Sebelum jadi pria matang, kau harus jadi lelaki yang konsisten. Setidaknya konsisten mencintai diri sendiri dan konsisten mencintai dia, yang mencintaimu tiada henti.
Konsistensi atau Istiqomah atau teguh pendirian, merupakan respon psikologis dalam menghadapi suatu proses. Ia merupakan cara sekaligus metode dalam menempuh suluk kehidupan.
Dalam ibadah, istiqomah adalah hal yang penting, bahkan suatu peribahasa islam, juga mengatakan bila “1 keistiqomahan lebih baik dari 1000 karomah, hal itu juga dapat diartikan bila suatu proses, lebih mulya dan berharga. Dan suatu keajaiban atau kemulyaan adalah hasil dari suatu usaha yang konsisten.
Perihal budaya konsistensi, sikap konsistensi tidak hanya dipelajari dalam islam loh, konsistensi lahir dari pelbagai pandangan manusia dan agamanya. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan tentang istiqomah dalam hal apapun, begitu pula kristus, menurut ajaran nasrani juga mencontohkan tentang perihal konsistensi.
Siapa yang tidak mengenal peribahasa “Sedikit demi sedikit, lama lama jadi bukit”. Peribahasa ini sudah lama membumi di khalayak umum. Dalam mempelajari apapun, bahkan seluruh seluk-beluk kehidupan, harus konsisten. Termasuk konsisten mencintaimu ~
Sebelum jadi pria punya selera, harus jadi lelaki punya konsistensi. Jangan cuma ahli berencana, tapi tak pernah konsisten pada apa yang direncakan. Yang suka berencana itu biar Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) saja.
Sikap konsisten tidak dapat diremehkan. Bahkan kita dapat membelah gunung sekalipun, bila menghendaki mengikisnya dengan jarum sekalipun. Ini keramatnya sikap konsisten yang tak akan dimiliki mereka yang plin-plan dan ahli berencana belaka, tapi tak pernah eksekusi.
Kualitas hidup seseorang juga dapat dilihat dari sebagaimana seseorang konsisten pada prinsipnya. Apapun yang ia hadapi, ia harus mampu mengambil hikmah dalam situasi dan kondisi. Sehingga prinsipnya hanya tak sekedar perlakuan yang dijalankan, namun juga pembelajaran yang terus dikaji, sebagai amanah dalam hidup.
Sebelum jadi pria matang dewasa yang siap diunduh (mantu), seorang lelaki harus punya sikap konsisten pada perihal positif. Sebab selera harus dijaga, dan konsistensi harus dipelihara.
Jangan cuma punya selera tapi tak konsisten mencintainya, itu namanya plin-plan. Punya selera harus dijaga. Pria punya selera, lelaki punya konsistensi.
Kita telah banyak mendengar cerita orang orang, dalam belajar, mengembangkan bakat, bahkan meraih kesuksesan. Jerih payahnya dalam menyikapi hal-hal kecil, hingga menjadi suatu hal yang besar, tak giming-giming.
Jadi, lelaki jangan cuma hobi ngerokok, tapi harus hobi merenung dan tahu makna hakikat dari proses merokok. Sehingga merokok tak hanya sekadar bermain api, tapi juga sebuah seni mengendalikan marabahaya dan api.
Pria punya selera, lelaki punya konsistensi. Selera pada hal-hal baik nan bermanfaat, dan konsisten menjaga, mengamalkan, dan menumbuh-kembangkannya.








