Dari Sabang hingga Merauke, terdapat beragam museum yang memiliki keunikan masing-masing. Satu di antaranya adalah Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian di Surabaya.
Apa yang terbersit dalam pikiran ketika mendengar kematian? Tenang, kali ini kita tak membahas kematian secara mainstream. Melainkan belajar tentang kematian melalui tempat yang berfungsi membangun peradaban: museum.
Negara-negara yang tergolong maju dan berbakat jadi penjajah, memiliki museum yang bisa dibilang waw, dari segi arsitektur, penataan arsip, dan sebagainya. Misalnya di Belanda ada Tropenmuseum, Rijksmuseum, National Museum of Ethnology, dan lain-lain.
Lantas, bagaimana kondisi museum di negara kita yang baik dan tak berbakat jadi penjajah ini, Nabs?
Indonesia memiliki beragam museum dengan keunikan masing-masing, salah satunya Muesum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian yang berdiri tahun 2005. Museum itu merupakan salah satu museum unik yang berdiri di Indonesia.
Tepatnya di Kota Pahlawan Surabaya. Lebih tepatnya lagi berada di Kampus B, Universitas Airlangga (Unair). Berada di depan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Jalan Dharmawangsa Dalam.
Di kampus B Unair yang berada di Kecamatan Gubeng, ada Museum Sejarah dan Budaya di bawah Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Selain itu ada museum yang berada di bawah naungan Departemen Antropologi FISIP Unair —- ini yang akan kita bahas kali ini.
Museum tersebut telah menerima anugrah Purwakalargaha dari Indonesia Museum Award 2018, karena keunikan yang ada di dalamnya.
Ketika kamu berada di Surabaya, jangan lupa langkahkan kaki ke museum itu. Atau jika ada agenda seperti seminar, workshop, lomba yang berada di kampus B Unair, sila mampir ke sana.
Kalau bingung, tanya satpam atau Google terkait lokasi museum. Selain itu, ada juga penunjuk arah yang akan membantumu pergi ke sana.
Bagi kamu yang berasal atau berangkat dari Bojonegoro, banyak cara yang bisa ditempuh untuk menuju ke sana. Bisa naik bus dari Terminal Rajekwesi kemudian turun di Terminal Oso Wilangon (TOW) dan naik len WK kemudian turun di depan kampus B.
Ketika berada di depan museum, langsung saja masuk. Biasanya ada petugas yang senantiasa berjaga dan dengan senang hati menjawab beragam pertanyaan yang kamu lontarkan. Kamu juga akan disuguhi pemandangan yang beragam yang bisa membuat bulu kuduk merinding.
Selain belajar etnografi, di mana menurut KBBI V daring, merupakan ilmu tentang pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup tersebar di muka bumi, juga bisa belajar tentang kematian secara ilmiah.
Museum itu bak rumah hantu, perbedaanya kalau di museum etnografi, terdapat informasi sebagai sumber belajar. Semakin kamu menjelajah masuk museum, akan mencium bau kemenyan, temaram lampu, mendengarkan musik pengiring, melihat beragam tengkorak, fosil, makam, infografis, dan lain-lain.
Di dalamnya ada referensi terkait tradisi pemakaman dari berbagai tanah air. Misalnya tradisi pemakaman di Toraja, Sulawesi Selatan. Juga informasi mengenai kematian dari bergam sudut pandang, salah satu di antaranya dari point of view masyarakat adat.
Tata niat dan tekad sebelum masuk museum itu, apalagi kalau seorang diri, hehehe. Ajaklah kawanmu, organisasi, maupun jam’iyyahmu untuk bersama-sama, ngangsu kaweruh tentang etnografi dan kematian ke sana.
Ingat ya, Nabs. Selain amal perbuatan, juga perlu informasi tembahan untuk menghadapi kematian, hal itu bisa ditempuh dengan berkunjung ke museum yang unik tersebut.
Sehingga kamu tahu bahwa kematian bukan hal yang tabu dan bisa dikaji dengan berbagi disiplin ilmu, salah satu di antarapnya dari sudut pandang antropologi.








