Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kabelillah: Cara Bapak Menyayangi Anak Lelakinya

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
14/09/2019
in Cecurhatan
Kabelillah: Cara Bapak Menyayangi Anak Lelakinya

Mengingat Bapak selalu membuat saya teringat Kabelillah — spirit cekelan Kabele Pengeran. 

Entah dengan kecerobohan apa, seorang teman merekomendasikan nama saya untuk menjadi koordinator desa (Kordes) sekaligus bagian dari Koordinator Kecamatan (Korcam) dalam sebuah periode KKN. Saat mendengar kabar tersebut, tentu saya menolak.

Sesungguhnya saya sangat enggan berurusan dengan organisasi, atau bermacam tetek-bengek giat perkuliahan. Mau menyelesaikan SKS dan sekadar masuk di tiap ada kelas saja, bagi saya waktu itu, sudah cukup berprestasi.

Namun, entah dengan alasan apa, berulangkali, teman saya ini sering meminta saya menjadi “sesuatu yang berguna” di kampus. Mulai dari Ketua Kelas, pengurus Ormek, hingga anggota BEM. Dan dengan berbagai macam alasan, saya selalu berhasil meloloskan diri dari permintaan itu.

Sialnya, saat dia meminta saya menjadi Kordes, saya tak bisa menolak. Selain dia sudah sering saya tolak untuk urusan begituan, dia juga sering membantu saya di saat-saat saya sedang kesusahan. Saya pun setuju menjadi Kordes. Saat itu, dalam satu desa, ada dua gelombang KKN. Saya dan kelompok saya masuk di gelombang kedua.

Sekitar dua Minggu sebelum masa KKN dimulai, masing-masing Kordes bertugas memetakan, mempersiapkan, sekaligus “menetralisir” kawasan yang akan dijadikan sebagai lokasi KKN.

Ditemani Kordes gelombang pertama, saya melakukan survey untuk persiapan, pemetaan, sekaligus “menetralisir” desa tempat kami akan melaksanakan giat KKN. Celakanya, selain sama-sama buta lokasi, kami berdua minim informasi tentang kawasan tersebut.

Dari sejumlah info yang lamat-lamat kami dengar, kawasan itu berada di pucuk kabupaten, di tengah-tengah hutan, sulit sinyal dan sejumlah mitos misteri yang melengkapi keseramannya. Di tambah lagi, kawasan itu dipenuhi pendekar mabuk yang sering berbuat onar saat malam hari.

Kawan saya, Kordes gelombang pertama yang terkenal aktivis dan sangat organisatoris pun, sempat gentar dan tak seberani seperti saat berdemonstrasi, kala menuju lokasi. Mengingat, dia dan saya bisa dihadang berbagai macam hal buruk di tengah hutan.

Dari kampus, kami berangkat pagi hari dan sampai lokasi malam hari pasca magrib. Bahkan saat sampai di lokasi pun, kami masih bingung mau menemui siapa. Setelah tanya sana-sini dan berputar-putar cukup lama, kami sampai di rumah salah seorang tokoh desa setempat.

Setelah bersalaman, berkenalan sekaligus menyatakan maksud, kami berdua dipersilakan masuk ke dalam rumah sosok yang akhirnya kami ketahui sebagai Kamitua Desa itu.

Beliau sudah cukup sepuh. Tapi, antusiasme dan kepeduliannya pada orang baru patut diacungi jempol. Selain tanggap menyediakan jamuan minum pada kami berdua yang memang sedang kehausan, beliau juga tanggap memberi petunjuk dan pencerahan terkait tujuan kami datang ke desa itu.

Saat kami berdua memperkenalkan diri secara personal dan memberitahu asal dan alamat rumah kami, tiba-tiba beliau mendekat, menatap wajah dan memegang tangan saya, seperti kembali mengajak bersalaman sambil bertanya, “Apa sampean putranya Pak Kim?” Katanya.

Tentu saya kaget, terperanjat, sekaligus mengiyakan pertanyaannya. Itu nama bapak saya. Dan hanya orang-orang dekat bapak yang memanggil demikian. Saya kian terperanjat ketika beliau bercerita tentang riwayat bapak yang beliau kenal sejak akhir 80-an.

“Orang-orang di desa ini, hampir semuanya kenal baik sama bapak sampean,” katanya sambil menatap wajah saya, “bapak sampean yang membantu memasukkan penerangan listrik di desa ini.” ucapnya lagi.

Bapak memang seorang kontraktor listrik. Beliau dikenal sebagai ahli kabel, maksudnya tukang kabel sekaligus pemilik toko di bidang perkabelan listrik. Namun, di luar itu semua, Bapak ternyata memiliki aktivisme yang tak diceritakan pada saya. Cerita ini, justru saya dapat dari orang lain. Termasuk bapak Kamitua Desa yang menemui saya ini.

Saat saya masih kecil, kata Kamitua Desa itu, beliau dan sejumlah warga desa sering menyempatkan diri main ke rumah untuk berkonsolidasi. Hanya, waktu itu, saya tidak tahu dan kalaupun tahu pasti sudah lupa. Selain bercerita tentang hubungan pertemanannya dengan Bapak, beliau juga berkenan memberitahu orang-orang desa tentang kehadiran saya di sana. Tentu, dengan gengsi dan idealisme khas mahasiswa tingkat akhir, saya menolaknya. Saya meminta agar cerita itu tak terlalu diromantisir dan diceritakan. Sehingga tak mengganggu kemurnian KKN kami. Meski, tak dipungkiri, diam-diam saya mengharap itu demi kelancaran teman-teman melakukan KKN di sana.

Bapak tentu tak pernah tahu jika puluhan tahun setelah beliau menjalin hubungan baik dengan warga desa tersebut, saya, anak lelakinya, melakukan giat KKN di sana. Dan karena itu pula, keamanan dan kelancaran kegiatan teman-teman dan saya terjamin.

Sejak saat itu, saya kembali merenungi banyak hal tentang bapak. Hubungan saya dan bapak tak terlalu dekat dan lebih banyak dipenuhi gengsinya. Namun, diam-diam, bapak selalu mempersiapkan banyak hal untuk saya. Atau setidaknya, itu yang saya rasakan.

Rajah Kabelillah

Saya yang sangat bandel dan tak bisa diatur dan bapak yang sangat teguh dan keras kepala. Kami berdua ibarat batu yang saat dipertemukan, jika tidak pecah ya saling berpentalan. Tapi, dalam kesunyian, bapak selalu melindungi saya dan saya sangat mencintainya.

Bapak, kadang menjelma sosok menyebalkan yang sangat keras kepala. Beberapa saat setelah divonis sakit paru-paru dan tak boleh merokok, bapak bisa dengan santainya membawa rokok Surya kesukaannya saat menemui saya.

Selelah apapun Bapak, tak pernah mau saat diminta untuk tidur malam. Mungkin baginya, terlihat tidur malam di depan anak lelakinya adalah sebuah kelemahan. Bapak tak pernah mau menampakkan kelemahan itu di depan saya. Bapak hanya mau tidur setelah saya terlelap.

Yang selalu saya ingat dari Bapak, ia memang kerap berpesan pada saya untuk tak pernah lupa Cekelan Kabele Pengeran (Kabelillah). Bapak pernah cerita, Kabelillah adalah metode persaudaraan yang diajarkan nenek moyangnya secara turun temurun, sebagai kaidah penyusun ekosistem perjuangan, dalam bingkai persahabatan dan persaudaraan.

Baginya, Kabelillah adalah sebuah metodologi. Sebuah cara. Metode ini, kata Bapak, berlandaskan ayat Wa’tasimu Bihablillahi Jami’an. Bapak sangat ngugemi, bahkan dulu sangat sering ngendikan pada saya, adik-adik saya, maupun murid-muridnya: bahwa  bihablillah atau bikabelillah (kelawan kabele pengeran) adalah sangu (bekal) kemanapun bepergian.

**
Di akhir masa SMA, saya pernah hampir terlibat tawuran dengan desa tetangga. Masalahnya sepele. Ada saudara Muhammadiyah yang melarang teman kami bermain hadrah di salah satu musala di kecamatan kami. Merasa terpanggil untuk “beres-beres”, saya dan teman-teman pun ngeluruk ke lokasi.

Sesampainya di lokasi, tawuran tak jadi pecah karena ada sosok tetua desa yang menengahi dan meminta kami menunggu di warung kopi. Di tempat itulah, sosok tetua desa itu bercerita tentang persahabatan seorang Muhamadiyyin dan Nahdliyyin di sebuah desa yang tak jauh dari lokasi kami berada.

Dia bercerita jika dulu, ada dua orang berbeda paham keagamaan. Yang satu aktivis Muhammadiyah dan satunya aktivis NU. Tapi, mereka bersahabat. Saling bahu membahu kala menyelesaikan masalah. Bahkan, kerap menjadi rujukan jika ada gesekan seperti perselisihan yang sedang kami alami waktu itu.

Sosok pertama yang dia sebut namanya adalah tokoh Muhammadiyah yang sangat saya kenal karena sering main ke rumah. Sedang tokoh kedua, adalah nama bapak saya sendiri. Mendengar kisah itu, saya diam dan malu. Lalu, membatalkan tawuran untuk kembali pulang ke rumah.

Andai saya tak mendengar kisah itu, mungkin saya akan terus melanjutkan hajat buruk pertikaian. Bapak memang tak pernah bercerita banyak hal pada saya. Tapi, apa yang beliau lakukan di masa lalu, kerap menyelamatkan kecerobohan-kecerobohan masa muda yang saya lakukan.

Saya percaya jika rasa cinta dan sikap melindungi, meski tak pernah diucap maupun diceritakan — dengan berbagai macam cara yang kadang sukar disadari — tetap akan terasa dampaknya. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Saya juga percaya jika apa saja yang kita lakukan hari ini, dampak dan rasanya akan ditemui oleh anak-anak kita. Generasi-generasi pasca kita. Meski, kita dan mereka (generasi setelah kita), sulit menyadarinya.

“Kemanapun kamu pergi, jangan pernah lupa berpegang Kabelillah — cekelan Kabele Gusti Allah. Wa’tasimu Bihablillahi Jami’an” begitu pesan Bapak yang selalu saya ingat hingga kini.

Tags: Anak LelakiBapakCekelan Kabele PengeranKabelillah
Previous Post

Merayakan Kesedihan dengan Lara-larane Lana Del Rey

Next Post

Menikmati Manfaat Kesehatan Kopi Tanpa Gula

BERITA MENARIK LAINNYA

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: