Penemuan bunga bangkai di Desa Pagerwesi, Trucuk, Bojonegoro, membuat warga senang dan antusias. Penemuan tanaman langka di lereng perbukitan Pagerwesi pada (17/12/2025) itu, menarik perhatian karena sebelumnya jarang dijumpai tumbuh di kawasan tersebut. Sehingga keberadaannya cukup memberi banyak pelajaran alam.
Bunga bangkai berjenis Amorphophallus Paeoniifolius itu dikenal sebagai salah satu tanaman langka dengan ciri khas bau menyengat saat mekar. Meski aromanya tak sedap, keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Banyak warga datang untuk melihat langsung dan mengabadikan momen langka tersebut.
Teguh Cahyono, salah seorang tokoh warga setempat mengatakan, kemunculan bunga bangkai ini menjadi pengalaman yang tak biasa. Sebab selain menambah pengetahuan tentang flora langka, keberadaan bunga ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
”Memang jarang ditemui. Karena itu ini pengalaman menarik” ucap pria akrab disapa Mas Teguh itu (17/12/2025).
Teguh menyatakan, ditemukannya bunga bangkai di kawasan Pagerwesi, tentu patut disyukuri. Menurutnya, ini bisa menjadi tanda bahwa kondisi alam (tanah, air, udara) di kawasan itu masih aman dari pencemaran. Keberadaan bunga langka ini, menurut dia, juga harus memotivasi warga agar memperhatikan ajaran Memayu Hayuning Bawana. Yakni menjaga keindahan bumi, sebagai sumber kehidupan manusia.
”Artinya, keberadaan tanaman ini juga jadi isyarat agar kita harus mulai lebih memperhatikan lingkungan sekitar” imbuh dia.

Sementara Arif Dwi Setiawan, pengamat ekologi dari Bojonegoro Institute menyatakan, bunga bangkai yang ditemukan di Pagerwesi termasuk jenis Amorphophallus Paeoniifolius. Menurut Arif, bunga bangkai sebagai tanaman langka, memang penting diketahui masyarakat. Sebab, keberadaannya menjadi bagian dari ekosistem hutan.
”Keberadaannya sangat penting bagi ekosistem. Khususnya untuk membantu keseimbangan ekologi” ucap Arif.
Secara natural, kata dia, bunga bangkai menjadi penyerbuk alami. Sebab, bau menyengat dari bunga tersebut berfungsi menarik serangga seperti lalat dan kumbang. Karena itu, keberadaannya melambangkan konservasi dan edukasi. Sebab, dapat dimanfaatkan sebagai tanaman edukasi untuk pengenalan flora langka dan lokal.








