Disadari atau tidak, bulan Dzulhijjah tahun 2020 ini memiliki keunikan jika dibanding dari tahun-tahun sebelumnya. Berikut laporannya.
Dzulhijjah tahun 1441 H, pandemi korona terjadi. Sebelum pandemi terjadi, hingga sekarang berada di masa normal baru, banyak dinamika kehidupan yang telah terjadi.
Tentang grafik korona yang senantiasa muncul di berbagai media, demonstrasi menolak Omnibus Law, aspirasi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi tentang pembiayaan pendidikan di masa pandemi yang kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, dan lain-lain.
Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas. Juga puasa sunnah tarwiyah dan arafah di masa pandemi, malam nanti gema takbir akan berkumandang di berbagai penjuru bumi.
Berkumandang hingga hari-hari diharamkanya puasa, memecah kesunyian malam, penawar rindu, dan untaian harapan dari mayoritas orang agar segera ditemukan sebuah benda yang (benar-benar) mampu memberikan kekuatan badan di masa normal baru, agar tidak ada lagi korban maupun orang-orang yang berpontensi terkena covid-19.
Sependek pengetahuan saya, pemerintah dan beberapa elemen masyarakat telah berupaya untuk melakukan pencegahan dan pengobatan. Hal tersebut patut diapresiasi. Namun kelihatannya penanganan yang diberikan kurang menyentuh pada masyarakat khususnya dalah hal psikologi sosial. Nampaknya hal itu luput dari perhatian.
Pernahkah terbayang, jika anggota keluarga kita yang terkena covid-19?, baik yang statusnya reaktif maupun positif. Satu wilayah seperti desa maupun komplek bisa gegar karena kejadian itu. Tidak apalah, bagi orang-orang yang menjadi objek gunjingan tetangga, namun ia mampu menetralisir segalanya.
Mengubah kegundahan menjadi hal-hal yang biasa. Amat berbahaya bagi orang maupun keluarga yang tidak bisa menghadapi kenyataan dan selalu memikirkan omongan yang keluar dari mulut orang lain, kemudian pikiran itu senantiasa menghiasi hari-hari, bahkan menyebabkan depresi.
Depresi berkepanjangan apabila tidak ada yang menangani menimbulkan perbuatan untuk bunuh diri. Pemerintah dari satuan terkecil, RT misalnya, juga seyogianya mampu memberi rasa aman terhadap wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Kelihatannya, hal tersebut luput dari pandangan. Pemerintah kurang memberikan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di kolong jembatan, komplek, dan perkampungan.
Ada beberapa orang yang begitu heboh ketika mendengar kabar, ada tetangganya yang reaktif maupun positif. Pemerintah yang mengeluarkan dan mempopulerkan istilah tersebut, seyogianya memberikan edukasi, baik secara daring maupun luring. Karena juga ada sebagian masyarakat yang belum memiliki gawai dan televisi.
Apapun yang terjadi di dunia ini, khususnya di Dzulhijjah pandemi tersirat ibrah sebagai bekal untuk mengarungi samudera kehidupan yang fana dan penuh tanda tanya. Namun, Nabs.
Kalian sadar atau tidak, selain Dzulhijjah tahun ini bebarengan dengan pandemi, tentunya juga hari raya Idul Adha dan agustusan.
Ketika berkendara di beberapa jalan yang ada di Bojonegoro, akan menemui penjual hewan qurban. Ada yang memasarkan hewan qurban di sekitar rumah, dan juga ada yang memanfaatkan lahan kosong untuk memasarkan sapi dan kambing.
Pemandangan seperti itu hanya terjadi di bulan Dzulhijjah. Hal tersebut bisa dijadikan pertanda, kalau kita sedang berada di bulan ketika Nabi Ibrahim memperoleh ujian dari Allah swt untuk menyembelih buah hatinya, Nabi Ismail.
Keunikan bulan Dzulhijjah tahun ini yang lain ialah diramaikam dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Warna-warni umbul-umbul yang berada di pinggir jalan, tampilan gapura yang dipercantik dengan gemerlap lampu warna-warni, dan gambar pahlawan khususnya Sang Proklamator bisa ditemui di pamflet lomba, akun sosial media, dan lain sebagainya.
Itulah, Nabs. Beberapa keunikan bulan akhir dalam kalender Islam tahun ini. Tentu masih banyak lagi keunikan-keunikan yang terjadi.








