Kota-kota besar di Pulau Jawa pernah mengubah nama. Tercatat sejak abad 19 M, banyak nama kota besar mengalami perubahan.
Setelah Mataram Islam terpecah pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi menetap di Gerjatawati, sebuah tempat suci yang sebelumnya tempat singgah Sunan. Sunan Mangkurat telah membangun sebuah istana peristirahatan di sini bernama Ayogya. Jogjakarta kemudian mulai dibangun di sini, di tempat yang sebelumnya dikenal dengan Ngayogjakarta.
Dapat dikatakan bahwa nama Ayogya berasal dari Ngayodya, terkait dengan inkarnasi Wisnu yang ke-7, atau, sebagai nama negara tempat lahirnya pahlawan yang akan mengalahkan Dasamuka, sebagai kota tua di selatan Himalaya (Mahameru). Nama ini juga berkaitan dengan Hayujakerta (=cantik, terkenal dan berkembang).
Kota Malang pernah memiliki rencana untuk mengganti nama kota dengan nama yang berasal dari lingkaran Wengker, Singasari, Tumapel (= daerah perbatasan), Selaga (= kelopak) dan Supiturang. Rangga Permana masih meninggalkan sisa-sisa tembok istananya, dan Supiturang adalah gelar perang yang dipakai untuk mengalahkannya.
Nama Malang muncul setelah Surapati mundur perang dan menetap di sebuah tempat di sini untuk menjadi seorang penguasa, Malang berarti “digagalkan’. Kota Malang baru ada sejak tahun 1816 M, berada di lokasi desa tua yang dikenal sebelumnya sebagai Kabalan atau Kota Lawas, sedangkan nama Singosari saat ini masih melekat pada sebuah wilayah di sebelah utara Kota Malang. Singosari sudah ada sejak tahun 1250 M, ketika menjadi Kotaraja atau ibu kota kuno seorang Raja yang pastinya telah berkontribusi banyak terhadap keindahan kota.
Nama Banyuwangi ada semenjak tahun 1777 M, dan sebelumnya bernama Ulupampang. Dekat dengan Blambangan, yang sebelumnya Kota, sekarang menjadi kota yang besar. Banyuwangi yang dikenal sebelum itu, adalah Banyuwangi yang ada di atas tanah Kedawung (sisa-sisa kotanya masih ditemukan di Jember), atau sekarang disebut Lamajang (Lumajang).
Ketika Kyai Wirabrata menetap di Desa Demung dan membuatnya sebagai tempat tinggal baru dan ibu kota wilayahnya, ia mengganti nama Demung menjadi Besuki, karena ia berasal dari daerah bernana Besuki di Madura. Bagus Asra yang membutuhkan tempat tinggal yang sentosa untuk menjadi seorang Bupati Besuki, diberikan bagian wilayah yang dipilih dari desa Palendugan dengan nama Bandawasa (Bondowoso), yang berarti “tempat di mana otot-otot yang kaku akan mengendur”, yaitu tempat yang sehat.
Nama Situbondo disebut juga Sindubondo, diambil dari nama Adipati terakhir Nusa Barong bernama Sindu yang di-isolasi di sini, sehingga Situbondo baru ada sejak awal abad ke-19 M, sebelumnya tempat ini disebut Parukan. Nama lama Probolinggo adalah Banger yang artinya “bau”; itulah mengapa pada tahun 1765 M, diganti oleh bupati saat itu dan secara resmi berubah pada tahun 1810 M.
Mojokerto sebelum tahun 1838 M bernama Japan, Sidaarja (Sidoarjo) atau berarti “penerus suatu kerajaan”, sebelum tahun 1859 bernama Sidokari atau “sukses namun tunduk”, Mojoagung “banyak pohon Mojo” sebelum tahun 1838 bernama Wonosobo (= mata pencahariannya mengembara di hutan).
Selanjutnya adalah Bojanegara (Bojonegoro) yang berarti “kota tempat kecukupan makan”, Bojonegoro berdiri diatas tempat yang sebelum tahun 1827 M bernama Rajekwesi berarti “raja yang terpenjara”, nama sebelum Rajekweai adalah Jipang, wilayah utama Mancanegara Timur (bangwetan) kerajaan Ngayogjakarta.








