Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
21/09/2026
in JURNAKULTURA
Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

Blandhong Mutawakilun: Penjaga Rimba dari Bojonegoro

Ratusan tahun sebelum The Nature Conservancy (TNC), Rainforest Alliance, maupun Greenpeace lahir ke dunia, mereka telah berdiri tegak melindungi hutan dan sumber penghidupan manusia.

Pada 1810 M, lima belas tahun sebelum Perang Jawa dimulai, hutan jati sudah menjadi medan juang. Daendels membangun kuasa kolonial di Jawa. Jalan raya dibentangkan. Infrastruktur dikebut. Kayu jati dibutuhkan dalam jumlah besar. Dan hutan jati di wilayah Mancanegara Yogya, jadi sasaran utama.

Dari semua wilayah Mancanegara Kesultanan Yogyakarta, ada tiga kawasan yang menolaknya. Ketiganya adalah Madiun, Jipang Padangan (Bojonegoro), dan Jipang Panolan (Blora). Tiga kawasan ini bukan sekadar nama. Di dalamnya terdapat hutan jati, jalur niaga, serta nilai luhur yang terus dijaga.

Jipang (Blora dan Bojonegoro) merupakan wilayah bertuah yang sejak lama dihormati dan dikeramatkan para pendiri Mataram. Kawasan ini diberkahi hutan jati purba, cagak spiritual yang terus dijaga. Di tempat ini, Wanareksa (menjaga rimba) menjadi tradisi yang diwariskan lintas zaman.

Peta Jawa Utara: Kosmik Penjaga Ekologi

Ketika akses hutan hendak dikendalikan, yang terusik bukan hanya bupati, namun ekosistem penghidupan. Dan di sanalah Raden Ronggo Madiun, Raden Sumonegoro Padangan, serta Raden Notowijoyo Panolan berupaya memperjuangkan.

Tiga bupati tersebut berhubungan genealogis dengan para pejuang di masa sebelumnya. Raden Ronggo adalah cucu Kiai Wirosentiko Madiun. Raden Sumonegoro Padangan adalah cucu Kiai Tjarangsoko Malangnegoro. Raden Notowijoyo Panolan adalah cucu Kiai Notowijoyo Sepuh.

Kakek mereka adalah para pejuang Giyanti. Pada masa Perjanjian Giyanti (1755), Kiai Wirosentiko, Kiai Malangnegoro, dan Kiai Notowijoyo Sepuh kerap berkonsolidasi dengan Kiai Tatron dan Kiai Tamid di Kasepuhan Padangan — tempat di mana penjagaan terhadap alam, adalah kompas moral sekaligus laku tauhid.

Baca juga: Kiai Tatron, Alkemis yang Mengubah Kayu menjadi Emas 

Raden Ronggo, Raden Sumonegoro, dan Raden Notowijoyo tidak muncul dari ruang kosong. Ketiganya berafiliasi pada Kasepuhan Padangan, bertaut dengan Kiai Nursadin Kuncen dan Kiai Syahidin Oro Bogo, dua figur yang memiliki kedekatan dengan para Blandhong Mutawakilun.

Dwimurti Wanareksa Jati 
Tiga hari setelah menulis surat kecaman untuk Kasunanan Surakarta dan Belanda, Raden Ronggo meninggalkan Yogyakarta pada malam 20 November 1810. Surat itu memang tidak pernah sampai. Namun isinya jelas: ia hendak menyingkirkan kotoran dari Tanah Jawa yang dibawa Sunan Surakarta dan Daendels.

Raden Ronggo pulang ke Maospati dengan membakar pos gerbang di sepanjang jalan, lalu mengetuk pintu para bupati Mancanagara Yogya untuk membantunya, namun semua bupati itu justru lari, mengamankan diri, dan menutup pintu. Yang membuka diri hanya Raden Sumonegoro, bupati Padangan, sahabat kecilnya. Raden Notowiijoyo, bupati Panolan, tak berani mendukung, namun berempati dengan memberi pasukan.

Walhasil, hanya Raden Ronggo dan Raden Sumonegoro yang secara lantang melawan intruksi Daendels atas monopoli kayu jati. Mereka berdua membela rakyat kecil dan mengumandangkan perlawanan, didukung jaringan Blandhong Mutawakilun dari Jipang, Lasem, Tuban, dan Sidhayu. Raden Ronggo dan Raden Sumonegoro tentu menghadapi banyak musuh.

Blandhong Mutawakilun:  penjaga rimba dari Jipang (Bojonegoro).

Selain pasukan Daendels, mereka juga harus menghadapi Londo Jowo seperti Yudakusuma (Bupati Wirasari), Pringgakusuma (Bupati Tulungagung), Mangundirana (Bupati Kalangbret), Sasranegara (Bupati Grobogan), Sasrakusuma (Purwodadi), Purwadipura (panglima ekspedisi Yogya), Adipati Cakranagara Surakarta, serta mata-mata Surakarta bernama Wangsataruna.

Pada malam, 16 Desember 1810, komandan militer Lucas Leberverd memimpin pengejaran. Di belakangnya ikut serta rombongan para bupati Londo Jowo. Mereka semua mengejar rombongan Raden Ronggo dan Raden Sumonegoro, menyisir Mancanegara Yogya, menuju Jipang Sekaran (Balen).

Kumandang Juang Wanareksa Jati 
Pada pagi, 17 Desember 1810, di dekat sungai Bengawan Jipang Sekaran, pasukan Lucas Leberverd tiba. Sebagian besar rombongan Raden Ronggo semebyar menyelinap ke hutan. Di lokasi, hanya tinggal Raden Ronggo, Raden Sumonegoro, Patih Puspadiwirya, dan para pembawa panji. Dan baku tembak pun tak terhindari.

Rute perjuangan Raden Ronggo Madiun dan Raden Sumonegoro Padangan (De Graaf).

Di tengah baku tembak, Yudakusuma Wirasari yang berada di barisan Leberveld, menanyakan apa keinginan rombongan Raden Ronggo. Dari kejauhan, sebuah jawaban bergema: “Kami tak ingin mencelakai orang Jawa, kami hanya ingin membersihkan mereka yang menjadi beban bagi orang Jawa dan orang Tionghoa di wilayah Mancanagara Yogya”.

Pasukan Leberverd maju ke depan. Raden Ronggo turun dari kudanya. Sumadiwirya, bupati magang Yogyakarta yang berada di belakang Leberverd, tiba-tiba merangsek ke depan, menghunus parang, melukai dada Raden Ronggo. Kemudian Leberveld memerintahkan infanteri untuk segera menghabisinya.

Raden Sumonegoro yang berada di dekat Raden Ronggo, ditembak dari jauh menggunakan senapan sumbu oleh Yudakusuma Wirosari, dan ditikam dari jarak dekat oleh anak buah Yudakusuma sampai gugur. Sementara Patih Puspadiwirya yang terluka, berhasil kabur bersama para pembawa payung dan panji.

Jipang Sekaran: pinggir sungai Bengawan, lokasi gugurnya Raden Ronggo Madiun dan Raden Sumonegoro Padangan (De Graaf)

Dua jam pasca Raden Ronggo dan Raden Sumonegoro gugur, sejumlah bupati yang sebelumnya ketakutan, mulai bermunculan. Mereka Sasradiningrat (Jipang Rajegwesi), Prawirasentika (Jipang Bauwerna), Natadiwiria (Jipang Dhuri), dan Prawirayuda (Jipang Pasekaran). Jenazah keduanya dimandikan di sungai Sekaran, dikafani kain putih, dan dibawa ke Jogjakarta.

Pepohonan jati di sepanjang jalan seakan menyaksikan. Di sesela dedaunan, wirid ilahiah para blandhong mengalir pelan, mengawal iring-iringan dua jenazah itu ke arah selatan. Pohon dan tanah merekam jejak yang tak sempat dicatat. Mereka menjadi saksi dan berumpah: kematian dua tokoh ini adalah hulu ledak dari kuwalat siatematis yang akan menghantui Londo Jowo.

Kumandang Juang Ronggo-Sumonegoro: Simpang Pangarukan, gerbang utara Alun-Alun Lor Yogyakarta

Pada 21 Desember 1810, jenazah Sang Dwimurti Wanareksa tiba di Yogyakarta, ditempatkan dalam keranda terbuka, digantung di Simpang Pangurakan, sisi utara gerbang Alun-Alun Lor Yogyakarta. Tujuannya untuk dipertontonkan pada masyarakat sebagai pemberontak.

Suara yang Terus Bergema
Diponegoro muda menyaksikan itu semua. Dadanya bergolak. Tubuhnya bergetar. Matanya menampung gelombang yang tak terbendung. Di hadapannya, dua tokoh yang sangat ia hormati, terkapar dalam kebisuan. Sejak hari itu, diam-diam, dada Diponegoro ditumbuhi segumpal bara. Kelak, bertahun-tahun kemudian, bara itu menemukan jalannya.

Raden Ronggo Madiun adalah ayah Sentot Ali Basya. Raden Sumonegoro Padangan adalah ayah mertua Kiai Modjo. Maka sudah keniscayaan ketika kelak, lima belas tahun kemudian, mereka menggalang perlawanan yang lebih sistematis untuk menggemakan tujuan yang sama: Membersihkan kotoran yang menjadi beban orang Jawa.

Kisah Wanareksa Jati menunjukan secara sahih bahwa ratusan tahun sebelum The Nature Conservancy (TNC), Rainforest Alliance, dan Greenpeace lahir ke dunia, Raden Ronggo Madiun, Raden Sumonegoro Padangan, serta jaringan Blandhong Mutawakilun telah berdiri tegak, melindungi hutan dan sumber penghidupan manusia.

 

Tags: Blandhong MutawakilunDwimurti Wanareksa JatiMakin Tahu IndonesiaPejuang EkologisPenjaga Rimba BojonegoroSang Wanareksa
Previous Post

Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

Next Post

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

BERITA MENARIK LAINNYA

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

29/09/2026

Anyar Nabs

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

Menghayati Siklus Abadi Bengawan Solo: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

Pria Menulis demi Membayar Tangis, Siasat Bertahan di Dunia yang Patriarkis

13/10/2026
Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

Aku Ingin Pesan Seporsi Kasih Tanpa Keraguan

11/10/2026
Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

Peringatan Hari Tani, Bupati Bojonegoro Ingin Wujudkan Lumbung Pangan

10/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: