Metabolisme tubuh dapat menjadi miniatur untuk memahami alam, sementara alam menjadi cermin untuk memahami tubuh.
Tubuh manusia dan alam tampak seperti dua dunia yang berbeda. Satu berada di dalam kulit, satunya terbentang sebagai hutan, sungai, tanah, atmosfer, dan lautan. Namun, keduanya memperlihatkan prinsip kerja yang serupa.
Keduanya menerima energi dan materi, mengolahnya, menggunakannya, kemudian mengembalikannya ke dalam sistem. Keduanya bukan sistem yang diam, melainkan sistem yang terus mengalir.
Tubuh memiliki metabolisme. Bernapas, menyerap air dan makanan, mengedarkan zat, menghasilkan panas, lalu membuang sisa metabolisme.
Alam juga memiliki proses yang, dalam pengertian luas, dipandang sebagai metabolisme ekologis. Energi matahari masuk melalui fotosintesis dan air bergerak dalam siklus hidrologis.
Sisa metabolisme memperlihatkan prinsip yang sama. Feses adalah materi yang telah selesai digunakan tubuh. Daun gugur adalah bagian pohon yang telah selesai menjalankan fungsinya. Namun tak satu pun benar-benar menjadi akhir.
Dalam tubuh, sisa dikeluarkan melalui ekskresi. Di alam, materi mati diurai dan dikembalikan ke siklus kehidupan. Apa yang menjadi limbah bagi satu organisme, dapat menjadi sumber daya bagi organisme lain.
Gangguan pun memperlihatkan pola yang secara struktural mirip. Kekurangan air menyebabkan dehidrasi pada tubuh dan kekeringan pada ekosistem. Akumulasi cairan menyebabkan pembengkakan pada tubuh. Sementara alam mengenalinya sebagai banjir dan ultra genangan.
Penyumbatan mengganggu aliran dalam tubuh. Sedimentasi atau terhambatnya sungai, mengganggu aliran dalam ekosistem. Tubuh merespons gangguan melalui berbagai mekanisme regulasi; ekosistem juga mengalami perubahan populasi dan kualitas air.
Di sinilah konsep homeostasis (stabilitator kondisi) menjadi jembatan. Homeostasis bukan keadaan ketika sistem berhenti berubah, melainkan kemampuan mempertahankan kondisi yang memungkinkan kehidupan melalui perubahan yang terus berlangsung.
Tubuh menjaga suhu, cairan, dan keseimbangan kimia melalui regulasi. Alam mempertahankan keberlangsungan ekosistem melalui interaksi antara air, energi, tanah, organisme, dan siklus materi. Tubuh memperbaiki jaringan yang rusak. Alam memulihkan vegetasi. Di sini terlihat bahwa keseimbangan bukanlah keadaan diam. Namun gerak yang teratur.
Tubuh manusia, dalam hal ini, adalah bagian dari metabolisme alam. Oksigen yang kita hirup, air yang kita minum, karbon yang menyusun tubuh, semuanya berasal dari, dan akan kembali pada siklus materi yang lebih besar.
Dengan demikian, metabolisme tubuh dapat menjadi miniatur untuk memahami alam, sementara alam menjadi cermin untuk memahami tubuh. Keduanya mengajarkan prinsip yang sama: kehidupan bisa bertahan karena terus mengalir melalui sistem yang mampu mengatur, menyesuaikan, dan meregenerasi dirinya.








