Dampak dari ombak literasi, intelektual muslim dan para dedengkot ilmu pengetahuan banyak bermunculan di Era Kejayaan Islam.
Literasi memiliki sumbangsih besar terhadap kemajuan bangsa. Namun adanya gawai yang secara instan memudahkan akses informasi, tradisi baca-tulis secara mendalam pun mulai menurun.
Kurun waktu 10 tahun ini, jarang dijumpai penjual koran menjual lembaran-lembarannya di lampu merah, degradasi minat literasi itu juga terjadi pada lingkup keluarga.
Siapa yang menyangka jika dulu anak kecil menangis meminta susu atau eskrim, kini menangis karena tidak melihat animasi, kartun atau drama korea pada gawai, suatu realitas yang bergeser bukan?
Memasuki abad 21 dalam milenium ketiga ini, banyak ahli dan pakar menilai sebagai era postmodernisme, yang inti pokok alur pemikirannya adalah menentang segala hal yang berbau kemutlakan dan baku, menolak dan menghindari suatu sistematika uraian atau pemecahan masalah yang sederhana dan sistematis.
Berbagai kalangan dan umur mungkin bisa tahan berjam-jam menggunakan handphone. Namun tidak dengan membaca buku, kecenderungan terhadap handphone kian marak, apalagi dengan pesatnya faham postmodernisme, identik dengan terbukanya informasi secara luas.
Dalam era postmodernisme ini kita tergiring agar suka mencari informasi pada media-media sosial, ataupun internet yang belum tentu terbukti kebenarannya, tanpa kita telaah terlebih dahulu.
Padahal; perintah membaca, menulis dan mencari ilmu bertebaran dalam Al-Qur’an. Bila berfikir jauh ke belakang, peradaban islam melahirkan banyak tokoh dan cendekiawan, para cendekiawan muslim adalah para pegiat-pegiat literasi yang handal, sebut saja Saladin atau Shalahuddin Al Ayyubi.
Pada masa kepemimpinannya, islam kaya akan karya-karya tulis berbagai bidang ilmu pengetahuan, dari sastra hingga kedokteran.
Di era Dinasti Abbasiyah, pada kepemimpinan Harun Al Rasyd dan Ma’mun Al Rasyid, kemajuan literasi menjadikan islam sebagai mercusuar negara-negara sekitarnya, karena kebijakan khalifahnya concern pada ilmu pengetahuan.
Masa itu melahirkan berbagai bidang keilmuan, ilmu tafsir, matematika, kedokteran misalnya, hingga sejarawan sekaligus sosiolog islam yang terkenal yakni Ibnu Khaldun dan karya fenomenalnya Al-Muqaddimah.
Begitu pesat dan concern pada ilmu pengetahuan di masa itu, dapat mempengaruhi pemikiran eropa dan pemikir pada masa pencerahan.
Ibnu Khaldun telah membuka banyak pemikiran, dari solidaritas mekanis hingga ke solidaritas unsur sebelum didengungkan Durkheim, teori hegemoni dan kekuasaan sebelum Max Webber, Teori Surplus nilai sebelum Karl Marx dan kaidah dialektika sebelum Hegel.
Indonesia juga memiliki cendekiawan-cendekiawan muslim, dimana karya-karyanya sangat mendunia, konsisten dirawat, istiqomah dikaji pada pesantren. Syaikh Nawawi Al Bantani dan Syaikh Mahfudz Termas Pacitan misalnya, beliau berdua adalah maha guru yang mengajar di Masjidil Harom, Makkah, kedua ulama tersebut memiliki proses yang keras dalam menimba ilmu, telah menulis puluhan kitab,
karya-karyanya banyak menjadi rujukan para ulama asia saat ini.
Melalui rentetan sejarah, dan pemikiran yang membentuk kebudayaan dan peradaban hingga saat ini, kaum muslim memiliki sumbangsih besar pada ilmu pengetahuan yang membumi, ilmu pengetahuan selayaknya harus terus dikaji dan dikembangkan demi mengembalikan harkat dan martabat manusia.
Jika Indonesia sedang menghadapi Bonus Demografi, apabila budaya literasi terus menjadi perhatian, 5-10 tahun mendatang Indonesia tidak akan ketinggalan zaman dan inovasi, karena pada dasarnya menulis dan membaca tak sebatas melihat atau menggores tinta, atau menekan keyboard pada umumnya, namun membiasakan pola fikir yang sistematis dalam uraian suatu penyelesaian masalah, membuka suatu pandangan yang responsif terhadap sesuatu.
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Pramoedya Ananta Toer)
Jadi kapan mau mulai membaca dan menulis? Wkwk








