Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Raja Baletung dan Spirit Ekologi Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
11/06/2025
in Cecurhatan, JURNAKULTURA
Raja Baletung dan Spirit Ekologi Bojonegoro

Mata Air Sotasrungga (Jurnaba)

Menauladani spirit ekologis Raja Dyah Baletung dalam mengelola Sumber Daya Alam Bojonegoro.

Medang Kamulan, Kerajaan kuno yang membentang di Blora (Jawa Tengah) dan Bojonegoro (Jawa Timur), sejauh ini hanya dikenal dari perspektif folklore dan legenda. Padahal keberadaannya masyhur sebagai pilar yang melahirkan banyak Kerajaan Jawa.

Negeri Kuno Medang Kamulan, tentu mengingatkan kita pada kawasan Bale Lantung — lintasan Bengawan berpagar Kendeng yang diberkahi entitas alam minyak bumi. Sementara kawasan Bale Lantung, akan mengingatkan kita pada tokoh legenda Baletung.

Dalam khazanah lokal, Baletung dikenal sebagai lelaki yang mampu mengubah lahar api membahayakan, menjadi lengo bumi yang penuh kebermanfaatan. Dulu, masyarakat lokal menjadikan kisah ini sebagai dongeng pengantar tidur bagi anak-anak mereka.

Baca Juga: Bale Lantung, Mercusuar Peradaban Kuno 

Legenda Baletung memang tak populer. Sebab, berdiri sebagai kearifan lokal. Ia dikenal di sebagian wilayah seperti Malo, Trucuk, Kasiman, dan Padangan. Legenda Baletung hidup di sudut sempit peradaban, dan mendekati punah karena tak pernah lagi diceritakan.

Dalam sejumlah kondisi, legenda merupakan sedimentasi fakta sejarah. Baletung dan Bale Lantung, tentu punya relasi historis dalam kaidah periode zaman. Meski yang menceritakannya telah tiada, namun alam dan SDA-nya tetap dan tak pernah berubah.

Jejak Ilmiah 

Dari perspektif ilmiah, kawasan Bale Lantung tentu bagian penting Kerajaan Medang abad 10 M. Sementara figur Baletung dari legenda lokal itu, mengingatkan kita pada figur Rakai Watukura Mahasambhu atau Raja Dyah Balitung, penguasa Medang periode (898-910 M).

‎Data historis yang bisa dijadikan pijakan ilmiah, tentu saja Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M), yang secara tekstual maupun kontekstual, menyebut dan membahas kawasan perbukitan “kapur” di sepanjang lintasan sungai Bengawan itu. Dua prasasti ini, adalah dokumen yang pernah dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Dyah Baletung.

Telan, Peradaban Sungai yang hilang (sumber: Peta Raffles, 1817).

Maharaja Dyah Baletung merupakan tokoh historis yang menjadi penguasa Kerajaan Medang pada periode (898 – 910 M). Kebesaran Sang Maharaja, bukan sekadar diceritakan dongeng, tapi tertoreh sejak ribuan tahun silam melalui sejumlah prasasti yang dia rilis.

‎Para Pinisepuh berpesan, setiap kali memandang sejarah, harus mengunduh ibrah. Sebab, sepantasnya syajaroh (pohon) memiliki buah (biji). Dan buah (biji) dari sejarah, adalah ibrah (pelajaran) logis untuk hari ini. Bagi masyarakat Jipang (Bojonegoro), metode demikian adalah prinsip yang diajarkan secara turun temurun.

‎Dalam buku Peradaban Nggawan Bojonegoro (2025), penulis menjelaskan cukup detail tentang titik penting yang disebut prasasti, dan masih ada hingga kini. Selain itu juga jejak ilmiah Raja Dyah Baletung dalam berbagai aspek di wilayah Bojonegoro. Baik dalam aspek pemerintahan, aspek partisipasi masyarakat, maupun bidang keberpihakan ekologis dalam pengelolaan Alam.

‎Spirit Ekologis Raja Dyah Baletung

Raja Baletung dikenal sebagai Maharaja Jawa yang punya kedekatan positif pada masyarakat kecil, memberi apresiasi pada Para Begawan yang berjasa bagi kehidupan sosial, serta memberi atensi pada bermacam Sumber Daya Alam berada di Lintasan Nggawan berpagar Pegunungan Kendeng itu.

Baca Juga: Ekspedisi Sotasrungga, Tafakuran Mata Air dan Pohon Raksasa

Jika pada Prasasti Telang menyebut nama Telang dan Sotasrungga, pada Prasasti Sangsang menyebut Pagerwesi dan Sima Pungpungana sebagai kawasan-kawasan penting. Ke-empat titik terhubung sebagai satu ekosistem peradaban Bengawan Lembah Kendeng. Titik-titik yang berdekatan itu, sampai kini tak banyak berubah.

Telang, Peradaban Sungai yang hilang (sumber: Peta Leiden, 1870)

Memang banyak kebijaksanaan sosial yang bisa ditauladani dari sosok Raja Dyah Baletung ini. Sejumlah tauladan ekologis bisa kita lihat dari Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M). Dua prasasti ini dikeluarkan tak berselang lama. Prasasti Sangsang semacam penegas dari Prasasti Telang.

Pada Prasasti Telang, kita bisa melihat kecenderungan itu pada baris ke-11 (plat B) yang berbunyi: [manganamanam. manggula manghapu ityevamndi. kapua ya tribhagan]. Damais (1955) dan Sarkar (1971) mengartikannya: [ … pembuatan anyaman bambu, pembuatan gula, hingga pembuatan batu kapur.. ].

Dalam bagian Prasasti Telang itu, disebut sejumlah kegiatan msyarakat yang berhubungan dengan pemanfaatan aset kearifan alam. Di antaranya; bambu, tebu (aren), dan kapur. Ketiga entitas tersebut, tentu masih identik dengan kawasan yang dikenal sebagai lembah berpagar perbukitan kapur ini.

Sementara pada Prasasti Sangsang, tepatnya pada baris ke-5 (bagian verso), terdapat kalimat berbunyi: [manganammanam. manggula manghapu ityaivamadi. kapua ya tribhagan], yang oleh Damais (1959) dan Sarkar (1971) diartikan: [..pembuatan anyaman bambu, pembuatan gula, hingga pembuatan batu kapur..].

Bagian Prasasti Sangsang tersebut, mirip dengan Prasasti Telang. Bahkan cenderung sama. Sebab, keduanya dirilis Raja Dyah Baletung tak berselang lama. Hanya selisih 4 tahun. Komoditas yang disebut pun sama: bambu, tebu (aren), dan kapur yang amat identik dengan Bale Lantung.

Dari Prasasti Telang (903 M) maupun Prasasti Sangsang (907 M), kita bisa ketahui bahwa bukit Pegunungan Kapur tak pernah mengalami banyak perubahan. Ia tetap ada. Dan selalu berada di dekat Nggawan sebagai pilar penjaga peradaban.

Menauladani Spirit Ekologis

Secara ilmiah, keberpihakan ekologis Raja Baletung, bisa dilihat atas perhatiannya pada kondisi alam yang dia catat dalam prasasti di atas. Dan saat Raja Baletung memberi hadiah untuk Pu Yayak Pagerwesi dan Pu Kalang Sima Pungpunana, merupakan bukti otentik atas kepedulian itu.

Bukan kebetulan jika dalam khazanah lokal, Baletung dikenal sebagai lelaki yang mampu mengubah lahar api membahayakan, menjadi lengo bumi yang penuh kebermanfaatan. Dan kisah lokal itu, memiliki makna semiotika  sebagai “ageman ekologis“, bagi masyarakat Bojonegoro hari ini.

Tags: Buku Peradaban NggawanKERISKELOKAMakin Tahu IndonesiaMata Air BojonegoroSpirit Ekologi Raja Baletung
Previous Post

Fragmen Hujan, Setetes Air Mata di Kedai Kopi (3)

Next Post

Keren! Prodi PAI Unugiri Memperoleh Akreditasi Unggul

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: