Festival Salak Wedi Bojonegoro kembali diadakan. Acara tahunan ini dihelat pada Sabtu (21/12/2019) di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Bojonegoro. Di tahun ini, Festival Salak Wedi memadukan unsur budaya dan agama.
Salah satu festival unik Bojonegoro kembali hadir di penghujung tahun. Apalagi kalau bukan Festival Salak Wedi. Penyelenggaraan festival ini sudah memasuki tahun keempat. Ratusan kilo buah salak asli Desa Wedi dibagikan secara gratis di pergelaran ini.
Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah secara resmi membuka acara ini. Bersama dengan jajaran dinas terkait dan pejabat desa setempat, Anna Mu’awanah mengapresiasi acara yang masuk kalender event pariwisata Bojonegoro ini.
“Kami siap mendukung dan menyukseskan acara kreatif seperti Festival Salak Wedi. Ini sesuai dengan semangat Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk mengembangkan pariwisata lokal berbasis ekonomi kerakyatan,” ujar Anna Mu’awanah.
Acara inti dari festival ini adalah kirab gunungan salak raksasa. Gunungan yang berisi ratusan buah salak diarak dari balai desa menuju masjid Desa Wedi. Setelah didoakan, salak yang berada di gunungan tersebut bisa diambil secara gratis.
Tak hanya bisa menikmati buah salak secara cuma-cuma. Masyarakat yang hadir juga bisa membeli berbagai olahan buah salak yang dikembangkan sendiri oleh warga Desa Wedi.
Sejumlah produk olahan salak seperti kurma, kopi, emping, hingga kue bisa dijadikan buah tangan oleh warga yang datang. Panitia sengaja membuat bazar yang berisi produk olahan salak asli Desa Wedi. Ini sebagai upaya untuk mempopulerkan salak Desa Wedi ke segmen yang lebih luas lagi.
Sinergikan Budaya dan Agama
Ada hal berbeda yang ada pada Festival Salak Wedi 2019 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Yakni penyelenggaraan acara Wedi Bersholawat bersama Gus Azmi. Acara dilangsungkan di lapangan Desa Wedi.
Panitia memang ingin memadukan festival kebudayaan dengan unsur agama. Karena itu, panitia yang mayoritas adalah muda-mudi Desa Wedi sengaja mengundang hafidz muda yang namanya sedang naik daun di kalangan santri milenial, yakni Gus Azmi.
Salah satu inisiator Festival Salak Wedi, Subhkan mengatakan jika acara Wedi Bersholawat bersama Gus Azmi memang jadi pembeda. Harapannya, festival kebudayaan bisa berjalan beriringan dengan nuansa religius.
“Bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya adalah adanya acara Wedi Bersholawat. Kita berharap nuansa religius juga hadir di festival ini,” ungkap Subhkan.
Menurut sejarah, suburnya salak di Desa Wedi tak bisa dilepaskan dari para pemuka agama setempat. Ada 3 pemuka agama yang punya inisiasi menanam buah salak di Desa Wedi. Mereka adalah KH. Basyir Almujtaba, H. Abu Bakar, dan H. Abdul Jabar.
Sejatinya, Festival Salak Wedi pun hadir dan eksis untuk menghormati ketiga pemuka agama yang sekaligus jadi leluhur Desa Wedi tersebut. Tanpa mereka, warga Desa Wedi tak akan mendapatkan berkah dari buah salak.
Festival Salak Wedi 2019 berjalan dengan sukses. Dengan memadukan unsur budaya dan agama, event tahunan ini bisa terus eksis dan mewarnai sektor pariwisata Kabupaten Bojonegoro.








