Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tengah merevitalisasi Alun-Alun Bojonegoro dan Taman Rajekwesi. Kabar ini tentu patut diapresiasi. Ruang publik nyaman merupakan penanda kota berpihak pada kualitas hidup warga. Namun, ada satu pertanyaan yang layak diajukan: hanya indah atau hidup?
Sering kali keberhasilan sebuah ruang publik diukur dari desain yang modern, taman yang rapi, atau lampu-lampu yang mempercantik suasana malam. Padahal, keindahan hanyalah satu aspek. Sebuah ruang publik baru benar-benar berhasil ketika mampu menjadi tempat orang bertemu, berinteraksi, belajar, berkarya, dan membangun rasa memiliki terhadap kotanya.
Dalam tradisi kota-kota di Indonesia, alun-alun bukan sekadar hamparan ruang terbuka. Ia res publica: ruang milik bersama, titik temu lapisan masyarakat. Anak-anak bermain, keluarga menghabiskan waktu, pelaku UMKM mencari penghasilan, komunitas berkegiatan, hingga seniman menampilkan karya. Semua hadir dalam ruang yang sama.
Karena itu, revitalisasi alun-alun seharusnya tidak hanya menghadirkan wajah baru, tetapi juga menghadirkan fungsi baru yang lebih inklusif.
Salah satu gagasan yang layak dipertimbangkan adalah menghadirkan Panggung Komunitas. Sebuah panggung sederhana yang dapat digunakan secara gratis melalui mekanisme pendaftaran. Setiap akhir pekan, panggung ini dapat menjadi ruang bagi komunitas musik akustik, pembacaan puisi, pertunjukan tari, teater, diskusi publik, hingga pameran karya anak muda Bojonegoro. Kehidupan kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung megah, tetapi juga oleh ruang yang memberi kesempatan bagi warganya untuk berekspresi.
Selain itu, alun-alun juga dapat dilengkapi dengan Pojok Baca. Sebuah perpustakaan mini atau rak buku terbuka dengan tempat duduk yang nyaman di bawah pepohonan. Bayangkan seorang pelajar yang menghabiskan sore dengan membaca buku, seorang ayah yang membacakan cerita untuk anaknya, atau mahasiswa yang berdiskusi sambil menikmati ruang terbuka. Pemandangan seperti itu mungkin tampak sederhana, tetapi justru di situlah budaya literasi tumbuh secara alami.
Bojonegoro memiliki banyak komunitas dengan potensi besar. Ada komunitas seni, sastra, fotografi, musik, pegiat literasi, hingga berbagai organisasi kepemudaan. Sayangnya, tidak semua memiliki ruang yang mudah diakses untuk menyelenggarakan kegiatan. Akibatnya, banyak aktivitas komunitas berlangsung secara terbatas atau berpindah-pindah tempat. Revitalisasi alun-alun dapat menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.
Pada akhirnya, kota yang baik bukanlah kota yang hanya memiliki ruang publik yang indah. Kota yang baik adalah kota yang menyediakan ruang bagi warganya untuk bertumbuh. Ruang yang tidak hanya mengundang orang untuk datang, tetapi juga membuat mereka ingin kembali karena selalu ada aktivitas, karya, dan perjumpaan yang menghidupkannya.
Revitalisasi Alun-Alun Bojonegoro adalah kesempatan yang tidak datang setiap tahun. Akan sangat disayangkan apabila kesempatan ini hanya menghasilkan ruang yang cantik untuk dipotret, tetapi belum mampu menjadi rumah bagi kreativitas masyarakatnya.
Sudah saatnya kita membangun alun-alun yang bukan hanya menjadi ikon keindahan kota, melainkan panggung bersama bagi seluruh warga Bojonegoro.








