Di bulan Ramadhan, seseorang bisa menjadi khalifah yang menulis kitab dengan tinta kesabaran, sekaligus sufi yang membacakan ayat-ayat cinta pada semesta alam.
Di antara debu-debu sejarah Islam yang berkelana, terukir nama Imam asy-Syafii—sosok laksana bintang gemilang di langit keilmuan Islam. Lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H (767 M), Bumi yang kini merintih dalam nestapa, namun dulu menjadi saksi kelahiran seorang pencerah peradaban Islam. Ayahnya wafat ketika ia masih belia, dua tahun usianya, meninggalkan sang ibu—seorang perempuan keturunan Rasulullah Saw.—dengan beban hidup yang menggunung.
Namun, dari rahim kesulitan, tumbuh benih kesalehan. Ibunya memilih berhijrah ke Makkah al-Mukarramah, Kota Suci yang kelak menjadi gerbang ilmu bagi sang anak. Di pelataran Ka’bah, di bawah langit yang sama yang pernah memayungi Nabi Ibrahim a.s., asy-Syafii kecil menghabiskan ramadhan-ramadhan awalnya.
Lantunan ayat Alquran dari para ulama Masjidil Haram menggema di telinganya, meresap ke dalam kalbu, membentuk jiwa yang haus akan hikmah. “Aku ingat betul,” kelak Imam asy-Syafii bercerita kepada murid-muridnya, “Ibuku membangunkanku di kegelapan malam Ramadhan untuk melaksanakan Shalat Tahajjud. ‘Anakku. Ilmu adalah cahaya,’ bisiknya, ‘dan cahaya itu hanya untuk mereka yang rela berjaga dalam gelap.’” Kata-kata itu menjadi motivasi yang mengiringi setiap langkahnya menuntut ilmu.
Di usia 20 tahun, jiwa pengembaraan asy-Syafii muda membawanya ke Madinah al-Munawwarah—Kota Nabi yang damai. Di sana, di Kota Nabi, Imam Malik bin Anas, sang pemilik al-Muwaththa’, menjadi mercusuar yang menuntunnya. Ramadhan di Madinah, ternyata, bukan sekadar puasa dan Shalat Tarawih. Madinah adalah sekolah tafsir, tadarus, dan tazkiyatun nafs.
Suatu malam, di tengah heningnya Masjid Nabawi, Imam Malik bertanya kepada asy-Syafii muda yang duduk menundukkan kepala di hadapannya, “Muhammad. Apa yang engkau cari dalam ilmu?”
“Ridha Allah, Tuan Guru,” jawab asy-Syafii muda. Dengan tenang.
“Jika niatmu tulus, Allah Swt. akan membentangkan jalan ilmu sepanjang langit,” ucap Imam Malik. Dengan senyum mengembang di wajahnya.
Di Kota Nabi ini pula, asy-Syafii muda mengisi malam-malam Ramadhan dengan tadarus Alquran yang menghunjam kalbu. “Aku pernah khatam Surah Al-Baqarah dalam satu rakaat Shalat Tahajjud,” kenangnya. “Saat itu, seolah cahaya menyelimuti jiwaku—cahaya yang tak pernah padam.”
Perjalanannya berlanjut. Di Kufah, beliau menyelami Metode Ijtihad ulama Irak. Di Syam, beliau merenungi perbedaan pendapat sambil menjaga kemurnian hati. Di Yaman, beliau mengajar dan menulis, merangkai kata-kata yang kelak menjadi pilar hukum Islam. Ketika di tengah perjalanan menuju Yaman ini, seorang sufi sepuh berpesan kepadanya, “Ilmu tanpa amal adalah pohon tanpa buah.” Kalimat itu mengkristal dalam jiwanya.
Di Yaman pula, Ramadhan menjadi bulan produktif: Imam asy-Syafii mulai menulis al-Risâlah, mahakarya yang mengubah wajah Ushul Fikih. “Ramadhan adalah bulan merajut diri dan mendekat kepada Ilahi,” pesannya kepada murid-murid. “Jangan sia-siakan detik-detiknya!”
Tahun 198 H (814 M), di tepian Sungai Nil yang membisikkan hikmah, kaki Imam asy-Syafii akhirnya berlabuh. Berlabuh di negeri yang nyaris senantiasa dipendari matahari terik, namun disirami kesuburan ilmu. Tahun 198 Hijriah itu menjadi saksi: sang pengembara ilmu itu kini telah menjelma menjadi samudera pengetahuan yang mengalir ke seluruh penjuru.
Wajahnya teduh, jubahnya sederhana, namun aura keagungannya memancar laksana cahaya fajar di gurun. Mesir—dengan piramida-piramida yang bisu menyimpan rahasia zaman—menyambutnya sebagai Tuan Guru sekaligus murid abadi.
Di sini, di Negeri Piramida ini, di antara debu kitab dan gemersik pena, Ramadhan menjadi bulan yang dirajut Imam asy-Syafii dengan dua benang suci: tadarus dan tadwin (menulis). Malam-malamnya terbagi antara sujud panjang di mihrab dan duduk bersila di atas tikar papirus, merampungkan al-Umm— mahakarya fikih yang kelak menjadi rujukan jutaan umat—serta menyempurnakan al-Risâlah, magnum opus-nya yang mengukuhkan fondasi Ushul Fikih.
Di bawah lampu minyak yang berkedip-kedip, tangannya menari di atas lembaran perkamen, seolah menulis dengan tinta yang dicelupkan ke dalam cahaya langit.
Suatu senja, melihat ketekunan menulis Imam asy-Syafii, seorang murid bertanya, “Tuan Guru. Mengapa engkau begitu gigih menulis di bulan Ramadhan?” Beliau menjawab dengan kedua mata berbinar, “Karena Ramadhan adalah bulan wahyu pertama turun. Aku ingin tulisanku menjadi saksi, bahwa ilmu adalah ibadah yang tak kenal waktu lapar atau kenyang.”
“Ramadhan di Mesir mengajariku bahwa ilmu sejati itu bagaikan kurma: manisnya takkan terasa kecuali setelah kalian pecahkan kulit kesombongannya,” suatu kali Imam asy-Syafii berujar kepada murid-muridnya yang duduk melingkar selepas lelah menulis.
Kalimat itu menggambarkan kesederhanaannya: meski namanya harum dari Yaman hingga Baghdad, namun beliau tetap duduk bersahaja di sudut masjid, membagi ilmu tanpa sekat.
Berkenaan dengan bulan yang penuh berkah ini, Sang Imam tak hanya mengajar tentang fikih shaum, namun juga filsafat di baliknya, “Puasa Ramadhan bagaikan mengukir patung dari batu nafsu. Setiap pahatan lapar dan dahaga adalah upaya mengubah diri menjadi mahakarya takwa.”
Beliau juga mengingatkan, “Ketika engkau menahan diri dari sepiring kurma, ingatlah saudaramu yang hanya kuasa memandanginya di pasar. Ramadhan mengajarimu: kepedulian adalah buah manis dari pohon puasa.”
Di sisi lain, setiap sepertiga malam terakhir, Imam asy-Syafii senantiasa membangunkan diri dari tidur singkatnya. Air wudhunya dingin, membasuh wajahnya yang mulai berkerut oleh usia. Selepas itu, di pelataran Masjid Amr bin al-Ash, suaranya yang bening dalam melantunkan Alquran, seakan berdialog dengan bintang-bintang, “Aku kerap membaca Surah Yasin dalam dua rakaat Shalat Tahajjud,” tuturnya suatu hari, “dan seolah ayat-ayat itu meneteskan embun yang menghidupkan kembali hati yang layu.”
Tahun 204 Hijriah (820 Masehi), sang matahari terbenam pelan. Di usia 54 tahun, Imam asy-Syafii berpulang. Bukan sebagai penduduk Mesir. Namun, sebagai warisan seluruh peradaban Islam. Makamnya di Kairo, kini, menjadi tempat ziarah para pencari ilmu, tempat mereka berbisik, “Di sini, terbaring seorang Tuan Guru yang mengajarkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Namun, tentang melahirkan diri kembali bagaikan ulat yang menjadi kupu-kupu di musim semi.”
Hingga kini, karya-aryanya, al-Umm dan al-Risâlah, tetap hidup di hati orang-orang yang haus akan kebenaran. Namun, sejatinya, warisan terbesarnya adalah teladan bahwa di bulan Ramadhan, seorang manusia bisa menjadi seorang khalifah yang menulis kitab dengan tinta kesabaran, sekaligus seorang sufi yang membacakan ayat-ayat cinta pada semesta alam.
Kini, selepas sang Imam tiada, apakah kita kuasa—seperti sang Imam—menjadikan setiap detik Ramadhan sebagai gerbang menuju langit ilmu dan amal? Ataukah kita masih terkurung dalam sangkar rutinitas tanpa makna. “Barangsiapa yang Ramadhan-nya tidak mengubah dirinya,” tulis sang Imam dalam sebuah pesan terakhirnya, “maka puasanya hanyalah dahaga yang tak pernah sampai pada mata air.”
Wallâhu a’lam bish-shawâb.








