Padangan (Bojonegoro) dan Istanbul punya kemiripan cultural vibes. Jika Bosphorus menghubungkan dua benua, Bengawan menyambung dua provinsi-budaya.
Saya tak begitu tertarik dengan Istanbul Turki, meski masa kecil saya cukup akrab dengan kisah Nasreddin Hodja, si tokoh lucu dari Negeri Ottoman itu. Namun, sejak membaca karya Orhan Pamuk dan Said Nursi, akhirnya saya tahu betapa Istanbul (Turki) memiliki kemiripan cultural vibes dengan Padangan (Jipang).
Saya dua kali khatam buku Istanbul: Memories and the City-nya Orhan Pamuk semasa awal kuliah. Bahkan sempat men-syarah bagian awal buku itu menjadi satu risalah kecil yang saya kirim ke media massa. Saya juga membaca Risalah An-Nur, meski tak semua “tafsir cahaya” karya Said Nursi itu mampu saya baca.
Orhan Pamuk seolah memberitahu saya akan pentingnya primordialisme pada tanah kelahiran. Bagi Pamuk, seorang penulis ditakdir lahir ke dunia, untuk mempertebal deskripsi dari tanah di mana ia pernah dilahirkan. Pamuk juga membuat saya peka pada rasa sepi dan dinginnya dinding rumah tua, yang kerap bercerita akan kejayaan masa silam.
Baca Juga: Orhan Pamuk, Pria Melankolis yang Pandai Menulis
Istanbul, oleh Pamuk, digambarkan secara detail dan ensiklopedik serupa Padangan. Bangunan-bangunan tua melankolis yang berjejer rapi di pinggir selat Bosphorus, tak ubahnya rumah-rumah tua di pinggir Sungai Bengawan. Bagi saya, keduanya menebar aroma eksotisme kemuraman yang tak jauh berbeda.
Komaruddin Hidayat menyebut, budaya Istanbul dipengaruhi posisi geografis yang mempertemukan Barat (Eropa) dan Timur (Asia), serta sejarah panjang kejayaan Islam di masa lalu. Kultur Padangan juga dipengaruhi Barat (Jawa Tengah) dan Timur (Jawa Timur), serta sejarah panjang kejayaan Islam di masa lalu.
Istanbul dibangun melalui perpaduan Bizantium Eropa, Jazirah Arab, dan Anatolia Asia. Padangan disusun melalui eksotisme Bangunan Eropa, Manuskrip Arab, dan Pemukiman Cina. Sejak abad 7 M, Istanbul dikenal sebagai Bumi Hagia Sophia, tanah pertemuan budaya. Pada abad 14 M, Padangan menjadi tempat berpadunya Sufisme Persia dan Tradisi Jawa.

Dalam konteks kosmologi budaya, Istanbul bukanlah Eropa, Istanbul juga bukan Asia. Tapi Istanbul bisa menjadi keduanya kapanpun saja. Begitupun, Padangan bukanlah Jawa Timur, Padangan juga bukan Jawa Tengah. Tapi Padangan bisa menjadi keduanya kapan saja.
Istanbul adalah amfibi peradaban. Ia bisa menjadi Eropa maupun Asia kapan saja, tinggal melintasi Jembatan Bosphorus. Padangan pun sama. Ia adalah amfibi peradaban yang bisa menjadi Jawa Timur maupun Jawa Tengah kapan saja, tinggal melintasi Jembatan Bengawan.
Kota Istanbul dipenuhi bangunan kuno bernuansa Eropa, Arab, dan Asia abad 19 M. Sementara Padangan juga dihiasi rumah tua dengan atmosfer Eropa, Arab, dan Pecinan abad 20 M. Tiga bangsa besar dunia itu, menyisakan residu sejarah berupa bangunan tua, baik di Istanbul maupun di Padangan.

Bagi Istanbul, Islam jadi identitas kebanggaan yang berakar pada masa keemasan Kesultanan Otoman, meski mayoritas warganya justru memeluk paham Sekuler Barat. Begitupun Padangan, Islam jadi identitas yang berakar pada masa kejayaan Fiddarinur (Biladi Jipang), meski konsep urban-progresif perlahan menelan kaidah konservatif.
Puing-puing bangunan kuno, Selat Bosphorus, dan pemukiman yang gagal disejahterakan oleh modernisasi, menjadi simbol kemurungan pada segenap warga Istanbul, menyatukan mereka dalam dimensi melankolia kolektif yang dikenal dengan Huzun. Puing rumah kuno, Sungai Bengawan, dan pemukiman yang tak tersentuh modernisasi, adalah melankolia kolektif Padangan hingga kini.
Baca Juga: Huzun dan Bojonegoro yang Melankolis
Istanbul dan Padangan disatukan oleh utopia kejayaan Islam di masa silam. Namun di saat yang sama, Istanbul dan Padangan juga disatukan distopia kemuraman di masa depan. Keduanya menjadi pusat peristiwa gerak zaman. Keduanya juga dikenal dengan julukan “Gerbang Timur dan Barat”.
John Freely, dalam Strolling Through Istanbul (1972), menggambarkan Istanbul sebagai saksi beragam peristiwa dalam rentang waktu ribuan tahun. Kota ini sanggup bertahan dari pengepungan, penjarahan, penaklukan, perang saudara, huru-hara, wabah, kebakaran, gempa bumi, dan juga proyek-proyek pembangunan modern sejak era republik.
Freely mencatat, mulai Bangsa Yunani, Makedonia, Romawi, Byzantine, pasukan salib, bangsa Turki, bangsa Sekutu Eropa, minoritas Latin, Armenia, Yahudi, Arab, Bulgaria, Albania, hingga Rusia pernah mendiami kota ini. Namun, karakter dan ruhnya tetap bertahan hingga kini. Perubahan dalam agama, bahasa, status politik, maupun nama tidak menggoyahkan karakter kota tua ini.
Serupa Istanbul, Padangan juga berperan sebagai saksi beragam peristiwa dalam rentang waktu ribuan tahun. Padangan sanggup bertahan dari pengepungan, penjarahan, penaklukan, perang saudara, wabah, gempa bumi, banjir, hingga tentu saja narasi dongeng adu domba.
Dalam Nederlands Oost-Indie (1857), yang ditulis oleh pelancong Belanda A. J. van Der Aa, Padangan disebut sebagai “Jipang Tua”. Jipang yang kokoh. Jipang yang mampu bertahan melintasi bermacam imperium dan gejolak zaman.
Sejarah mencatat; sejak Medang Kuno, Kahuripan, Singashari, Imperium Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, Mataram Belanda, hingga pendudukan Penjajah Jepang; karakter dan ruh “Jipang Padangan” tak sedikitpun goyah. Perubahan status politik dan pergantian nama tak mengubah kebijaksanaan Kota Tua ini.
Penjaga Nyala Cahaya
Said Nursi Badiuzzaman (1877 -1960 M), ulama besar sekaligus penulis dari Turki tersebut, lahir tepat di tahun ketika Sidi Abdurrohman Syahiddin (w. 1877 M) meninggal dunia. Said Nursi menulis buku Risalah An-Nur. Sementara puluhan tahun sebelumnya, Mbah Abdurrohman telah menulis Risalah FiddariNur.
Said Nursi merupakan ulama Sunni yang produktif menulis. Melalui karyanya yang berjudul Risalah An-Nur, ia mampu menyatukan dan memicu gerak revolusioner orang-orang Istanbul terhadap sains dan ilmu pengetahuan. Risalah An-Nur menjadikan Istanbul terbuka terhadap kemajuan dan ilmu pengetahuan.
Mbah Abdurrohman ulama Sunni yang produktif menulis. Kumpulan manuskripnya, Risalah Fiddarinur, menyebut Padangan sebagai FiddariNur (Kota Cahaya), bagian tak terpisah dari BiladiNur (Biladi Jipang). Kasepuhan Padangan adalah Markazul Ilmi, pusat keilmuan Islam di Biladi Jipang.
Risalah Fiddarinur menggambarkan, Biladi Jipang dibangun dengan Ilmu Pengetahuan selama berlapis-lapis zaman. Sejak ditanam Syekh Jimadil Kubro di Puncak Gunung Jali Padangan (1344 M), Islam menjadi pohon teduh yang memunculkan banyak ranting cahaya di sekujur tubuh Biladi Jipang.
Melalui kemurungan-kemurungan masa silam, dan dengan pondasi kejayaan sejarah yang teramat kuat, Istanbul mampu mengarungi masa kini dan menyiapkan kejayaan masa depan berbekal cahaya dari Timur (Islam) dan Barat (Sains). Dengan kemurungan masa lalu yang tak jauh berbeda, dan dengan pondasi kejayaan sejarah yang sama, sudah seharusnya Biladi Jipang Padangan (Bojonegoro) mampu mengarungi masa kini dan menyiapkan kejayaan masa depan berbekal cahaya dari Timur dan Barat Bengawan.








