akan mengubah kekalahan. Kekalahan nggak bisa diubah. Yang bisa diubah itu mekanisme penerimaan kita pada kekalahan tersebut.
Daripada mara-mara dengan nggak menerima kekalahan, mending tetap diterima lalu diubah menjadi pengalaman inspiratif. What? Mengubah kekalahan jadi pengalaman inspiratif? Emang jalan-jalan apa, pengalaman inspiratif.
Iya, iya, emang sulit kok. Mengubah kekalahan menjadi pengalaman inspiratif tentu sulit. Sebab inspirasi itu kan identik sama yang enak-enak kan ya. Tapi, bukankah untuk merasakan enak, harus tahu rasanya nggak enak dulu kan ya? Hmm
Nabs, kekecewaan memang berbanding lurus dengan harapan. Seperti yang pernah dinyanyikan Iwan Fals: keinginan adalah sumber penderitaan. Memang benar, kadang keinginan dan harapan jadi hambatan utama yang kelak membuat kaki tersandung.
Tapi bukan berarti kita nggak boleh berkeinginan dan berharap. Ingin dan harap tentu tetap ada. Hanya, keinginan yang terlalu menggebu, bakal berimbas pada rasa kecewa yang sangat dalam.
Karena itu, tetap berkeinginan tapi secara wajar ya. Agar saat keinginannya tidak sesuai, kecewanya nggak terlalu dalam. Setidaknya, kalaupun kecewa, masih bisa dikendalikan.
Menerima Kekalahan adalah Unsur Utama Pembentuk Kedewasaan
Selain nggak punya uang dan nggak punya gebetan, yang berat dalam hidup itu menerima kekalahan. Sebab, hanya orang-orang tertentu yang mampu menerima kekalahan secara elegan.
Tak semua orang bisa dengan mudah menerima kekalahan secara ikhlas dan kepala dingin. Umumnya, mereka melampiaskannya dengan kecewa dan amarah. Nah, kedewasaan muncul ketika kita mampu memeram rasa kecewa.
Rasa kecewa bisa diperam ketika kita mampu menghadirkan distraksi. Misalnya, melakukan kegiatan-kegiatan lain yang berpotensi membikin kita lupa akan kekalahan yang kita terima.
Misalnya nih ya, misalnya. Pas kita patah hati, satu-satunya cara elegan untuk memeram kecewa, tentu dengan jatuh cinta lagi. Itu contoh ya, Nabs. Hehe
Percayalah, hal demikian bisa membikin kamu melupakan kekalahan dan kegagalan. Selain itu juga mengembalikan kepercayaan diri dan mendapat pengalaman atau petualangan baru nan menyegarkan.
Jadi, saat kita dikecewakan orang lain atau sebuah kondisi yang merugikan kita. Ya jangan salahkan orang lain atau kondisi tersebut. Tapi salahkan diri sendiri. Wow!! Filsufi sekali ya wqwqwq ~
Nggak-nggak, Nabs. Nggak gitu juga. Maksudnya tuh, jangan terlalu bergantung dan berharap pada orang lain. Sebab selama masih manusia, tentu berpotensi mengecewakan.
Itu kan pas belum terserang kekalahan. Kalau udah tertabrak kekalahan? Yaudah, segera diterima lalu dilupakan dengan mencari distraksi. Ada sejumlah cara mendistraksi kecewa akibat kekalahan.
Misalnya, kalau kamu jomblo, ya cari pacar lah. Dapat nggak dapat yang penting nyari dulu. Sebab gini, kejombloan itu mempertebal rasa kecewa. Apapun penyebab kecewanya, selama kamu jomblo, pasti kecewanya dobel.
Klub jagoan kalah dan masih jomblo, tentu rasa kecewanya lebih berat dibanding mereka yang klub jagoannya kalah tapi sudah punya pacar. Capresnya kalah dan masih jomblo, tentu rasa kecewanya lebih berat dibanding yang capresnya kalah tapi sudah tidak jomblo.
Jangan-jangan, mereka yang suka mara-mara di medsos itu masi jomblo? Sebab, konon, kejombloan meningkatkan intensitas kemarahan ~
Yuk, belajar bareng-bareng menjadi dewasa dengan menerima kekalahan. Siapa tahu dengan legawa, bisa mudah dapat jodoh. Sebab, di dunia ini, banyak kok orang kaya kalah sama orang yang legawa.








