Kita, orang Indonesia, terlalu sering mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat: “udah nggak usah dipikirin”, “jangan dimasukin ke hati”, atau “udah, lupain aja”.
Apakah segitu mudahnya untuk bersikap bodo amat?
Banyak dari kita yang sering merasa terjebak dalam siklus pemikiran sendiri. Terutama ketika kita putus asa mencari solusi untuk masalah di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi.
Ketika terjebak dengan hal tersebut, bukannya mendapatkan dukungan dari teman atau orang tersayang. Kita justru diminta bersikap bodo amat. Seakan-akan hal yang kita alami itu tak terlalu besar.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tak mudah untuk bersikap cuek atau bodo amat terhadap segala masalah. Kebanyakan dari kita terlalu sering untuk memikirkan sesuatu secara berlebihan, bukannya mencari solusi konkret. Istilah kekiniannya; overthinking.
Overthinking sering disebabkan oleh perasaan khawatir atau ketakutan terhadap sesuatu yang tak diketahui secara pasti. Sesuatu yang masih mengambang dan abu-abu. Hal abstrak yang tak jelas dan terus mengganggu.
Rasa khawatir dan ketakutan secara berlebih itu bakal menyiksa otak kita. Otak diajak untuk bekerja lebih keras lagi. Alhasil, efek atau dampak negatif bisa lebih mudah menyerang diri kita.
Overthinking memang bisa memberikan dampak negatif. Terutama dampak terhadap kesehatan. Contoh nyatanya adalah sulit tidur.
Ketika memikirkan sesuatu secara berlebihan, kita akan banyak membuang waktu berharga kita. Salah satunya waktu atau jam istirahat.
Saat ada waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat atau tidur, kita malah terus terjaga untuk memikirkan sesuatu yang mengganggu.
Efek negatif lain yang mungkin didapatkan dari overthinking adalah darah tinggi. Memikirkan sesuatu yang menyebalkan dan menyedihkan kadang membuat emosi kita jadi tak stabil.
Bagaimana mengatasi overthinking dalam kehidupan kita? Mengatasi masalah tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan atau memencet remote untuk mengganti channel televisi. Bahkan, rasanya seperti mencari jerami di tumpukan jarum. Susah dan menyakitkan.
Otak itu rumit, Nabs. Untuk berhenti memikirkan sesuatu, kita harus berpikir untuk tidak memikirkannya dalam upaya memikirkan sesuatu yang lain. Hmmm. Ribet ya?
Pergi berlibur ke luar kota bisa jadi sebuah pilihan. Namun hal itu belum tentu bisa menyembuhkan perasaan overthinking yang melanda. Sehabis liburan dan bersenang-senang, kita kembali dibenturkan dengan fakta dan kenyataan.
Mungkin, satu-satunya cara untuk mengatasi overthinking adalah menunggu. Menunggu itu perkara waktu. Cepat atau lambat, overthinking yang kita alami itu bakal sirna dimakan oleh waktu.
Klise memang. Namun waktu memang kerap jadi solusi ampuh terhadap berbagai macam masalah yang mendera. Time will heal, katanya.
Tak mengapa jika berpikir berlebihan terhadap suatu hal. Tapi harus tahu porsinya. Ingat Nabs, sesuatu yang berlebihan jika tak dikelola dengan baik bakal menimbulkan banyak masalah.








