Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ngaji Esai 3, Kultura dan Segala Sesuatu di Alam Raya

Rahul Oscara Duta by Rahul Oscara Duta
20/11/2020
in JURNAKULTURA
Ngaji Esai 3, Kultura dan Segala Sesuatu di Alam Raya

Pada Ngaji Esai Episode 3 yang dihelat PR PMII Punokawan di warung kopi, kami memaknai Kultura sebagai bagian dari nafas manusia.

Nabs, budaya adalah suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat dan diwariskan secara turun menurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Dalam istilah Jurnaba, budaya merupakan Kultura. Dan Kultura pula, di Jurnaba sangat sering dibahas. Sebab, mayoritas penulis Jurnaba sangat aware pada kekulturaan.

Budaya atau kultura mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia. Budaya mempengaruhi agama, politik, adat istiadat, bahasa, bangunan, pakaian, bahkan dalam suatu karya seni tak lekang oleh pengaruh budaya.

Oleh sebab itu, seiring berjalannya waktu, budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas dalam peradaban manusia.

Di warung kopi Satron, kami berdiskusi dan belajar menulis esai dengan cara mengupas sebuah tema yang berhubungan dengan budaya dan berjudul Kultura yang dipantik founder Jurnaba, Ahmad Wahyu Rizkiawan.

Ada beberapa pendapat kami tentang Kultura atau budaya. Kalau menurut saya, budaya adalah sebuah tingkah laku yang baik dan keindahan yang dilakukan secara turun menurun. Yah, gitu aja. Hehe

Kalau menurut kawan kami Sundy, budaya adalah tradisi turun temurun. Sementara kawan Feri Setiawan, budaya adalah keindahan yang dilakukan secara berulang-ulang dan tidak ada benar maupun salah, namun hanya keindahan.

Dan kalau menurut Jefry, budaya adalah sejarah yang ada di masa lalu yang indah dan dilakukan namun sekarang terkikis dengan waktu.

Banyak yang dibahas sampai malam, banyak hal yang disampaikan dan dibedah. Jadi banyak sub bab yang dibahas tentang Kultura. Ada tentang musik, gaya hidup, peradaban, sampai mitologi-mitologi berbagai daerah.

Budaya dibentuk oleh masyarakat yang dilakukan secara terus menerus dan memiliki unsur keindahan dan disitu tokoh pemuka masyarakat/pemimpin memulai kebudayaan tersebut agar ditiru oleh masyarakat/massa lainnya.

Ada cara-cara untuk memunculkan sebuah kebudayaan, Nabs. Yaitu dengan cara akulturasi dan asimilasi.

Akulturasi merupakan proses peleburan budaya baru dengan budaya lama sehingga memunculkan budaya lama yang dikemas dalam budaya baru namun tidak meninggalkan keindahan asli pada budaya lama tersebut. Berbeda dengan asimilasi, asimilasi adalah proses memunculkan kebudayaan dengan cara mengganti budaya lama dengan budaya yang baru.

Banyak perbincangan tentang kultura yang tidak bisa dipungkiri pasti berkaitan dengan seni dan lifestyle dan peraturan. Perkembangan musik adalah bukti nyata bahwa budaya itu tentang keindahan. Banyaknya kultur musik dan sub kultur musik mempengaruhi jalannya budaya pada sebuah generasi tersebut. Pada tahun 80an akhir sampai 90an terkenal dengan generasi X yaitu generasi pecinta musik punk dengan lifestyle yang tergolong “rebel”.

Budaya tersebut berubah ketika memasuki generasi baru pada tahun-tahun berikutnya, semuanya tentang tuntutan massa/mayoritas namun budaya yang ditinggalkan masih digunakan oleh masyarakat lainnya yang masih ingin meneruskan dan melestarikan budaya tersebut.

Mitologi-Mitologi juga dibahas dalam diskusi kali ini, karena juga berkemungkinan memberikan dampak pada peradaban besar di berbagai wilayah dunia. Dari mitologi Yunani dan peradabannya sampai peradaban di tanah Jawa. Secara tidak langsung kita berfikir dan berpendapat bahwa peradaban-peradaban ini dan mitologinya hampir sama satu sama lain namun dikemas secara bahasa dan istilah yang berbeda namun penafsirannya hampir sama.

Kami juga berdiksusi dan bertanya-tanya apakah budaya dan kearifan lokal kita masih bisa bertahan di masa mendatang dengan kondisi arus deras pada globalisasi yang tak bisa terbendung ini? dan jawaban itu dengan sepakat kami beropini bahwa masih bisa. Itu dilihat dari perspektif kami karena diskusi ini dilakukan secara bebas dan mengamalkan prinsip non-etis, yakni berarti tidak bisa menghakimi bahwa pendapat dan kebudayaan yang dibahas itu baik ataupun buruk.

Budaya itu indah tak bisa dibenar salahkan, budaya seperti kepercayaan yang kita imani dan amalkan setiap harinya. Dan kami sepakat bahwa budaya itu segala sesuatu hal yang baik. Mungkin itu saja yang bisa kami rangkum dari banyak dan lamanya diskusi tentang “kultura”.

Sebenernya masih banyak lagi yang ingin ditulis, namun alangkah baiknya kita ngopi untuk membicarakan segala sesuatu tentang alam raya, Nabs. Sampai jumpa, di Ngaji Esai episode 4.

Tags: Alam RayaBudayaKultura
Previous Post

Dari Jumat ke Jumat Lagi

Next Post

Siswa, Mahasiswa dan Kisah Tentangnya

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: