Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pohon Natal untuk Danu

Bakti Suryo by Bakti Suryo
24/12/2019
in Cecurhatan
Pohon Natal untuk Danu

Perayaan Natal semakin dekat. Anak kecil itu baru menyadarinya. Segera dia berlari menuju bapaknya. Membelah pondok melalui bagian tengah. Bapaknya sedang duduk membaca koran di bawah jendela. Mencari berita tentang rencana perayaan Natal di pusat kota.

Anak itu bernama Danu, seorang bocah laki-laki polos bertubuh mungil. Danu tinggal berdua dengan bapaknya, seorang nelayan sungai bernama Mulyasa. Mereka tinggal di sebuah pondok sederhana yang berada pinggiran kota. Itu sudah empat tahun sejak ibu Danu meninggal dunia.

Bapaknya menengok ke arah Danu seraya menutup koran yang dia baca. Danu menghampirinya. Mul memegang tangan anaknya, lalu menunggu Danu membuka mulut.

“Bapak, aku ingin ada pohon Natal yang besar. Aku ingin melihat pohon natal yang tinggi sekali,” kata anak berusia 12 tahun tersebut.

Bapaknya menganggukan kepala sebagai tanda mengiyakan. Anak itu merasa senang dan berjalan kembali ke kamarnya. Bapaknya tersenyum melihat anaknya berjalan dengan girang. Suara langkah kaki anak itu mulai menjauh. Irama yang diakhiri dengan suara pintu tertutup.

Kemudian, Mul terdiam dengan garis bibir kembali mendatar. Memejamkan mata dan menaruh kepala di atas senderan kursi. Rasa bingung tampak dari raut wajahnya. Sudah tiga tahun tidak ada perayaan Natal di rumah kecil mereka.

Biasanya, perayaan natal tidak ada yang istimewa. Cukup dengan makan ikan bakar bersama, ditambah hiasan pohon cemara kecil khas Natal. Pohon plastik dengan sedikit hiasan lampu cabai. Plus dengan playlist lagu Natal dari tape usang untuk mempertebal suasana.

Mul ingin sekali membahagiakan anaknya. Dia harus berusaha mewujudkan permintaan itu. Karenanya, dia mencoba menghubungi temannya. Seorang penjaga hutan yang tinggal di desa sebelah. Namanya Karjan. Tempat tinggal Karjan cukup jauh. Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai dengan menggunakan motor.

“Karjan, aku butuh bantuanmu. Kamu pasti bisa menolongku,” kata Mul. “Anakku menginginkan pohon Natal yang besar dan bagus untuk Natal kali ini. Sebelumnya, dia belum pernah melihat pohon Natal yang besar secara langsung. Beri tahu aku, bagaimana aku bisa mendapatkan pohon itu?” lanjut Mul.

“Masuklah ke hutan di bagian timur. Ada banyak pohon yang bagus. Kau akan menemukan apa yang butuhkan,” jawab Karjan.

“Baiklah. Terima kasih. Besok aku akan ke sana untuk mencarinya. Kali ini, aku terpaksa meminjam truk milikmu,” kata Mul.

“Silahkan saja. Tapi, ingatlah satu hal yang sangat penting,” saut Karjan.

“Apa itu?” Mul kembali menyahut.

“Kau bebas memilih pohon mana yang kau inginkan. Namun, hanya satu pohon yang boleh kau ambil. Jika kau temukan satu pohon dan kau lewati, kau tidak boleh berbalik arah untuk mengambil pohon itu. Kau hanya boleh mengambil satu pohon yang ada di depanmu. Setelah itu, baru kau boleh berbalik arah dan kembali,” jelas Karjan.

“Baiklah. Aku mengerti,” kata Mul mengiyakan penjelasan Karjan.

“Dan jika kau memutuskan untuk berbalik arah dan kembali, kau tidak boleh mengambil satu pun pohon yang sudah kau lewati,” tegas Karjan.

“Terima kasih, Karjan. Bantuan ini sangat berarti. Demi Danu, aku akan melakukan apa yang sudah kau katakan. Sekali lagi terima kasih,” pungkas Mul sekaligus pamit untuk kembali ke pondok miliknya. Dia pulang dengan mengendari truk milik Karjan yang dia pinjam.

Hari berganti. Meski bulan hanya bergeser dan mentari belum menunjukkan tandanya. Sekitar pondok masih tampak gelap. Mul pun mempersiapkan segalanya. Mulai dari makanan untuk Danu nanti dan bekal perjalannya, hingga segala peralatan yang dia butuhkan.

Tidak lupa, Mul menuliskan catatan kecil untuk Danu yang belum sadar dari tidurnya. Dia selipkan catatan itu di atas laci kamar Danu. Dia menuliskan:

“Danu, bapak ada keperluan mendadak. Bapak harus pergi dulu. Makanan sudah bapak siapkan di lemari. Danu jangan telat makan ya. Danu bebas bermain, tapi jangan ke luar pondok atau pergi terlalu jauh. Sebelum petang bapak sudah sampai di pondok lagi. Tunggu bapak ya. Bapak sayang Danu.”

***

Dua jam perjalanan, Mul sampai pada hutan cemara yang dia tuju. Dia ambil tas penuh perkakas dari bak truk. Dia segera memasuki area hutan yang tampak teduh itu. Terkadang, cahaya matahari menelusup masuk melalui celah dedaunan.

Mul melihat banyak pohon cemara. Semua tampak begitu terawat dan terjaga. Alam tahu betul bagaimana cara merawat dirinya sendiri. Semakin masuk ke dalam hutan, dia melihat pohon cemara yang semakin indah. Menjulang tinggi dengan kokoh.

“Demi Natal untuk Danu, aku haru mendapatkan pohon terbaik dari hutan ini,” ucap Mul dalam batin.

Apa yang Mul lihat nampaknya membuat dia kebingungan. Mana pohon cemara yang harus dia tebang. Semakin berjalan ke depan, semakin bagus pohon yang dia lihat. Mulai bentuk batangnya, corak kulitnya, arah cabangnya hingga rimbun daunnya.

Satu pohon cemara di hadapan Mul sangat indah. Bagi Mul, pohon itu cukup sempurna untuk Danu. Di balik pohon itu, ada satu pohon yang lebih sempurna. Namun, Mul semakin penasaran. Pastinya, semakin ke dalam hutan, semakin bagus pohon yang akan dia temukan.

Mul terus berjalan ke depan sambil mengamati setiap pohon. Semakin lama, semakin bagus penampilan pohon-pohon itu. Dia tidak pernah menoleh ke pohon yang dia lewati. Bukan karena pesan Karjan padanya, melainkan karena begitu takjub melihat setiap pohon di depannya.

“Pastinya, di ujung sana aku akan menemukan pohon terbaik untuk Danu,” ucap Mulyasa lirih yang membuatnya semakin semangat.

Tanpa Mul sadari, matahari sudah berada tepat di atas kepalanya. Itu karena tertutup lebatnya dedaunan cemara. Dia mempercepat langkah untuk sampai pada tujuannya, ujung hutan dengan pohon terbaik.

Berjalan cukup lama, Mulyasa tidak sadar bahwa jarak pohon tidak lagi sepadat sebelumnya. Dia tetap mencari pohon terbaik itu. Terus ke depan dan tak lagi menoleh ke kiri-kanan. Hanya malangkah pasti dan fokus pada setiap pohon di depan.

Mulyasa kaget dan terkejut. Sampailah dia di ujung hutan cemara itu. Mulyasa tidak lagi melihat pohon cemara di depannya. Yang dia lihat adalah langit selurus dengan pandangannya. Dia tersadar sedang berada di atas tebing tepian hutan. Samar-samar terdengar deburan ombak jauh di bawah sana.

Rasa sedih memenuhi dada Mulyasa. Dia merasa gagal. Akhirnya, pohon Natal terbaik untuk anaknya tidak dia dapatkan. Seperti yang dipesankan Karjan, Mul tidak boleh berbalik dan mengambil pohon cemara yang sudah dia lewati. Dia pun berbalik arah menuju truk tanpa membawa satu pun pohon.

Dia berjalan ke arah truk dengan perasaan penuh sesal. Pencarian itu berakhir sia-sia. Dia khawatir bagaimana Danu nantinya. Pohon Natal yang indah tidak dia dapatkan. Kesia-siaan ini tentu akan membuat Danu merasa kecewa dan bersedih.

Akhirnya, sampailah Mulyasa di pondoknya tepat saat petang datang. Dia disambut anak kecil yang berlari ke arahnya. Menggandengnya untuk masuk dan duduk di dalam pondoknya.

“Bapak dari mana? Silahkan duduk. Danu ambilkan minum untuk bapak ya,” kata Danu.

Gelas berisi air dingin itu diberikan Danu kepada bapaknya. Segera Mulyasa meneguk sambil menahan kekecewaan.

“Maaf, nak. Bapak tidak bisa menunjukkan Pohon Natal seperti yang kamu inginkan,” kata Mulyasa. “Sepertinya, natal kali ini tidak akan berbeda dengan sebelumnya. Maafkan bapak ya, Danu,” lanjut Mulyasa sambil mengusap kepala anaknya.

Danu terdiam. Pohon Natal yang dia harapkan belum menjadi kenyataan. Raut mukanya mendatar. Anak itu berusaha menutupi kesedihan agar bapaknya tidak semakin bersedih. Danu bukan orang dewasa, tapi dia tahu apa yang dilakukan bapaknya.

“Tidak apa-apa, pak. Terima kasih,” kata Danu.

Mendengar itu, dada Mulyasa semakin penuh. Sesak menahan sedih. Karena egonya, dia gagal mewujudkan keinginan putranya. Padahal, cukup satu Pohon Natal yang besar untuk Danu. Dia malah berusaha mencari yang terbaik, yang sesungguhnnya masih dipertanyakan, ada atau tidak.

***

Setahun berlalu. Perayaan Natal tidak lama lagi. Mulyasa bersikeras untuk membawakan Pohon Natal yang besar untuk anaknya. Dia kembali ke rumah Karjan untuk meminjam truk sebagai pengangkut potongan pohon cemara.

“Karjan, pinjami aku truk milikmu. Natal kali ini, aku harus mengambil pohon cemara untuk anakku,” ucap Mulyasa.

“Apa kau sudah tahu pohon mana yang akan kau ambil?” tanya Karjan.

“Sudah. Aku tidak akan mencari lagi. Aku hanya akan mengambil satu untuk anakku. Itu sudah cukup,” jawab Mul.

“Kali ini, kau boleh mengambil lebih dari satu pohon,” kata Karjan.

“Maksudnya?” tanya Mul.

“Apa kau masih ingat bagaimana pohon-pohon cemara yang kau lihat? Apa kau ingat seperti apa pohon cemara di hutan itu?” jawab Karjan dengan balik bertanya.

“Iya. Aku masih ingat bagaimana bagusnya semua pohon-pohon di hutan itu,” jawab Mul.

“Kali ini, aku menerima banyak pesanan. Ada beberapa kolegaku memintaku mencarikan pohon untuk Natal. Apa kau bisa membantuku? Hasilnya, nanti bisa kita bagi dua. Itu akan cukup untuk kau gunakan merayakan Natal bersama anakmu di pusat kota,” jelas Karjan.

“Baik. Dengan senang hati aku akan membantumu,” jawab Mul dengan tegas.

Mul merasa bahagia. Ada harapan merubah perayaan Natal untuk Danu. Kali ini, dia bisa merayakan Natal bersama anaknya di pusat kota. Dia berpikir anaknya itu akan merasa senang dan bahagia. Ternyata, apa yang dia lakukan tidaklah sia-sia.

Mulyasa baru menyadarinya di tengah perjalan menuju hutan. Tidak ada yang percuma untuk dilakukan. Kesalahan saat itu, dia hanya menuruti egonya. Dia tak acuh untuk melihat sudut lain dari pandangannya.

Buktinya, sekarang dia bisa membantu Karjan mencarikan pohon untuk Natal berdasar pesanan. Hasilnya pun bisa dia gunakan untuk perayaan Natal bersama Danu. Perayaan Natal bagi Danu yang berbeda dari biasanya. Perayaan Natal yang cukup berbeda dan istimewa.

Setiap tempat harus didatangi, setiap buku harus dibaca, setiap pengalaman harus disimpan. Bukan berarti tidak ada hasil yang dicapai. Hanya saja proses dan hasil belajar tertutup ego. Perlu adanya satu atau dua pengorbanan. Rasa sabar dibutuhkan untuk itu. Pada nantinya, apa yang dilakukan akan membuahkan hasil pada satu titik waktu.

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2020.

Tags: Fiksi Natal
Previous Post

Akankah Buku Impor kian Mudah Diakses?

Next Post

Suka Cita Natal dan Kemeriahan Boxing Day Premier League Inggris

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: