Kamu suka mie goreng apa mie godok? Hehe
Dalam khasanah warung kopi. Kata goreng-goreng sudah tidak asing lagi, terutama bagi para aktivis pergerakan. Tentu, ini bisa jadi bahan yang menarik untuk kita bahas dalam tulisan ini.
Orang pandai beretorika pasti tidak jauh dari proses membaca. Entah membaca buku ataupun membaca keadaan, bahkan membaca hati si dia yang sedang diterpa kesedihan.
Menggodok, kalau ditafsirkan bisa jadi proses pematangan. Nah, proses ini perlu waktu berjam-jam. Menulis tentu tak mudah. Bisa dipastikan, menulis perlu waktu berjam-jam juga.
Otakmu jika sering kamu godok pasti akan meduk. Kaya ketela yang direbus dimakan pun enak. Nah, bayangkan jika ketela itu kamu goreng langsung tanpa direbus. Bagaimana rasa?
Ini yang diharus diperhatikan. Walaupun toh menulis bisa dikatakan sebagai pelampiasan ketika kita sedih. Setidaknya menulis juga bisa menyembuhkan sedih kita. Kalau menulisnya dengan ikhlas.
Jangan hanya menggoreng. Kamu bisa saja menggoreng dengan mudah. Sama dengan ghibah, semua orang pasti bisa ghibah (rasan-rasan). Ini harus benar-benar dihindari. Agar tidak timbul fitnah yang engga-engga.
Ghibah juga bisa bermanfaat. Kalau kita ghibah seorang tokoh. Contoh saja, kita ghibah pahlawan Nasional, seperti Gusdur, Tan, Hatta. Nah ini bisa dipetik kebaikan. Entah dari perjuangan maupun semangat belajar.
Menggoreng dan menggodok memang sama-sama membutuhkan suhu yang panas dan harus dipaksa. Tapi, jika menggodok tidak terdapat resiko yang seirus. Maka menulislah.
Kalau menggoreng kamu bisa saja kebeldosan. Contoh saja saat menggoreng ikan. Yah, ini juga resiko mlepuh pada tangan. Jadi, ghibah pun juga resiko. Kamu akan ghibah sendiri oleh orang yang kamu ghibahi.
Kamu bebas memilih antara menggoreng atau menggodok. Jika dirasa goreng-goreng terlalu resiko nyiprati minyak. Maka menggodok bisa menjadi jalan alternatif.
Begini saja, dari pada rasan-rasan ngga jelas. Mending rasan-rasan itu dijadikan tulisa. Dibaca kapanpun pasti tidak basi. Menulis juga termasuk mengolah rasa, tidak hanya kata saja.
Dalam buku teknik menulis yang di karang oleh Haruki Murakami. Menulis seperti masuk ring tinju. Kamu tidak akan bisa keluar dari ring itu jika belum selesai.
Seperti saya mau mengakhiri tulisan ini sulit. Tapi terpaksa harus saya akhiri. Dengan akhir ini bisa keluar dari ring itu. Tapi juga kembali lagi ke dalam ring tinju tersebut.








