Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pagerwesi, Fakta Peradaban Kuno Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
19/04/2025
in JURNAKULTURA
Pagerwesi, Fakta Peradaban Kuno Bojonegoro

Jejak Pagerwesi

Meski kerap terlupakan, Pagerwesi Trucuk adalah kawasan yang secara empiris menunjukan fakta peradaban kuno Bojonegoro. Prasasti Sangsang (907 M) mencatatnya sebagai simbol kemajuan peradaban sungai. 

Nama Pagerwesi mungkin tak begitu terkenal. Tak pernah dicatat buku sejarah. Bahkan, cenderung tak diketahui lokasinya. Namun, layaknya Telang Malo, wilayah Pagerwesi menjadi salah satu bagian penting dari megahnya peradaban kuno Bojonegoro, terutama peradaban sungai Bengawan.

Secara geografis, Pagerwesi adalah wilayah yang berada di tengah-tengah antara sungai Bengawan dan Pegunungan Kendeng. Titik strategis ini, menjadikan Pagerwesi memegang peranan penting sebagai pusat peradaban sekaligus inkubator kebudayaan.

Namun, mental kolonial berupaya menghilangkan jejak Pagerwesi secara kejam. Namanya dipendam, dihilangkan, dan tak pernah disebut di berbagai macam catatan. Sebagai gantinya, Londo Jowo menanam residu mitos di tempat itu. Walhasil, jejak keberadaan Pagerwesi tak pernah dikenali lagi.

Padahal, nama Pagerwesi tercatat secara sahih pada Prasasti Sangsang (907 M), sebagai bagian dari kebesaran sungai Bengawan. Dalam prasasti yang kini berada di Instituut voor de Tropen Amsterdam Belanda ini, disebut secara jelas bahwa Pagerwesi adalah bagian penting Kerajaan Medang.

Pagerwesi, dalam hal ini, bukan sekadar sebuah desa. Namun kewilayahan sungai yang berada di baris pegunungan Kendeng. Titik-titik kawasan inilah, yang selama ini justru banyak dilupakan dalam diskursus kebudayaan. Untungnya, nama Pagerwesi masih tersimpan rapi sebagai sebuah nama desa, di tengah antara Kendeng dan Bengawan.

Artikel ini lanjutan dari Seri Dekolonisasi yang berpijak pada Spirit Bhinnasrantaloka: memelihara kebanggaan masa lalu, kesadaran masa kini, dan aspirasi masa depan; dengan keselarasan.

Prasasti Sangsang (907 M) adalah lempeng prasasti yang dirilis penguasa Kerajaan Medang, Sri Maharaja Dyah Baletung (898 – 910 M) pada 4 Mei 907 M. Prasasti ditulis dengan huruf Jawa Kuno ini, menceritakan besarnya peradaban sungai Bengawan pada masa Medang Kuno. Termasuk Pagerwesi.

Prasasti Sangsang (907 M) disebut sebagai penegas dari Prasaati Telang (903 M). Jika Prasasti Telang membahas kawasan Telang Malo beserta titik Sotasrungga-nya, Prasasti Sangsang membahas kawasan Pagerwesi Trucuk beserta rekam jejak peradabannya.

Bekas dermaga Bengawan Pagerwesi (Jurnaba/18/4/2025)

Ada banyak bagian dalam Prasasti Sangsang. Mulai bagian yang membahas kehidupan masyarakat sungai Bengawan, profesi-profesi, jenis-jenis peternakan, bahkan komoditas transaksional seperti garam, gula, hingga beras. Termasuk Lenga (minyak tanah) yang merupakan komoditas khas dari Telang Malo dan Pagerwesi Trucuk.

Prasasti Sangsang juga membahas tentang sejumlah instrumen sosial mulai dari piranti sehari-hari, bermacam profesi, konsep metalurgi (pengolahan emas, tembaga dan besi), hingga peraturan lalu lintas perahu Bengawan, yang merupakan entitas khas Telang Malo dan Pagerwesi Trucuk.

Bahkan, ada bagian yang menjelaskan saat Raja Dyah Baletung memberikan hadiah kepada para Brahmana di sejumlah wilayah Medang. Ada banyak nama-nama brahmana penguasa wilayah, yang disebut dalam prasasti ini. Brahmana Pagerwesi bernama Mpu Yayak, disebut sebagai salah seorang yang mendapatkan hadiah prestisius dari Raja Dyah Baletung.

Bukit Pertapan, Puncak tertinggi kawasan Pagerwesi (Jurnaba/2025)

Tepat pada baris ke-10 Prasasti Sangsang, tertera kalimat: raka i pagar vsi pu yayak inangsean vdihan yu 1 mas mā 8 / The raka of Pagar Vsi, Pu Yayak, received 1 set cloth and 8 gold (artinya: Raka Pagerwesi, Mpu Yayak, menerima hadiah satu set pakaian dan 8 peti emas dari Raja).

Pada periode 907 M, di Pagerwesi telah muncul nama brahmana besar bernama Mpu Yayak, yang atas kebijaksanaannya, membuat Raja Dyah Baletung memberinya hadiah berupa 1 set pakaian dan 8 batang emas. Sebuah prestasi yang tentu punya dampak besar bagi keberlangsungan sosial di wilayah Pagerwesi.

Damais (1995), Sarkar (1959), dan Naerssen (1955) menjelaskan, Prasasti Sangsang sangat lengkap. Terutama dalam memotret kosmos kehidupan sosial masyarakat sungai Bengawan. Sebab, di dalamnya terdapat laporan jenis pekerjaan, jenis peternakan, hingga masalah pajak dan utang piutang.

Secara empiris, Kerajaan Medang (732–1016 M) adalah Kemaharajaan kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya dilanjutkan Kahuripan (1019–1046 M), diteruskan Jenggala (1042–1135 M), dilanjutkan Singashari (1222–1292 M). Dari era Singashari ini, kelak melahirkan Wangsa Rajasa, baru kemudian memunculkan Majapahit (1293–1527 M) di masa yang lebih belakangan.

Dalam paradigma sederhana, kita bisa membayangkan betapa sepuhnya wilayah Pagerwesi Bojonegoro. Selain itu, kita juga bisa memahami betapa majunya peradaban Jawa. Bahkan konsep sosial sudah dikenal jauh-jauh hari. Dan itu berbasis catatan empiris yang dirilis pada 907 M.

Paradigma semacam ini sangat ditakuti kaum kolonial, baik Londo Jowo maupun Londo Holland. Sehingga mereka berupaya membonsai sejarah pada masa yang sesungguhnya belum lama. Mereka  menghilangkan jejak kebesaran, dengan cara tidak pernah membahasnya.

Secara umum, Prasasti Sangsang menegaskan besarnya peradaban Jawa. Bahwa sebelum periode 1000 Masehi pun, Jawa telah memiliki struktur, nilai, serta norma-norma sosial intelektual tinggi. Secara khusus, Prasasti Sangsang adalah salah satu prasasti awal yang menyebut Lenga (minyak bumi) sebagai komoditas khas Bojonegoro, selain Prasasti Telang tentu saja.

Keselarasan Bhinnasrantaloka

Sejak 1246 M, kawasan sungai Bengawan yang kini disebut sebagai Bojonegoro ini, telah masyhur sebagai Tlatah Bhinnasrantaloka, Bumi Harmoni (penyatu dan penentram) yang selalu adaptatif dan fleksibel pada perubahan zaman. Spirit Bhinnasrantaloka menggambarkan keselarasan transformasi zaman. Dari zaman Hindu-Budha menuju Islam, cenderung tidak ada gesekan.

Wilayah Pagerwesi, tentu bagian dari spirit Bhinnasrantaloka. Kebesarannya pada zaman Hindu – Budha, berlanjut hingga datangnya zaman Islam. Seperti umumnya peradaban besar, jejak Islam di Pagerwesi juga tercatat literatur. Kemajuan Islam di wilayah Pagerwesi, terekam sejak periode c. 1755 M.

Kemajuan Islam di Pagerwesi, tak bisa lepas dari pengaruh dua pesantren kuno di wilayah tersebut. Pagerwesi merupakan bagian penting dari kewilayahan Pesantren Guyangan (Kiai Januddin Guyangan), dan Pesantren Sranak (Kiai Sadipo Sranak).

Pesantren Sranak dan Guyangan, jejak Islam sepuh di kawasan Pagerwesi (Manuskrip Padangan).

Kiai Januddin Guyangan dan Kiai Sadipo Sranak masyhur dikenal sebagai “Kabilah Perahu” dari Padangan, yang berdakwah melalui transportasi sungai Bengawan. Posisi Pagerwesi sebagai pusat dermaga sungai, tentu punya peran penting sebagai wasilah kebesaran Pesantren Guyangan dan Pesantren Sranak.

Dua pesantren kuno ini, menjadi episentrum peradaban Islam yang mengalami kemajuan pesat pada paruh kedua abad 18 M. Keberadaannya tentu mengganggu kepentingan-kepentingan kolonial. Sehingga dihilangkan dengan cara ditanami residu “abangan”.

Keberadaan dua pesantren kuno (Pesantren Guyangan dan Pesantren Sranak) ini, seperti sengaja dipendam dan dihilangkan, dengan cara ditanami mitos-mitos tertentu, sehingga lokasinya tak diketahui dan tak pernah dibahas lagi. Namun, catatan literatur tentu akan memunculkan keberadaannya lagi.

Pagerwesi Trucuk merupakan kawasan yang secara empiris menunjukan fakta peradaban kuno di Bojonegoro. Prasasti Sangsang (907 M) mencatatnya sebagai bagian dari majunya peradaban Bengawan. Lebih dari itu, Pagerwesi juga menunjukan keselarasan zaman. Sebab, pada masa Islam, Pagerwesi berperan penting sebagai titik labuh bagi para pembawa pesan syiar.

 

Tags: KERISKELOKAMakin Tahu IndonesiaPeradaban PagerwesiSeri Dekolonisasi PengetahuanSpirit Bhinnasrantaloka
Previous Post

Feminisme Dalam Jerat Patriarki

Next Post

Kartini Tak Ingin Puja Puji

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: