Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Merayakan Kesedihan dengan Lara-larane Lana Del Rey

Chusnul Chotimmah by Chusnul Chotimmah
14/09/2019
in JURNAKULTURA
Merayakan Kesedihan dengan Lara-larane Lana Del Rey

Nabsky, jika banyak orang merayakan akhir pekan dengan berkencan, berlibur, dan aneka kesenangan lainnya, maka saya ingin mewakili kalian yang merana hatinya.

Saya yakin, pasti, ada di antara kalian yang menghabiskan akhir pekan dengan menyembuhkan luka akibat patah hati, ataupun kesedihan-kesedihan lain. Jika iya, saya bersama kalian.

Sebagaimana kesenangan, kesedihan juga harus dirayakan dan dinikmati sepenuh hati. Sebab, hidup berjalan seimbang. Untuk itu ia selalu membawa dua muatan yang berkebalikan. Kesenangan dan kesedihan. Tidak ada cara menolaknya. Semua datang tepat pada waktunya.

Tapi bagaimana menikmati kesedihan? Patah hati kok dinikmati? Hora mashok!
Patah hati itu sakit, benar. Tapi bukankah dalam hidup, kita telah berdamai dengan kesakitan-kesakitan?

Coba kalian tanya ibu-ibu yang pernah hamil dan melahirkan, sebagian merindukan masa-masa kehamilan yang tidak sedikit memberikan rasa sakit. Saya bahkan tidak bisa membayangkan kesakitan yang harus ditanggung ketika melahirkan.

Coba tanya juga pada mereka yang pernah menaiki roller coaster. Sensasi takut yang diberikan justru menimbulkan adiksi tersendiri, sebagaimana pecinta pedas menikmati siksaan cabai ketika membakar lidahnya. Atau…ah sudahlah. Banyak!

Mengapa kita tidak menikmati saja kesedihan-kesedihan yang sudah menjadi nasib?

Untuk merayakan kesedihan, saya biasa melampiaskannya dengan mendengarkan musik-musik sedih. Salah satu spesialis musik sedih yang menjadi favorit saya adalah sadcore yang dibawakan oleh Lana Del Rey, penyanyi cantik nan berbakat asal Amerika. Roman tragis dalam lirik-lirik yang ia tuliskan seakan mewakili kesedihan umat pemuja cinta.

Born to Die. Album yang dirilis pada awal tahun 2012 membuka jalan kesenangan saya terhadap Lana. Ada dua lagu yang menjadi andalan saya dalam album tersebut: Born to Die dan Summertime Sadness.

Born to Die bercerita tentang orang yang sedang jatuh cinta namun dihadapkan dengan banyak rintangan untuk bersama.

“Feet don’t fail me now. Take me to the finish line. Oh my heart, it breaks every steps that i takes. But I’m hoping at the gates, they’ll tell you that you’re mine…
Don’t make me sad, don’t make me cry. Sometimes love is not enough and the road gets tough i don’t know why…
Come and take a walk on the wild side. Let me kiss you hard in a pouring rain…
Choose your last word, this is the last time, cause you and i, we were born to die~”

Video klip Born to Die dibuka dengan pelukan Lana dengan seorang laki-laki, lantas scene berganti dengan setting lokasi yang menampakkan kemegahan sebuah kerajaan. Lana duduk di atas singgasana dalam kerjaan yang kosong, yang hanya diisi oleh Lana seorang dan dua macan besar yang menjaganya.

Scene berlanjut pada ciuman sepasang anak muda yang penuh gairah di depan sebuah mobil dan kemudian mereka pergi dengan mobil tersebut. Di akhir, video clip ditutup dengan laki-laki yang menggendong Lana dalam keadaan mengenaskan, penuh darah, dan di belakangnya terdapat kobaran api yang menunjukkan sebuah akhir yang tak bahagia dari sepasang kekasih tersebut.

Summertime Sadness bercerita tentang seseorang yang sedang mengenang kisah cintanya di musim panas, namun sayang kisah cinta tersebut telah berakhir. Mungkin itu adalah cinta terindah yang pernah ia alami sepanjang hidupnya, namun begitu, yang indah tak musti harus berakhir bersama, bukan?

“I got my red dress on tonight
Dancin’ in the dark in the pale moonlight
Done my hair up real big, beauty queen style
High heels off, I’m feelin’ alive
Oh my God, I feel it in the air
Telephone wires above
Are sizzlin’ like a snare
Honey I’m on fire, I feel it everywhere
Nothin’ scares me anymore
Kiss me hard before you go
Summertime sadness
I just wanted you to know
That baby, you the best
I got that summertime, summertime sadness
Su-su-summertime, summertime sadness
Got that summertime, summertime sadness oh oh~”

Video klip dibuka dengan penampakan Lana seorang diri di antara pepohonan. Di dalam scene, Lana tampil dengan muka angelic namun memperlihatkan kesedihan. Lantas, klip seperti memperlihatkan asap.

Asap, menurut saya pribadi, lekat dengan kenangan. Sesuatu yang nampak dekat namun ternyata jauh. Sesuatu yang terlihat, terhirup, namun tak dapat dipegang dan lekas menghilang.

Lepas album Born to Die yang rilis di tahun 2012, Lana kembali hadir dengan album Ultraviolence di tahun 2014, tiga tahun kemudian, ia mengeluarkan album Lust For Life.

Album terbaru, Norman Fucking Rockwell baru keluar di tahun ini. Di dalamnya memuat lagu-lagu baru yang tak kalah sedihnya. Satu yang menjadi andalan saya adalah Hope is Dangerous Thing For a Woman Like Me to Have.

“I was reading Slim Aarons and I got to thinking that I thought
Maybe I’d get less stressed if I was tested less like
All of these debutantes
Smiling for miles in pink dresses and high heels on white yachts
But I’m not, baby, I’m not
No, I’m not, that, I’m not
I’ve been tearing around in my fucking nightgown
24/7 Sylvia Plath
Writing in blood on the walls
‘Cause the ink in my pen don’t work in my notepad
Don’t ask if I’m happy, you know that I’m not
But at best, I can say I’m not sad
‘Cause hope is a dangerous thing for a woman like me to have
Hope is a dangerous thing for a woman like me to have~”

Mengunci diri di dalam kamar dan seharian memutar lagu-lagu Lana membuat saya mendalami kepedihan dengan begitu akrab. Saya bisa menangis dengan tenang, atau bisa juga menangis terisak.

Lirik yang ditulis Lana seolah mewakili segala kesedihan saya atau kesedihan-kesedihan yang belum saya alami, dan membuat saya bersiap untuk kepedihan yang belum terjadi. Selamat menikmati hari-hari patah hati, Nabsky. Saya bersama kalian semua, barisan Larane Lana.

Tags: Lana Del ReyMerayakan Kesedihan
Previous Post

Fisik Pemain Persibo Digeber di Pantai Mangrove Tuban

Next Post

Kabelillah: Cara Bapak Menyayangi Anak Lelakinya

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: